Memory Hotel

“Hotel ‘Memory’?” tanyaku, membeo kata-kata Audrey sesaat sebelumnya.

“Iya, iya. Itu namanya,” jawab Audrey. “Kalau kalian cukup beruntung untuk diizinkan menemukan hotel itu, kalian akan lihat papan nama hotelnya di depan gedungnya, dan tulisannya persis seperti itu, ‘Memory’,” kata Audrey menjelaskan seraya mengangkat kedua tangannya dan menaik-turunkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan, sebuah isyarat untuk menyatakan tanda kutip, ketika ia menyebut kata ‘beruntung.’

Kualihan pandanganku pada sahabatku, Yalena, yang sedang duduk disampingku. Pandangannya terlihat kacau. Aku sendiri kesulitan untuk mendeskripsikannya. Perasaan Yalena, sahabatku yang berambut bop lebat dan ikal itu terlihat bercampur-aduk di matanya. Sedih, marah, kecewa, takut.

“Jadi, maksudmu, tidak semua orang dapat menemukan hotel itu, Drey?” Yalena akhirnya membuka suaranya.

“Tidak,” jawab Audrey cepat dan singkat. Dengan cepat pula ia lantas melanjutkan, “kalian coba saja. Kalian buka aplikasi google maps di ponsel kalian, dan ketikkan ‘hotel memory’ di kolom pencarian.”

Nyaris secara bersamaan, aku dan Yalena mengeluarkan ponsel kami dari saku, dan langsung membuka aplikasi google maps kami disana. Mengetikkan ‘hotel memory’ di kolom pencarian, dan menunggu prosesnya selesai.

Kosong.

Antarmuka hasil pencarian google maps di ponselku tidak menampakkan apapun.

Kembali kualihkan pandanganku dari layar ponselku ke sahabatku yang duduk di sampingku. Kulihat ia juga tengah menoleh ke arahku. Lalu perlahan, ia memutar posisi tangan kanannya yang memegang ponsel sehingga aku dapat melihat layar ponselnya. Jujur saja, apa yang kulihat pada antarmuka hasil pencarian google maps di ponsel Yalena ada di luar dugaanku. Antarmuka google maps di ponsel Yalena menampakkan sebuah hasil pencarian, lokasi, lengkap dengan koordinat dan informasi pencarian lainnya. Terbaca jelas satu-satunya nama lokasi yang terpampang di layar ponselnya: Hotel Memory.

Selama ini aku mendengar tentang Hotel Memory dari Audrey dan beberapa orang lain di Internet, kupikir hotel itu hanya lelucon murahan saja.

Sebuah hotel mistik yang menyimpan semua kenangan-kenangan yang pernah kau alami sepanjang hidupmu dalam format keping-keping DVD, yang dapat kau tonton, modifikasi, atau bahkan jika kau inginkan, dapat kau hilangkan dari ingatanmu. Kau tahu, banyak orang memiliki kenangan buruk dari masa lalu yang mempengaruhi kehidupan mereka di masa depan. Tanpa kenangan-kenangan buruk itu, kehidupan mereka seharusnya akan menjadi lebih mudah untuk dijalani. Atau setidaknya, begitulah yang mereka yakini.

Terlalu fantasi untuk menjadi sesuatu yang nyata.

“Vigo!” Audrey tiba-tiba memanggilku, mengalihkanku dari lamunanku. Kualihkan kembali pandanganku ke depan, ke sofa dimana Audrey duduk. Gadis cantik yang rambut panjangnya diikat kucir kuda itu memperlihatkan layar ponselnya padaku. Antarmuka google maps, dengan hasil pencarian atas kata kunci ‘hotel memory.’ Kosong. Tidak ada hasil apapun. Sama seperti yang nampak di layar ponselku.

“Lalu bagaimana kau…,” aku hendak bertanya pada Audrey, yang nampaknya langsung tahu apa yang hendak kutanyakan, karena dengan cepat ia memotong pertanyaanku dengan jawaban darinya. “Temanku,” sahutnya, “dia juga memintaku menemaninya ke hotel itu. Ada kenangan yang begitu ingin ia modifikasi.”

“Siapa yang diizinkan untuk menemukannya, dan siapa yang tidak, ditentukan oleh apa?” tanya Yalena dengan penuh tanda tanya.

“Entahlah, Yal,” jawab Audrey, “aku sempat menanyakan pada petugas resepsionis di hotel itu, satu-satunya manusia… Atau yang kelihatan seperti manusia, yang kulihat disana. Ia juga tidak tahu jawabannya. Atau ia berbohong soal itu. Entahlah. Yang jelas akupun tidak punya jawaban atas pertanyaanmu itu.”

“Ada resepsionisnya disana?” tanyaku terkejut.

“Ada,” jawab Audrey lagi sambil tergelak, ia lalu menyeruput kopi susu hangat dari cangkir yang tergeletak di atas mejanya. “Resepsionis itu yang nantinya akan menjelaskan pada pengunjung hotel tentang tempat itu, apa dan bagaimana,” lanjutnya.

“Tapi, Drey,” tanyaku lagi, “Yalena ‘diizinkan’ untuk menemukan hotel itu, dan aku tidak. Apakah kalau aku menemaninya kesana, kami akan tetap bisa menemukan hotel itu? Dan, apakah aku juga dapat ikut memasukinya?”

“Bisa kok, Vig,” jawab Audrey sambil kembali mengunyah biskuit. “Aku waktu itu pergi kesana bertiga. Hanya satu dari kami yang dapat menemukan lokasi hotel itu di google maps, tapi kami semua dapat masuk ke hotel itu kok,” Audrey menjelaskan, “tapi memang, hanya mereka yang ‘diizinkan’ menemukan hotel itu yang juga dapat mengakses kenangan-kenangan mereka sendiri di dalamnya. Aku dan temanku satu lagi tidak dapat mengutak-atik apapun disana. Kami hanya dapat ikut melihat-lihat. Hanya temanku yang ‘diizinkan’ saja yang dapat melakukan apa yang ia inginkan dengan kenangan-kenangan itu disana.”

“Temani aku kesana ya, Vig,” kata Yalena padaku dengan pelan. Suaranya terdengar lirih dan samar. Ia menyampaikan kata-katanya dengan agak terbata-bata, dan pandangannya terkesan memohon. Sahabatku itu memang punya kenangan buruk yang, menurutnya, harus segera disingkirkannya dari kepalanya.

“Iya, iya,” jawabku cepat, “aku temani kamu kesana.”

Keesokan paginya, kami berdua sudah berada di dalam mobilku pada pukul dua belas siang, mengemudi menuju lokasi yang ditunjukkan oleh google maps di ponsel Yalena. Tidak banyak percakapan yang kami lalui sepanjang perjalanan. Kalau kau merasa perlu tahu, biasanya tidak demikian. Yalena biasanya adalah gadis yang ceria dan banyak berbicara. Ada sebuah alasan yang membuat sikapnya menjadi berubah. Alasan yang sama kenapa ia begitu bersikeras harus menemukan hotel mistik itu, Hotel Memory.

Yalena kehilangan ayah kandungnya ketika usianya masih sangat muda. Ayahnya meninggal karena sakit keras. Kira-kira sekitar dua tahun kemudian, ibu Yalena menikah lagi. Masalahnya adalah, ayah tirinya ternyata seorang pemabuk yang kasar. Aku tidak mengerti kenapa selama mereka berpacaran, ibunya tidak melihat potensi buruk itu. Terbutakan oleh cintakah? Yang jelas, akupun tidak mempertanyakannya. Maksudku, itu pertanyaan yang sensitif dan tidak sopan, betapapun aku merasa penasaran.

Sebelum ibu Yalena akhirnya memiliki keberanian untuk lari dari rumah dengan membawa Yalena yang ketika itu berusia lima belas tahun, kehidupan mereka disana sama sekali tidak menyenangkan. Yalena tidak menceritakannya padaku dengan detil, dan bukan posisiku untuk bertanya terlalu jauh, namun intinya, Yalena dan ibunya kerap mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh ayah tirinya. Hal itu terjadi nyaris setiap hari selama dua belas tahun kehidupan mereka.

Hal itu tentunya memberi Yalena trauma yang membekas cukup dalam. Dalam hal romansa, ia kesulitan untuk membuka dirinya. Ia takut akan mengalami hal yang sama lagi. Persahabatanku dengan Yalena pun tidak terjadi dengan mudah dan cepat. Banyak hal yang terjadi yang membuat ia akhirnya mau membuka dirinya padaku, sebagai seorang teman.

Tapi kemudian, ia menyadari bahwa ia tak bisa seperti itu terus. Pada akhirnya Yalena harus membuka diri pada laki-laki, terutama dalam hal romansa. Ia juga ingin menikah dan mempunyai anak. Hal yang sewajarnya diinginkan seorang wanita. Ketakutannya akan rumah tangga orang tuanya di masa lalu selalu menghantui pikirannya.

Setahun terakhir, Yalena mencoba untuk membuka diri pada laki-laki yang ingin menjadikannya pasangan hidup. Secara refleks, semua respon yang ia berikan atas sikap semua laki-laki yang mencoba mendekatinya itu membuat mereka merasa tidak nyaman dan justru malah kemudian menjauhinya. Semua itu akibat trauma atas kenangan buruk yang terpatri di dalam kepalanya. Sikap Yalena menjadi seperti seseorang yang bukan dirinya. Sikap yang ditunjukkannya buruk dan kasar. Semacam sebuah mekanisme pertahanan diri yang tanpa disadarinya ia perlihatkan untuk melindungi dirinya sendiri akibat trauma masa lalunya.

Dan Yalena tidak suka itu. Tapi, menurutnya, ia tak bisa mengendalikan sikapnya.

Dorongan sikap yang dipicu oleh faktor psikologis itu benar-benar bekerja seperti sebuah sistem refleks di tubuh manusia. Berkali-kali hal seperti itu terjadi, ia seperti mulai membenci dirinya sendiri.

Itulah yang mengawali bagaimana Yalena mencari jawaban atas semua masalahnya.

Awalnya, sudah tentu sesuatu yang basic, ia mencari tahu informasi yang dia butuhkan via mesin pencari Google. Tetapi hasil yang muncul semuanya terkait dengan jasa psikolog, hipnoterapis, dan semacamnya. Masalahnya, biaya untuk jasa-jasa itu tidak murah, dan Yalena tidak punya biaya sebesar itu. Sampai kemudian ia mendarat di sebuah website yang merupakan semacam website untuk sebuah social support group. Disana, ada sebuah thread yang menyebutkan tentang keberadaan Hotel Memory yang mistis itu. Yalena menceritakannya padaku, dan sewajarnya, aku awalnya menganggap hal aneh seperti itu hanyalah lelucon atau prank saja. Sampai kemudian kami melihat sebuah nama di dalam kolom komentar thread tersebut. Sebuah nama yang sangat familiar. Nama teman kami, Audrey.

Dengan serta merta, kami menghubungi Audrey, meminta penjelasan langsung dari teman satu kampus kami itu. Aku melihat Yalena tampak begitu putus asa. Ia merasa perlu mencoba melakukan solusi apapun yang dapat ia coba lakukan. Betapapun solusi itu konyol kedengarannya.

Meski Audrey sudah menjelaskan panjang lebar, aku masih tetap merasa perihal Hotel Memory ini adalah hal yang konyol. Aku masih yakin hotel itu hanyalah sebuah lelucon saja.

Bahkan faktanya, sampai saat dimana aku sudah menempuh perjalanan berjam-jam dengan mobilku, mengantar Yalena mencari hotel mistik itu, aku masih merasa keberadaan hotel aneh itu hanyalah lelucon saja. Aku masih sangat yakin kami tidak akan pernah benar-benar menemukannya. Tapi aku tidak bisa mengatakan tu pada Yalena, kan?

“Belok sini, Vig,” kata sahabatku itu memecah kesunyian diantara kami. Ia menunjuk sebuah jalan setapak yang kecil dan tidak diaspal, menjauh dari jalan utama. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Hari sudah mulai gelap.

Kualihkan pandanganku pada google maps di ponsel Yalena, dan kualihkan kembali pada jalan kecil di sisi kiri mobilku. Jalanan itu kecil dan sempit, tetapi masih bisa dilewati oleh mobil sedanku. Hanya saja memang akan butuh sedikit perjuangan jika kami harus harus berpapasan dengan kendaraan lain dari arah depan. Apalagi kalau kendaraan itu adalah sebuah truk.

“Kamu yakin, Yal?” tanyaku.

“Kata google maps sih begitu, Vig.”

Pikirku, jika memang perihal Hotel Memory ini hanyalah sebuah lelucon atau prank saja, alangkah baiknya bila kuselesaikan saja secepatnya. Segera menunjukkan pada Yalena bahwa hotel mistik yang menyimpan kenangan-kenangan manusia dalam format keping-keping fisik DVD itu tidak benar-benar ada. Lalu kami dapat segera pulang.

Kubelokkan mobilku kesana. Hari yang sudah gelap, ditambah dikedua sisi kiri dan kanan jalan kecil itu ditumbuhi pohon-pohon cemara yang tinggi, membuat suasanya saat itu semakin gelap. Aku nyaris tak dapat melihat apapun kecuali apa yang disenteri oleh lampu mobilku. Lalu, hal yang sama sekali tak kusangka-sangka terjadi. Beberapa meter di depan, aku melihat cahaya yang terang menyilaukan. Ketika tiba disana, kami berada di sebuah lapangan rumput berbentuk lingkaran. Rumput-rumputnya tinggi dan tak terawat. Ditengah-tengah lapangan itu, berdiri sebuah bangunan empat lantai dengan nuansa Art Deco. Bangunan itu sendiri terlihat kurang terawat. Kalau dibandingkan dengan hotel yang biasanya, mungkin seperti sebuah hotel backpacker kelas bawah. Murahan dan tidak terawat.

Di sisi kanan tembok bangunan itu, terpasang sebuah papan nama, dengan nama hotel itu terpampang diatasnya. Nama hotel itu tertulis diatas papan namanya secara vertikal, dari atas ke bawah: MEMORY.

Yang mencengangkanku adalah efek lampu yang dipasang pada papan namanya. Silau, berwarna-warni, dan berkelap-kelip. Serasa seperti efek lampu yang dipasang di bangunan-bangunan mewah perjudian di Las Vegas. Tampak kontras sekali dengan kondisi bangunannya dari luar. Bangunan yang tampak kumuh dan kurang terawat, dengan papan nama yang megah dan mewah.

“Hotelnya benar-benar ada, Vig,” gumam Yalena. Ia kelihatan terkesima dengan kemegahan lampu-lampu pada papan nama hotel itu.

Kami melangkah mendekati pintu masuk hotel itu, dan memasukinya menggunakan pintu yang berputar. Tidak seperti kesan bagian luarnya yang merupakan perpaduan kumuh dan mewah dengan cara yang aneh, bagian interior hotel itu lebih terkesan elegan dan minimalis.

Lebih mengejutkan lagi, bagian dalam hotel itu jauh lebih luas dibandingkan dengan ukuran bangunannya dari luar. Jika dari luar bangunan itu tampak seperti hotel backpacker kelas bawah yang kecil dan hanya memiliki empat lantai, di bagian dalamnya justru tampak seperti hotel mewah berbintang lima. Lobby hotel itu, yang segera kami lihat setelah melewati pintu berputar, sangatlah luas. Barangkali ada sekitar dua puluh meteran dari pintu masuk menuju meja resepsionis yang letaknya berada di ujung lain bangunan itu.

Kutengadahkan kepalaku ke atas. Ditengah-tengah bangunan itu terdapat sebuah atrium dimana kami dapat melihat ke lantai-lantai diatasnya. Meski dari luar, bangunan hotel itu berbentuk kotak, namun di dalamnya ternyata berbentuk lingkaran, dan menjulang tinggi ke atas.

Ya, menjulang tinggi ke atas seperti gedung pencakar langit.

Meski bangunan hotel itu nampak hanya memiliki empat lantai dari luarnya, namun dari dalamnya ia memiliki jumlah lantai yang jauh lebih banyak. Jumlah yang bahkan akupun tak sanggup menghitungnya.

Kutengadahkan kepalaku tegak ke atas, tepat ditengah lobby hotel. Menatap ke atrium diatasnya. Aku dapat melihat jajaran kamar-kamar hotel di lantai-lantai diatas sana. Namun seberapa tinggi jumlah lantai hotel itu, aku tak dapat menghitungnya. Mataku tak dapat melihat dimana ujung atasnya. Tetapi seluruh cat temboknya berwarna putih, dengan desain interior yang megah dan mewah. Perpaduan itu, tidak bisa tidak, membuatku mendapatkan kesan ‘surgawi.’

“Selamat datang di Hotel Memory,” kata sebuah suara wanita dengan ramah, yang kudengar berasal dari meja resepsionis diujung sana, “ada yang bisa kami bantu?”

Yalena dengan segera berlari mendekati meja resepsionis itu.

“Hotel ini menyimpan kenangan-kenangan manusia?” tanya sahabatku itu, langsung ke pokok permasalahan, dengan agak terengah-engah ketika di meja resepsionis.

“Betul sekali, kakak,” jawab wanita petugas resepsionis itu dengan ramah. Cara berbicaranya khas petugas resepsionis, front-office atau customer service.

“Siapa diantara kalian kalian yang diundang?” tanyanya kemudian.

“Diundang?” aku bertanya balik, merasa tak paham dengan maksud pertanyaannya.

“Iya, kalian tidak mungkin dapat menemukan tempat ini jika kalian tidak dapat mengakses undangannya,” kata si penjaga resepsionis itu menjelaskan.

“Oh!” aku dan Yalena berseru nyaris bersamaan.

“Yal!” kataku pada sahabatku itu. “Iya, iya. Sebentar,” Yalena kelihatan sibuk mengaduk-aduk tasnya, hendak mengeluarkan ponselnnya, untuk menunjukkan halaman antarmuka google maps dimana hasil pencarian lokasinya terpampang.

“Oh, oke,” kata petugas resepsionis itu lagi setelah Yalena menunjukkan layar ponselnya, dengan halaman antarmuka hasil pencarian google maps diatasnya. “Kakaknya nggak?” tanyanya lagi padaku. “Nggak,” jawabku singkat, “saya… Saya cuma mengantarkan saja.”

“Boleh,” jawab wanita itu, lalu ia melanjutkan, sambil menyodorkan tangannya pada Yalena, “boleh saya lihat ponselnya?”

Yalena menyerahkan ponselnya pada wanita petugas resepsionis itu, yang lantas mengambilnya dengan perlahan dan meletakkannya diatas semacam mesin diatas mejanya. “Maaf, tunggu sebentar ya. Kami perlu memverifikasi undangannya, untuk kemudian nanti baru dapat mengambil kunci kamarnya.”

“Pertama kali?” tanya petugas resepsionis itu lagi.

Yalena mengangguk.

“Oke,” katanya memulai penjelasannya, “sambil menunggu proses verifikasi selesai, barangkali bisa saja jelaskan sedikit tentang Hotel Memory.

“Kenangan-kenangan yang kakak miliki dari sejak kakak dapat mengingat, sampai hari ini, tersimpan di dalam kamar hotel. Kamar itu milik kakak. Isinya semua kenangan-kenangan kakak. Semuanya. Dalam format keping-keping DVD. Di dalam kamar itu juga terdapat sebuah layar televisi, dan sebuah pemutar DVD. Jika kakak ingin memastikan atau melihat kembali kenangan-kenangan kakak, cukup ambil keping DVD dengan judul terkait, dan pasangkan ke pemutar DVD-nya.

“Rata-rata orang yang datang kesini, karena dua hal. Pertama, mereka ingin melihat lagi kenangan-kenangan masa lalunya. Maksudnya begini. Mereka pasti mengingat momen-momen bahagia dengan orang tua mereka yang sudah tidak ada. Namun ingatan itu hanya ingatan momen. Sama sekali tidak filmis. Disini, mereka dapat menonton kembali momen-momen itu, dengan filmis. Benar-benar seperti layaknya menonton film.

“Kedua, mereka ingin menghilangkan beberapa kenangan buruk di masa lalu yang mereka anggap menghalangi perjalanan mereka melanjutkan masa depan.”

Yalena tertegun dan penuh harap ketika sang petugas resepsionis mulai menjelaskan alasan nomer dua, kenapa orang-orang datang kesana.

“Ini yang harus kakak ketahui, jika tujuan kakak kesini adalah yang kedua,” lanjut wanita dihadapan kami itu, “kenangan-kenangan itu, yang baik ataupun yang buruk, tidak dapat dihilangkan. Jadi jangan mencoba mematahkan DVD-nya, melemparnya keluar jendela, menyelundupkannya keluar kamar, atau usaha apapun yang kakak pikirkan untuk dapat menghilangkan atau menghancurkannya. Percuma saja. Tidak akan bisa.”

Aku melihat sekilas gurat kekecewaan di wajah sahabatku.

“Tapi,” lanjut wanita yang rambut panjangnya diikat cepol dibelakang kepalanya, khas petugas resepsionis hotel melanjutkan, “kenangan-kenangan itu dapat disembunyikan. Atau ditutupi. Sehingga kakak sama sekali tidak akan mengingat detilnya. Kakak masih akan ingat orang-orang yang terlibat di dalam kenangan itu, dan bahwa kakak pernah memiliki kenangan buruk tentang mereka. Tapi kakak tidak akan dapat mengingat detil kejadiannya seperti apa.

“Untuk hal ini, kakak cukup memasukkan keping-keping DVD berisi kenangan yang ingin kakak tutupi, ke dalam brankas yang tersimpan di dalam masing-masing kamar.”

Sesaat kemudian kami mendengar bunyi nyaring.

TING!

Bunyi yang, lucunya, biasanya kami dengar sebagai penanda ketika sebuah elevator tiba dilantai yang kami panggil.

“Oh, sudah selesai!” kata petugas resepsionis itu seraya mengangkat dan meletakkan kedua tangannya diatas meja resepsionisnya. Di sebelah tangannya adalah ponsel Yalena, dan ditangan satunya lagi adalah sebuah kartu.

“Ini ponsel kakak,” katanya sambil menyorongkan ponsel Yalena ke arah sahabatku itu, lalu dilanjukan dengan menyorongkan kartu yang satu lagi, yang kuyakin adalah kunci menuju kamar yang dimaksud. Kamar berisi kenangan-kenangan Yalena.

“Ini kunci menuju kamar kakak,” katanya, “kamarnya nomer 10.033.”

“Nomer berapa?!” seruku dan Yalena setengah berteriak, nyaris secara bersamaan karena terkejut mendengar nomer kamar yang disebutkannya.

“10.033. Di lantai 10.000. Lift-nya ada disana” katanya, seraya menunjuk posisi elevator di lobby, tak jauh dari meja resepsionis.”

“Buset! Berapa tahun naik lift sampai lantai 10.000!” seruku panik.

“Oh, tidak lama, kak. Paling sekitar tiga menitan saja. Teknologi kami sudah maju,” jawab wanita petugas resepsionis itu sambil tersenyum ramah. Kata-katanya kedengaran seakan ia sedang bergurau, tapi gestur tubuhnya tidak menyatakan demikian.

“Ada yang perlu ditanyakan?” sang petugas resepsionis itu bertanya lagi.

“Mungkin tidak berhubungan langsung dengan teknis, tapi,” sahutku, “kenapa tempat ini berupa hotel ya? Maksudku, kalau memang fungsinya menyimpan kenangan manusia sepanjang hidupnya, kenapa bukan berbentuk perpustakaan?”

“Pertanyaan bagus, kakak,” jawabnya dengan ramah, “karena, kalau perpustakaan kan fungsinya menyimpan properti yang adalah milik perpustakaan secara umum. Pengunjung hanya dapat melihat isi propertinya saja. Sementara kenangan-kenangan ini adalah milik para pengunjung. Sehingga dapat dikatakan, kenangan-kenangan itu hanya disimpan, atau bahasa lainnya, menginap di hotel ini. Kamar-kamar itu, dan semua kenangan-kenangan berbentuk keping-keping DVD di dalamnya, adalah milik para pengunjung.”

“Oke. Masuk akal juga,” timpalku sambil pamit dan lantas berjalan menuju elevator.

Dan memang, seperti yang dikatakan oleh petugas resepsionis itu tadi, perjalanan menggunakan elevator dari lobby di lantai dasar menuju lantai 10.000 ternyata memang tidak lama. Aku bahkan cukup yakin, waktunya tidak sampai tiga menit. Setibanya di lantai yang dimaksud, aku dan sahabatku langsung mencari-cari kamar nomer 33. Kamar dimana kenangan-kenangan yang dimiliki Yalena sepanjang hidupnya tersimpan. Tidak sulit untuk menemukan nomer yang dimaksud.

Nama sahabatku itu tertulis jelas depan pintu kamar nomer 33 itu, tepat di bawah nomer kamarnya: Yalena Dandelion

Yalena menempelkan kunci berbentuk kartu yang dibawanya sejak tadi ke pintu, dan pintu itupun terbuka.

“Aku tunggu disini ya?” kataku.

“Masuk saja lah, Vig. Temani aku ya…,” bujuknya. Harapan dan kecemasan seakan terlihat saling berbenturan di ekspresi wajah Yalena.

Aku melangkah memasuki ruangan kamar nomer 33 itu, tepat dibelakang Yalena. Tidak seperti lobby dan lorong hotelnya yang berwarna putih, cat tembok di dalam kamar itu berwarna lebih gelap, agak keabu-abuan. Meskipun bangunan itu berlabel “Hotel” dan tata interiornya memang menyerupai hotel, isi kamar itu tak seperti kamar hotel. Kamar hotel itu sangat luas, mungkin sekitar 10×10 meter, dan berbentuk segiempat, sesuai bentuk yang nampak dari luar. Namun di dalamnya tidak ada kasur atau sofa, seperti seharusnya sebuah hotel. Di dalam kamar itu penuh berisi jejeran rak-rak kayu, yang di dalamnya diisi oleh jejeran keping-keping DVD. Kasarannya, memang kelihatan seperti sebuah hotel yang difungsikan seperti perpustakaan. Ditengah ruangannya terdapat sebuah sofa yang dihadapannya berdiri sebuah layar televisi yang cukup besar, dengan pemutar DVD di bawahnya.

Yalena tidak membuang-buang waktu, sahabatku itu dengan segera menuju lemari berisi kepingan-kepingan DVD berisi kenangan-kenangan hidupnya. Ia bergegas mencari-cari kenangan buruk yang ingin ditutupnya. Tak berapa lama, aku melihatnya menenteng sekeranjang penuh kepingan DVD, yang lalu dibawanya ke tengah ruangan, dimana pemutar DVD-nya tersimpan.

“Kamu mau nonton?” tanyaku terkejut.

“Iya.”

“Tapi itu filmis, Yal! Kamu bukan cuma akan mengingat momen. Kamu benar-benar akan melihat semua adegan-adegan dalam kenangan burukmu itu dengan sangat jelas, seperti menonton film!”

“Iya. Aku tahu. Petugas resepsionisnya kan tadi bilang.”

“Kamu yakin?”

“Kalau mau jujur,” katanya, “nggak. Tapi aku sudah sampai disini. Selain itu, aku juga perlu yakin, kenangan yang akan kukunci di brankas memang adalah kenangan yang memang ingin aku kunci. Bukan kenangan yang salah.”

“Ya sudah. Terserah kau sajalah, Yal.” sahutku.

Lantas, Yalena pun mulai memasukkan keping-keping DVD berisi momen kenangan buruk dengan ayah tirinya itu satu persatu secara bergantian ke pemutar DVD di depan kami. Disitulah aku melihat betapa buruknya kenangan masa lalu yang dimilikinya, ketika aku bukan hanya mendengar cerita-ceritanya, namun benar-benar melihatnya secara filmis. Satu persatu, aku melihat adegan-adegan brutal dimana ayah tiri Yalena memukulinya, terkadang mencambuknya dengan menggunakan ikat pinggang berbahan kulit. Ibu Yalena pun tak lolos dari kebrutalan mantan suaminya itu. Ada pula masanya sendiri dimana Yalena mengintip dari balik pintu kamarnya, melihat ibunya disiksa dan dipukuli oleh ayah tirinya. Betul-betul pemandangan yang sangat traumatis. Dan Yalena harus melihat, mengalami, dan bertahan dalam situasi seburuk itu selama 12 tahun di dalam hidupnya! 12 tahun!

Tidak heran jika akhirnya Yalena menjadi pribadi yang tertutup dan defensif.

Akupun tak bisa memungkiri, lama kelamaan aku turut merasa geram juga menonton adegan-adegan kebrutalan yang dilakukan oleh manusia yang lebih binatang daripada binatang itu. Jika saja kejadian yang kulihat di film di dalam kenangan Yalena itu terjadi didepan mataku saat ini juga, sudah kuhampiri dan kuhantam laki-laki berengsek itu dengan menggunakan balok kayu!

Berkali-kali kulihat pula, ketika ayah tiri Yalena sedang memukuli sahabatku yang masih berusia sekitar delapan tahun itu, ibunya langsung berlari menghampiri Yalena dan dengan sigap mendekapnya erat dalam posisi memunggungi suaminya. Akibatnya, pukulan dan cambukan ayah tiri Yalena justru mendarat di tubuh ibunya.

Ibunya menjadi tameng dan menerima pukulan dan cambukan yang begitu menyakitkan, demi melindungi anak perempuannya.

Apakah karena aku seorang laki-laki, yang cenderung lebih logis daripada emosional, sehingga aku kesulitan untuk memahami, kenapa tak sedikit wanita yang terjebak dalam situasi yang sama seperti ibu Yalena memilih untuk tetap bertahan disana. Kenapa tidak sejak dulu saja mereka pergi meninggalkan suami mereka yang kasar itu? Atau setidak-tidaknya melaporkannya ke polisi atas tindakan kekerasan.

Karena terlalu cinta mati dengan pasangannya kah?

Atau justru karena terlalu besar rasa takutnya pada pasangannya?

Aku pribadi lebih yakin pada alasan yang kedua. Karena aku cukup tahu, bahwa dalam beberapa kasus, suami yang kasar itu bisa sampai mengancam istrinya, jika istrinya pergi meninggalkannya atau melapor pada polisi, ia akan mencari dan membunuh sang istri dan anaknya. Karenanya sang istri memilih untuk tidak melakukan perlawanan, semata-mata karena ingin melndungi nyawa anaknya.

Kemudian, Yalena mulai memutar DVD berikutnya. DVD itu memutar kenangan yang selama ini bahkan tak pernah ia ceritakan padaku. Perlakuan terburuk ayah tirinya pada dirinya selama 12 tahun hidupnya, yang tak pernah sedikitpun ia ceritakan pada siapapun.

Sejak Yalena berusia sepuluh tahun, ayah tirinya telah berkali-kali memperkosanya!

Laki-laki biadab itu memperkosa anak perempuan tirinya, yang baru berusia sepuluh tahun! Sepuluh tahun! Astaga! Dan itu terjadi berkali-kali selama bertahun-tahun hidup Yalena bersamanya, sampai pada suatu hari ibunya berhasil mengumpulkan keberanian untuk membawanya lari dari rumah pada saat usia Yalena menginjak 15 tahun.

Dalam suatu waktu ketika ayah tiri Yalena tengah mencoba memperkosanya, ibunya berlari menghampiri dan berusaha menghentikannya. Namun, ayah tiri Yalena bertubuh besar dan kuat, ia menghempaskan tubuh ibu sahabatku itu dengan sebelah tangan dengan mudahnya sampai ia terkapar di lantai dan pingsan!

Tak butuh waktu lama untukku merasa sudah tak sanggup lagi harus ikut menonton adegan-adegan brutal dan tidak manusiawi itu, sehingga kututupi mataku dengan tanganku. Namun aku masih dapat mendengar suara-suara yang keluar dari speaker dari pemutar DVD-nya. Suara-suara jeritan dan tangisan pilu Yalena ketika ayah tirinya memperkosanya. Ia menjerit memohon pertolongan, dan memohon pada ayah tirinya untuk melepaskannya.

“Yal!” panggilku pada sahabatku Yalena, yang berdiri disampingku, sambil melirik ke arahnya dari sela-sela tanganku yang menutupi mataku.

Yalena diam tak bergeming. Pandangan matanya tampak kosong. Air mata mengalir deras membasahi wajahnya. Sahabatku seakan hilang tersesat dalam kenangan-kenangan buruknya sendiri.

“Yal!” panggilku lagi dengan lebih keras.

Yalena masih tidak meresponku.

Aku tidak peduli lagi. Langsung kuhampiri pemutar DVD di depan kami, dan kutekan tombol off-nya. Seketika pemutar DVD itu kembali memuntahkan kepingan DVD yang sebelumnya ada di dalamnya. Lalu dengan cepat, aku kembali menghampiri sahabatku dan mendekapnya erat-erat. Untuk beberapa saat Yalena menangis terisak-isak dalam dekapanku, sebelum akhirnya ia menarik dirinya dan dengan cepat berlari menuju kamar mandi yang berada di sudut lain kamar itu.

Kamar yang berwarna gelap itu membuat suasana hati ikut menjadi buruk, sehingga aku memutuskan untuk keluar dari kamar dan bersandar ditembok didepannya, berusaha mengingat-ingat momen-momen perkenalanku dengan Yalena.

Aku pertama kali mengenal Yalena di tahun pertama kami kuliah. Sekitar enam tahun yang lalu. Meski ia tidak terbuka pada banyak orang untuk berteman, perangainya di depan semua orang selalu terlihat ceria dan bersahabat. Yalena selalu ada disaat orang-orang di sekitarnya sedang membutuhkan bantuan. Meski ia tidak dekat atau bahkan dapat dikatakan tidak berteman dengan mereka, namun ketika mereka membutuhkan bantuan, Yalena selalu menjadi orang pertama yang datang. Ia selalu memiliki kata-kata yang mampu memberikan semangat pada orang lain, dan selalu berusaha menyenangkan orang lain.

Aku tidak bisa mempercayainya, bahwa manusia sebaik itu, punya pengalaman masa lalu yang seburuk itu.

Aku pernah mendengar, bahwa, mereka yang selalu berusaha membuat orang lain tertawa dan bahagia, sesungguhnya adalah orang yang paling kesepian dan menderita. Apa yang kulihat hari ini, nampaknya memverifikasi pernyataan itu.

Suara pintu kamar 10.033 yang terbuka memecahkan lamunanku.

“Sudah selesai, Yal?” tanyaku ketika kulihat wajah sahabatku itu di balik pintu.

“Ada sedikit masalah,” katanya, seraya kembali masuk ke dalam kamar.

“Masalah apa?” ketika aku mengikutinya kembali masuk ke dalam kamar, ia lalu menunjuk salah satu sudut ruangan dimana aku dapat melihat sebuah kotak besi yang ukurannya tak terlalu besar. Sebuah brankas nampaknya.

“Itu brankasnya,” katanya, lalu ia menggeser telunjuknya, mengarah ke tumpukan keping-keping DVD di dalam keranjang yang tadi dibawanya.

“Itu DVD yang mau aku sembunyikan di dalam brankas,” katanya. Jumlah DVD-DVD itu memang sangat banyak, dan dibandingkan dengan ukuran brankasnya, jelas tidak sebanding. Mungkin hanya separuh dari DVD-DVD itu yang dapat masuk ke dalam brankas. “Dan itu belum semuanya,” tambahnya.

“Belum semuanya?!” seruku terkejut.

“Kau tahu, aku hidup selama 12 tahun bersama ayah tiriku, Vig.”

Mataku tiba-tiba menangkap sesuatu tak jauh dari brankas itu. Sebuah telepon tanpa kabel. Kuajak Yalena kesana, dan kutekan satu-satunya tombol di telepon itu.

“Resepsionis! Ada yang bisa kami bantu?” suara ramah dan ceria dari wanita petugas resepsionis yang kami temui dibawah tadi kembali terdengar. Kamipun menceritakan masalah yang kami hadapi.

“Oh, kalau kalian mau menyimpan semua kenangan terkait satu orang, kalian cukup simpan keping DVD yang bertuliskan nama orang itu ke dalam brankas,” jelasnya, “perlu kuingatkan, meski kalian menyimpan DVD bernama seseorang itu di brankas, kalian masih akan ingat bahwa orang itu pernah ada dalam hidup kalian, hanya saja kalian sudah tidak akan dapat mengingat-ingat momen-momen terkait dengan dirinya.”

“Ada dimana DVD-nya?” tanya Yalena singkat.

“Ada di rak di dekat kamar mandi,” jawab petugas resepsionis itu lagi.

Kamipun menuju rak yang dimaksud, dan disana kami melihat tumpukan keping-keping DVD yang sama, hanya saja, daripada menggunakan deskripsi momen sebagai judul, keping-keping DVD itu dijuduli menggunakan nama orang. Aku membantu sahabatku itu menemukan keping DVD atas nama ayah tirinya, Adryan Ballot.

“Ketemu!” seru Yalena sambil kembali berlari menuju ke arah brankas, melemparkan kepingan DVD yang atas nama ayah tirinya yang dipegangnya ke dalam brankas itu dan lalu menguncinya.

“Selesai?” tanyaku.

“Selesai!”

“Pulang?”

Yalena menghela nafas panjang, dan lalu tersenyum lebar, seakan ia mulai merasa lebih lega dibanding sebelumnya. “Yuk!” sahutnya.

Segera kami kembali turun ke lobby dengan menggunakan elevator yang sama yang kami pergunakan untuk naik. Kami pamit pada wanita cantik petugas resepsionis yang sudah membantu kami sejak tadi dan lalu melangkah keluar dari bangunan hotel.

Diluar dugaanku, ketika kami keluar dari bangunan hotel, hari sudah pagi, padahal ketika kami masuk, malam belum terlalu larut, dan rasa-rasanya kami tidak selama itu berada di dalam sana.

“Jadi bagaimana?” tanyaku pada sahabatku itu ketika kami berjalan kembali dari hotel menuju ke mobilku.

“Apanya?”

“Masih ada nggak?”

“Kenangan tentang ayah tiriku?” tanya Yalena untuk dapat meyakinkan maksud dari pertanyaanku.

“Ya!”

“Jujur saja, sampai aku masuk ke dalam Hotel Memory semalam, aku masih merasa persoalan ini hanya lelucon saja,” katanya, “tapi ternyata tidak. Saat ini aku benar-benar sudah tidak dapat mengingat kenangan apapun sama sekali tentang lak-laki itu!”

“Wah, kabar bagus dong!” seruku bersemangat, “berarti setelah ini kau seharusnya sudah dapat mulai melakukan apa yang selama ini sangat ingin kau lakukan. Memulai hubungan romansa secara serius dengan seseorang.”

“Yah, begitulah aku rasa,” sahut Yalena sambil tersenyum penuh kemenangan.

Perjalanan pulang kami kemudian terasa jauh berbeda dengan ketika kami berangkat. Selama perjalanan pulang itu, Yalena kembali menjadi Yalena yang biasanya, ceria, penuh semangat dan banyak berbicara. Setibanya kembali di kota kami, aku menurunkan Yalena di depan gerbang apartemennya, dan akupun langsung melajutkan kembali perjalanan pulangku ke rumah.

Selama beberapa hari kedepan aku sebelum sempat untuk berkontak-kontak kembali dengan Yalena, melalui media apapun. Selain karena kesibukan pekerjaanku selama beberapa hari itu, aku berpikir untuk membiarkan Yalena menikmati kehidupan ‘baru’-nya, tanpa kenangan-kenangan buruk yang menghantuinya. Berkenalan dan berinteraksi dengan laki-laki baru dalam hidupnya, dan sebagainya. Toh, kalau ada perkembangan dengan kehidupannya, ia pasti akan menghubungiku lebih dulu untuk bercerita panjang lebar, seperti biasanya.

Hari itu sudah dua minggu semenjak aku dan Yalena kembali dari Hotel Memory. Aku baru saja selesai mandi dan hendak kembali melanjutkan pekerjaanku ketika aku mendengar suara lonceng apartemenku.

“Yalena?”seruku terkejut karena melihat sahabatku itu di balik pintuku.

Yang membuatku terkejut bukanlah kedatangan Yalena di apartemenku, melainkan ekspresi di wajah sahabatku itu. Ia tampak muram. Beberapa hari sebelumnya, kami sempat berbincang lewat aplikasi chat, dan ia menceritakan apa yang dialaminya dengan ceria dan penuh semangat. Dan hari in ia datang dengan wajah muram. Ada sesuatu yang tidak beres. Aku harap tidak ada hubungannya dengan Hotel Memory. Bahwa ada efek samping dari apa yang dilakukannya disana, misalnya.

Kuminta ia masuk dan kusuguhkan teh manis hangat di atas meja di hadapannya.

“Kenapa, Yal?” tanyaku, “aku pikir semua sudah baik-baik saja.”

“Yah, awalnya kupikir juga begitu.”

“Tapi?”

Pandangan Yalena nampak seperti ia merasa kebingungan untuk mulai menjelaskan situasinya. Berkali-kali ia mengangkat sebelah tangannya, seakan hendak mulai berbicara, namun tangannya yang lain menarik tangan itu turun. Sebuah gestur yang mengisyaratkan keragu-raguan.

“Apapun,” kataku mencoba memancingnya untuk mulai berbicara, “mulai saja dengan mengatakan apapun yang ada di kepalamu.”

“Ibuku…,” kata Yalena memulai ceritanya, “kau tahu cerita-ceritaku tentang ibuku kan? Bahkan, sebagian daripadanya sudah kau tonton sendiri peristiwanya seperti apa ketika kita di Hotel Memory waktu itu.”

“Ya, aku tahu.”

“Kau tahu betapa aku menghormati dan menyayangi beliau kan?” lanjutnya, “maksudku, setelah apa yang ia lakukan untukku sepanjang hidupku, selalu berusaha melindungiku dari perilaku buruk ayah tiriku, betapapun ia sendiri sesungguhnya merasa sangat takut padanya. Ia sendiri kerap mendapat perlakuan yang tak kalah buruknya dari mantan suaminya itu. Kau sendiri pernah berkata padaku bahwa pria dan wanita memandang banyak hal dengan cara berbeda. Bahwa kau mungkin tidak akan pernah bisa memahami kenapa ia tetap bertahan disana selama itu dengan semua perlakuan yang ia terima. Tapi kaupun menghormati beliau atas semua pengorbanannya padaku sebagai seorang ibu.”

“Ya, aku menghormatinya,” jawabku, “terlepas dari berbagai hal yang tak kumengerti tentang sudut pandang perempuan dan sifat emosionalnya dalam situasi yang kalian alami, aku harus akui bahwa aku menghormati ibumu dengan sangat tinggi. Perlakuan yang ia terima, dan pengorbanan yang ia lakukan untukmu, menjadikan dirinya sendiri tameng bagimu dari siksaan suaminya, selama belasan tahun, adalah sebuah kekuatan yang mungkin banyak laki-lakipun tidak akan sanggup menahannya.”

“Itu pula yang membuatku berprinsip bahwa aku harus bisa menjadi seorang ibu yang setidaknya sama baiknya dan sama kuatnya seperti ibuku. Selain tentunya, belajar untuk dapat mencari suami yang perilakunya tidak seperti ayah tiriku.”

“Ya, aku ingat kau pernah berkata seperti itu juga kepadaku.”

“Nah, itu dia masalahnya, Vig,” kata Yalena, kata-katanya mulai terdengar sedikit terbata-bata, “sepulangnya aku dari Hotel Memory, perasaan itu seperti tiba-tiba hilang!”

“Hah? Hilang bagaimana maksudmu?” tanyaku terperanjat.

“Hilang! Aku… Aku juga tak mengerti bagaimana menjelaskannya… Sebelum kita pergi ke Hotel Memory, aku memiliki sebuah hasrat atau dorongan yang kuat dari dalam diriku, untuk dapat menjadi seorang wanita dan ibu yang baik, kuat, dan tangguh seperti ibuku. Hasrat itu hilang, Vig! Yang ada saat ini hanya sebatas sebuah ‘keinginan’ saja. Kau tahu, keinginan yang seperti, ‘aku ingin itu,’ lalu beberapa hari kemudian aku melupakannya.

Sejujurnya, aku sendiri kebingungan bagaimana harus merespon cerita sahabatku itu. Otakku masih berusaha memproses semua yang ia katakan.

“Dan bukan hanya itu, Vig,” lanjutnya, “kau tahu, perasaan hormatku yang tinggi, yang datang dari semua pengorbanan yang ia lakukan, perasaan itupun hilang. Hasratku untuk belajar mencari laki-laki yang perilakunya tidak seperti ayah tiriku pun seakan hanya seperti angin lalu. Seakan-akan perilakunya bukanlah sebuah masalah besar.”

Kalimat-kalimat terakhir yang keluar dari bibir Yalena, sahabatku itu, membuatku tiba-tiba menyadari sesuatu. Sesuatu yang, sebelum kami pergi ke Hotel Memory, bahkan sama sekali tak terpikirkan olehku.

“Yal,” kataku membuka komentarku, “kau bilang bahwa perasaan hormatmu pada ibumu datang dari semua pengorbanan yang ia lakukan untukmu?”

“Ya.”

“Apakah kau dapat mengingat dengan detil, seperti apa persisnya pengorbanan yang ibumu lakukan? Terutama dalam kaitannya denga perilaku buruk ayah tirimu.”

Yalena nampak berpikir sejenak, seperti tengah mengingat-ingat sesuatu, lalu tiba-tiba ia nampak terkesiap. “Ti… Tidak,” katanya terbata-bata, “maksudku, aku ingat bahwa ibuku melindungiku dari perilaku buruk ayah tiriku, tetapi aku sama sekali tidak dapat mengingat, seperti apa detil perlakuan buruk yang dilakukan ayah tiriku padaku, sampai ibuku harus melindungiku itu.”

“Lalu,” lanjutku, “kau juga punya hasrat untuk mencari laki-laki, sebagai pasangan hidup, yang perilakunya tidak seperti ayah tirimu. Apakah kau juga dapat mengingat dengan detil,s eperti apa perilaku buruk ayah tirimu itu, yang kau tidak inginkan ada pada pasangan hidupmu?”

Yalena nampak terperanjat. Ia nampak seakan ia sendiripun tak mempercayainya.

“Ti… Tidak,” katanya dengan terbata-bata, “soal itupun… A… Aku…”

“Nah,” kataku memulai kesimpulanku, “mungkin justru itulah sebabnya, Yal.”

“Maksudmu?”

“Maksudku,” aku memulai penjelasanku pada sahabatku yang tengah duduk dengan penuh rasa khawatir di hadapanku, “kau mengunci semua detil kenanganmu dengan ayah tirimu di dalam brankas di dalam kamar di Hotel Memory. Seperti kata si petugas resepsionis, kau masih akan mengingat bahwa kau pernah mengenal orang itu, dan bahwa kau pernah punya kenangan baik dan buruk dengannya, namun kau sudah tidak akan dapat mengingat, seperti apa kenangan-kenangan itu.”

“Oke. Lalu?”

“Sekarang kau bayangkan,” kataku melanjutkan penjelasanku, “rasa hormatmu pada ibumu, timbul dari pengorbanan yang dilakukan ibumu untukmu. Dari yang kulihat ketika kita di Hotel Memory, misalnya, ketika ayah tirimu tengah memukulimu, ibumu berlari mendekatimu, dan mendekapmu erat. Akibatnya, tubuhnya menjadi tameng untuk dirimu. Ibumu lah yang akhirnya habis dipukuli. Dan kau melihat hal itu, dan mengingatnya. Rasa hormatmu pada beliau datang dari melihat, dan mengingat. Lalu sekarang, kau tak lagi dapat mengingat perlakuan buruk itu. Kau menghormati ibumu karena ia selalu melindungimu. Tapi kau tak lagi dapat mengingat, beliau melindungimu dari apa, tepatnya? Oke, dari perlakuan buruk ayah tirimu. Tapi perlakukan yang seperti apa? Seburuk apa perlakuan buruk yang ibumu alami demi melindungimu? Kalau kau tak dapat mengingat seperti apa dan seburuk apa perlakuan itu, kau pasti akan kehilangan rasa hormat itu, karena sejatinya seakan-akan hal itu tak pernah benar-benar terjadi padamu.

“Hal yang sama berlaku untuk situasi dimana kau memiliki keingingan untuk mencari laki-laki, pasangan hidup yang tidak seperti ayah tirimu. Bagaimana kau bisa menjelaskan, laki-laki yang tidak seperti ayah tirimu itu seperti apa, jika kau sendiri tidak dapat mengingat ayah tirimu sendiri seperti apa?

“Maksudku, itu seperti, mungkin, belajar mengendarai sepeda. Kau akan jatuh, mungkin berkali-kali. Tetapi, dari jatuh yang berkali-kali itu kau belajar, apa yang salah dari caramu mengendarai sepeda sehingga kau terjatuh. Dan ketika kau mencoba lagi kali berikutnya, kau tidak mengulangi kesalahan yang sama. Atau, lebih baik lagi, kau sudah punya tips dan trik, mengendarai sepeda yang benar, yang tidak akan jatuh itu seperti apa.

“Tanpa kenangan dimana kau pernah jatuh dari sepeda, yang mana kau seharusnya dapat belajar darinya, kau tidak akan pernah dapat mengendarai sepeda dengan benar. Kau akan selalu terjatuh. Kau butuh untuk dapat mengingat pengalamanmu jatuh dari sepeda, untuk lalu dapat belajar melakukannya dengan lebih baik,” kataku menjelaskan pendapatku dengan panjang lebar.

“Kenangan burukmu, yang begitu ingin kau lupakan, ternyata memegang peranan yang begitu penting untuk hidupmu yang lebih baik di masa depan,” kataku menambahkan.

Yalena nampak tertegun. Ia menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa yang tengah didudukinya. Pandangangan Yalena seperti setengah melamun. Ia seakan tengah memproses seluruh penjelasanku.

“Jadi, saranmu?” tanyanya sambil kembali duduk dengan tegak.

“Belajarlah untuk berdamai dengan masa lalumu. Seburuk apapun itu. Bukan justru menguburnya dalam-dalam dan melupakannya. Karena hanya itu satu-satunya jalan jika kau menginginkan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Dengan belajar dari masa lalu. Dan untuk dapat belajar dari masa lalu, kau harus dapat mengingatnya.”

“Berarti… Aku harus kembali ke Hotel Memory?”

“Dan mengeluarkan DVD berisi kenangan tentang ayah tirimu dari brankas. Ya.”

Bagi Yalena, motivasinya untuk dapat menjadi wanita yang baik dan ibu yang kuat seperti ibunya, serta untuk dapat menemukan calon pasangan hidup yang baik adalah lebih utama dibandingkan apapun. Dengan masa lalunya yang buruk dan, dapat kukatakan, mengerikan, ia ingin dapat hidup damai dan bahagia di masa depan. Dan aku mendukungnya sepenuhnya. Siapapun layak mendapatkan kebahagiaan mereka, seburuk apapun kehidupan masa lalunya. Karenanya, segera di keesokan paginya, kami kembali sudah dalam perjalanan untuk menemukan Hotel Memory itu lagi.

Hotel Memory itu benar-benar sebuah bangunan yang mistik. Yalena masih dapat mencari dan menemukan peta lokasinya dari google maps di ponselnya, tapi aku yakin betul, koordinat yang ditunjukkan oleh google maps pagi itu dan ketika kami kesana sebelumnya adalah koordinat yang sama sekali berbeda. Seakan-akan bangunan hotel itu secara mistis selalu berpindah-pindah lokasi. Mungkin itu pula sebabnya kenapa tidak semua orang dapat menemukannya.

Dan faktanya, lokasi Hotel Memory ketika kami mengunjunginya lagi jauh lebih dekat dibandingkan ketika kami mengunjunginya kali sebelumnya. Tak butuh waktu lama untuk kami tiba disana.

Wanita petugas resepsionis yang sama masih berjaga disana, dan nampaknya ia sepeti sudah mengetahui untuk apa kami kembali kesana. Karena tanpa perlu kami menjelaskan, ia sudah menyerahkan kunci menuju kamar berisi kenangan-kenangan Yalena setibanya kami disana.

Tak butuh waktu lama bagi Yalena berada di kamar itu. Ia tahu persis apa yang harus dia lakukan. Dibukanya brankas kecil di kamar itu, dikeluarkannya keping DVD bertuliskan nama ayah tirinya dan diletakkannya kembali ke jajaran rak dimana ia menemukannya ketika kami berada disana sebelumnya.

“Banyak yang datang lagi kesini untuk mengeluarkan kembali kenangan-kenangan mereka dari brankas?” tanyaku pada wanita petugas resepsionis itu ketika Yalena tengah mengembalikan kunci berupa kartu tadi padanya.

“Nyaris semuanya,” jawab wanita itu sambil tersenyum ramah, “sebagian yang tidak melakukannya, hanya karena mereka tidak, atau belum menyadari bahwa itulah yang seharusnya mereka lakukan.”

“Akupun mungkin tidak, atau belum, kalau bukan karena sahabatku ini,” kata Yalena sambil menyenggolku dengan siku lengan kanannya.

Wanita petugas resepsionis itu tiba-tiba terdiam memandangi kami. Pandangannya beberapa kali beralih dari wajah Yalena, lalu menatapku, lalu kembali menatap Yalena. “Aku mengetahui beberapa hal tentang para pengunjung hotel kami,” katanya pada sahabatku itu, “termasuk beberapa hal soal masa depan. Kakak sudah mengalami banyak hal buruk di masa lalu. Aku bisa katakan suatu hal yang baik tentang masa depan, kalau Kakak janji tidak akan katakan pada siapapun.”

“Wah, apa itu?” Yalena tampak bersemangat.

“Sini, Kakak kesini. Temannya yang laki-laki tidak boleh dengar,” katanya sambil melangkah mundur ke dalam bilik resepsionis sambil melambaikan tangan kepada Yalena, mengundangnya masuk ke dalam bilik. “Urusan perempuan,” katanya menambahkan sambil cekikikan.

Yalena pun melangkah masuk ke dalam bilik resepsionis itu sambil tertawa.

“Urusan perempuan? Hih!” gumamku sambil mendengus.

Bilik resepsionis itu tidak tertutup, sehingga aku masih dapat melihat Yalena dan wanita petugas resepsionis itu berbincang di kejauhan, tapi aku tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun sesekali, aku mlihat mereka melirikku, dan lalu kulihat Yalena tertawa. Tawa bahagia dan lepas, yang sepanjang aku mengenalnya, belum pernah kulihat ia tertawa seperti itu.

Selesai mereka berbincang, Yalena kembali keluar dari bilik, dan kamipun melangkah kembali ke mobilku di parkiran. Yalena melambaikan tangannya sekali lagi sebagai tanda perpisahan pada si wanita petugas resepsionis, sebelum aku dan sahabatku itu melangkah keluar dari pintu hotel.

“Resepsionis itu bilang apa tadi?” tanyaku, tidak dapat menutupi rasa penasaranku.

Yalena seketika tergelak. Ia lalu menoleh dan menatapku, dengan pandangan yang tak pernah diperlihatkannya padaku sebelumnya sepanjang pertemanan kami.

“Urusan perempuan,” jawabnya sambil cekikikan.

One thought on “Memory Hotel

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: