Happiness is on Sale

Mereka bilang, “uang dapat membeli segalanya kecuali kebahagiaan.”

Aku tidak sependapat. Maksudku, pernyataan itu tidak sepenuhnya salah, hanya saja untuk sesuatu dapat dibeli, harus ada seseorang yang menjualnya. Bagaimana orang-orang akan dapat membeli kebahagiaan kalau tidak ada yang menjualnya? Kalau ada yang menjualnya, sudah dapat dipastikan akan ada yang membeli. Dan pasti laku keras!

Aku sudah membuktikannya sendiri.

Ah, tidak, tidak. Maksudku, aku bukan pembeli kebahagiaan. Aku adalah penjualnya!

Entah sejak kapan aku memiliki kekuatan itu, aku tidak tahu persisnya. Hanya saja aku baru menyadarinya ketika aku berusia tujuh tahun. Secara teknis, dapat dikatakan, aku memiliki kemampuan untuk mentransfer kebahagiaan dari dalam diriku kepada orang lain hanya melalui sentuhan. Semakin lama aku menyentuh orang-orang itu, semakin banyak kebahagiaan yang tertransfer. Dan tentu saja, hal itu berarti semakin banyak uang yang harus mereka transfer kepadaku!

“50.000 Rupiah, kan?” tanya seorang pria berusia sekitar empat puluhan, setengah botak, mengenakan jas dan pakaian rapi, khas orang-orang kantoran. “Yep!” jawabku singkat. Segera setelah pria itu menyerahkan selembar uang senilai 50.000 Rupiah, aku melepaskan sarung tanganku, dan menggenggam tangan pria itu selama 10 menit. Ya, aku mentransfer kebahagiaan itu dengan harga 5.000 Rupiah permenit!

Murah meriah. Semua orang bisa beli, sejumlah berapapun yang mereka inginkan. Atau sebanyak apa uang yang mereka punya.

Memasuki lima menit proses transfer, wajah pria paruh baya yang awalnya terlihat kuyu, tidak bersemangat dan seperti akan bunuh diri itu mulai tampak semakin cerah. Bahkan, ia yang sebelumnya berbicara kepadaku dengan wajah cemberut dan lemas, mulai menyunggingkan senyum lebar dan ia mulai banyak ngoceh.

“Pertama kali?” tanyaku pada pria paruh baya itu ketika proses transfer selesai dan aku kembali mengenakan sarung tanganku. Ya, aku harus pakai sarung tangan dong. Ya masa aku harus bagi-bagi kebahagiaan dengan gratis pada siapapun yang tak sengaja kusentuh!

“Y-Ya…” jawabnya agak terbata-bata karena terlalu bersemangat. “Kupikir temanku hanya beromong-kosong saja,” katanya, “tapi, aku sudah merasa begitu muak dan tidak bahagia dengan hidupku, jadi kupikir, apa salahnya kucoba. Terimakasih ya!” Pria itu mengucapkan kata-kata terimakasihnya sambil berlalu dengan wajah yang berseri-seri cerah, seakan ia baru saja mendapatkan hal terbaik dalam hidupnya yang tak pernah ia bayangkan akan ia dapatkan. Kontras sekali dengan ketika ia pertama kali menghampiriku. Ia tampak seperti baru saja kehilangan segalanya.

Dari kekontrasan itu, kurasa sekarang kau bisa yakin bahwa berjualan kebahagiaan pasti akan laku keras. Semua pelangganku selalu melakukan repeat-order secara reguler. Hidup ini keras, bung! Penjual kebahagiaan adalah segalanya yang kau butuhkan!

“Kak Arun?” kata seorang pelayan kafe malam itu ketika aku duduk di salah satu kursi dan tengah asik dengan ponselku.

“Eh! Iya!” jawabku dengan agak terkejut. “Ini Ice Cappuchino. Dari Bu Yasmin. Ditraktir, katanya,” kata pelayan kafe yang cantik dan berperawakan mungil itu lagi sambil satu tangannya meletakkan secangkir Ice Cappuchino di mejaku. Kutolehkan kepalaku ke arah meja bar di kafe itu. Dibaliknya, nampak sang pemilik kafe, seorang wanita berusia 36 atau 37, namun masih kelihatan cantik dan seksi.

“Wah, wah, wah…” seruku dengan bersemangat, “Teh Yasmin sedang bahagia sekali hari ini nampaknya?”

“Yah, lumayanlah, Run,” jawabnya sambil tertawa. Meski ia sudah berusia nyaris separuh baya, ekspresi wajah Yasmin ketika tersenyum dan tertawa masih sanggup membuat banyak laki-laki megap-megap seketika.

“Teteh nggak akan belanja dari aku dong hari ini?”

“Aku nggak pernah ya belanja kebahagiaan dari kamu! Aku selalu bahagia, kali!”

“Sombong sekali! Untung cantik!”

Sambil tergelak, Yasmin menggulung tisu di mejanya menyerupai buntalan bola dan melemparnya ke arahku yang duduk tak jauh dari meja barnya sampai mendarat di wajahku.

“Heh! Aku ini pelanggan, ya! Teteh berani sekali melempar pelanggan dengan buntalan tisu!” sahutku sambil tergelak dan melempar balik buntelan tisu itu kepadanya. Sebelum kusadari, kami sudah saling melempar-lempar buntalan tisu. Aku sudah menjadi pelanggan di kafe milik Yasmin selama bertahun-tahun, dan entah kenapa kami begitu cocok dalam mengobrol sampai-sampai aku merasa ia seperti kakakku sendiri.

“Tolonglah, kalian itu sudah berumur, jangan bercanda seperti anak SD,” kata si pelayan kafe yang tadi mengantar kopi ke mejaku dengan datar sambil menyapu lantai.

“Sembarangan! Dia itu yang sudah berumur! Aku masih 24!” balasku pada si pelayan sambil menunjuk ke arah Yasmin dengan gesturku sedikit mengayunkan kepala ke arah sang pemilik kafe. Aku beranjak dari kursiku, dan sambil membawa gelas kopiku, aku berpindah duduk ke kursi di meja bar, tepat di hadapan Yasmin.

“Jadi, sudah untung berapa hari ini, Run?” tanya Yasmin.

“Teteh mau tahu saja. Profit itu rahasia dapur, Teh!” jawabku. Aku terdiam sesaat. Ini bukan kali pertama Yasmin menanyakan hal seperti itu, dan dia tahu betul aku orang seperti apa. Ia tahu persis bahwa pada akhirnya aku akan menjawab pertanyaannya. Dengan penuh kesombongan.

“2.200.000 dalam sehari. Profit bersih, nggak kena potong pajak, dan nggak dipakai buat bayar biaya operasional, dan karyawan. Bersih.”

“Congkaknya!” sahut Yasmin sambil kembali melempar buntalan tisu yang masih ada di atas mejanya ke wajahku, sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Buntalan tisu tadi langsung dipungut oleh sih pelayan kafe yang masih menyapu dan dimasukkannya ke kantung sampahnya dengan agak kesal.

“Kamu sudah berjualan kebahagiaan ini selama berapa tahun sih?” tanya Yasmin lagi.

“Eh, sudah berapa lama ya?” jawabku sambil menghitung-hitung, “yang jelas aku mulai berjualan sejak umurku masih belasan.”

Kuperhatikan wajah Yasmin kelihatan seperti tengah memikirkan sesuatu.

“Teteh mikir apa?”

“Aku kepikiran saja,” jawabnya sambil menopangkan dagunya ke tangan kanannya, “kebahagiaan yang kamu transfer kepada orang-orang yang membeli itu, darimana asalnya?”

“Asalnya? Ya dari akulah.”

“Aku bayangkan, seperti aku jualan kopi di kafe ini, berarti kebahagiaan yang kamu transfer ke pelanggan-pelangganmu sebetulnya berasal dari stok kebahagiaanmu sendiri?”

Aku tertegun sesaat. Aku tak pernah benar-benar memikirkannya sampai kesitu.

“Meski sudah selama ini aku berjualan kebahagiaan, aku belum pernah memikirkan hal itu sampai kesana,” gumamku, “ya, mungkin saja sih, Teh. Kalau dengan logika orang berjualan, berarti aku punya stok kebahagiaan. Dan ketika ada yang membeli, lalu aku serahkan stok yang aku punya ke mereka, sejumlah yang mereka beli.”

“Nah, itu dia yang kepikiran sama aku,” katanya lagi, “aku kan jualan kopi ya?”

“Y-ya…?”

“Kalau stok kopi di gudangku habis, aku nggak bisa jualan, kan?”

“Y-ya… Iya. Poin Teteh bagaimana? Aku nggak paham.”

“Yang namanya stok, pasti akan habis kalau tidak diisi ulang. Dalam konteks kopiku, aku punya supplyer yang menjual bahan-bahan kopi, jadi ketika stok kopiku habis, aku tinggal membeli lagi kesana dan, voila! Stokku terisi kembali. Tapi kalau kamu bagaimana? Maksudku, bagaimana kamu selama ini mengisi kembali stok kebahagiaan di dalam dirimu setelah kebahagian-kebahagiaan itu kamu transfer kepada pelanggan-pelangganmu? Kamu tidak bisa membeli stok bahan-bahan kebahagiaan dari orang lain untuk dijual kembali kan. Maksudku, setahumu juga, cuma kamu yang berjualan kebahagiaan seperti ini.”

Aku terdiam cukup lama. Kata-kata Yasmin membuatku berpikir.

“Asumsiku,” kataku sambil mengangkat kedua bahuku, “supply kebahagianku mungkin berasal dari uang-uang yang diserahkan pelanggan-pelangganku. Maksudku, itu uang yang sangat mudah. Tetehpun pasti akan bahagia kalau bisa dapat uang semudah itu kan?”

“Mungkin juga,” sahutnya, “tapi, meski dalam kondisi profit kafeku sedang sangat baguspun, ada saatnya aku merasa tingkat kebahagiaanku menurun. Jadi awalnya kupikir kau punya sumber lain selain uang yang kau dapat dari berjualan kebahagiaan.”

Baru saja aku hendak merespon, tiba-tiba kurasakan ponselku bergetar. Ada pesan singkat dari ibuku yang masuk, menanyakan kapan aku akan pulang. Tak kusadari waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Para pelayan di kafe Yasmin pun sudah mulai mengangkat dan merapikan meja-meja dan kursi-kursi. Kuteguk sisa kopi di gelasku sampai habis, lalu berterimakasih pada Yasmin atas kopi dan obrolannya sebelum akhirnya aku pamit pulang.

Perjalanan pulangku dari kafe Yasmin tak lama. Jarak dari sana ke tempat tinggalku termasuk sangat dekat. Aku dan ibuku hanya tinggal berdua di sebuah rumah susun sederhana yang hanya berjarak dua blok dari kafe miliki Yasmin

Tak bisa kupungkiri, obrolan dengan Yasmin di kafe tadi ternyata begitu menghantui pikiranku. Sejujurnya, aku tak mengatakan yang sebenarnya kepada Yasmin tentang apa yang sebetulnya terpikir olehku sebagai sumber kebahagiaanku yang tiada habisnya. Maksudku, aku memang bukan orang yang melankolis. Kalau orang-orang menilaiku sebagai laki-laki muda yang mata duitan, aku lebih suka menerimanya seperti itu.

Sejak aku kecil, aku tinggal berdua dengan ibuku. Ayahku telah meninggal karena sakit keras ketika aku dalam usia yang sangat muda. Semenjak itu, ibuku bekerja keras membanting tulang menghidupiku sendirian selama bertahun-tahun. Ibuku jugalah alasan kenapa aku mulai berjualan kebahagiaan. Beliau orang pertama yang kuceritakan tentang kemampuan aneh yang tiba-tiba kumiliki. Tapi beliau selalu mengingatkanku untuk menggunakan kemampuan yang tak dimiliki orang lain itu untuk hal yang bermanfaat bagi orang banyak.

Selama aku kecil, beliau bekerja terlalu keras, tubuhnya sempat menjadi semakin kurus dan lemah. Beliau terlalu letih untuk kelihatan bahagia. Ketika aku mengatakan itu padanya, ia selalu menjawab, “kebahagiaan Mama adalah ketika Mama berhasil menghidupimu dengan layak dan mendidikmu sehingga menjadi orang yang baik dan kelak berguna di masyarakat.”

Ibuku bahkan menolak keras ketika aku berkata padanya akan mencoba berjualan kebahagiaan untuk dapat membantunya menghasilkan uang untuk menafkahi rumah dan diriku sendiri.

“Kebahagian bukan sesuatu yang pantas diperjualbelikan, Arun,” begitu katanya.

Berkali-kali, setiap kali aku mengatakan akan berjualan kebahagiaan, beliau selalu mencermahiku hal yang sama. Tapi ketika ia akhirnya jatuh sakit, kami tak punya pilihan lain. Aku mulai mencoba berjualan kebahagiaan untuk membantu menutupi biaya hidup. Awalnya memang sangat sulit. Apalagi aku tak ingin apa yang kulakukan menarik perhatian dari orang-orang yang tidak seharusnya. Bisa berbahaya.

Setelahnya, ketika ibuku sudah kembali sehat dan dapat kembali bekerja, beliau kembali mengingatkanku untuk berhenti memperjualbelikan kebahagiaan. Tapi tentu, aku tak berhenti begitu saja. Meski hanya sesekali dan dengan bayaran yang sangat kecil, aku masih berjualan kebahagiaan kepada teman-temanku di sekolah. Ibuku pasti akan memarahiku habis-habisan jika beliau sampai membawa pulang uang dalam jumlah terlalu besar, apalagi dari berjualan sesuatu yang menurutnya tidak seharusnya diperjual beliakan.

Aku yakin betul, ibuku yang sangat kusayangi itulah sumber kebahagiaanku yang tiada habisnya selama ini. Meski aku mentransfer sejumlah besar kebahagiaan kepada orang lain, namun ketika aku pulang ke rumah dan melihat ibuku sehat dan bahagia, stok kebahagiaan di dalam diriku kembali terisi.

“Maaf kemalaman, Ma. Keasyikan ngobrol sama Teh Yasmin sampai lupa waktu,” kataku seraya menutup pintu depan rumahku.

“Yasmin sehat?” tanya ibuku sambil duduk disofa di depan televisi, dengan selimut tebal menutupi kakinya. Beliau sudah terlalu tua, usianya sudah melewati 60 tahun, dan fakta bahwa beliau bekerja terlalu keras semasa mudanya menghidupiku, tampak mulai menggerogoti fisiknya.

Aku melihat senyuman di wajah ibuku, tapi senyuman itu tak dapat menutupi kondisinya yang sudah tua, letih, dan menderita beberapa penyakit.

“Sehat,” jawabku, “Tumben-tumbenan tadi Teh Yasmin mentraktir aku kopi. Dia sedang bahagia sekali nampaknya.” Aku terdiam sesaat, lalu melanjutkan sambil bergurau, “mungkin sedang punya pacar baru.”

Aku duduk di depan sofa dimana ibuku duduk. Kulepaskan sarung tanganku dan kujulurkan tanganku. Aku bermaksud meraih kedua tangannya dan mentransfer sisa-sisa kebahagiaan yang kumiliki hari itu kepadanya. kepada sumber kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Tapi, seperti biasanya, ibuku dengan cepat menarik kedua tangannya dan menyembunyikannya di bawah selimut yang membungkus kakinya.

“Kenapa sih, Ma? Belakangan ini Mama tidak pernah mau kalau aku mentransfer kebahagiaanku pada Mama,” protesku, “dulu waktu aku masih kecil, Mama oke-oke saja.”

“Dulu dan sekarang berbeda,” kata ibuku, “sekarang kamu mentransfer kebahagiaan-kebahagiaanmu dalam jumlah besar pada banyak orang lain. Mama sebetulnya tidak suka kamu memperjualbelikan kebahagiaan. Tapi, di satu sisi, kita butuh uang untuk hidup. Di sisi lain, meski kamu melakukannya demi uang, apa yang kamu berikan adalah kebahagiaan yang sebetulnya orang-orang itu butuhkan tapi tak bisa mereka dapatkan.”

“Apa masalahnya? Aku akan berikan kebahagiaan pada Mama juga, sebanyak apapun yang mama inginkan.”

“Tidak dengan cara seperti itu.”

“Kenapa, Mama?”

“Kebahagiaan yang kamu berikan pada Mama dan orang-orang lain, berasal dari stok kebahagiaan di dalam dirimu. Kalau stok kebahagiaanmu habis bagaimana? Kamu juga akan merasa tidak bahagia, dan tidak ada yang dapat kamu lakukan.”

“Bukan masalah untukku,” jawabku, “aku telah melakukan hal seperti ini selama belasan tahun. Stok kebahagiaanku tidak pernah habis. Karena kebahagiaan Mama adalah sumber kebahagiaanku. Kalau habispun, demi Mama. Apalah artinya kalau dibandingkan apa yang sudah Mama lakukan untukku sejak aku kecil.”

“Itulah masalahnya,” kata ibuku, “Mama sudah tua, masalah umur hanya soal waktu saja. Kalau Mama sudah tidak ada bagaimana? Kamu jadi akan kehilangan kebahagiaanmu, begitu? Tidak, Arun. Tidak seperti itu. Ingatlah, kamu masih sangat muda. Kamu kelak akan punya istri dan anak. Kamu juga ingin membahagiakan istri dan anakmu kan?”

“Pasti dong, Ma!”

“Kamu mau membahagiakan mereka pakai apa kalau stok kebahagiaanmu habis?” katanya. Kalimatnya langsung mengingatkanku pada obrolanku dengan Yasmin di kafe tadi sore.

“Untuk bisa membahagiakan orang lain, kamu terlebih dahulu harus bahagia,” ibuku menceramahiku panjang lebar, “kamu tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan pada istri dan anakmu kalau kamu sendiri tidak memiliki stok kebahagiaan untuk dibagi-bagikan. Jangankan jualan, Yasmin bahkan tidak akan bisa mentraktirmu segelas kopi gratis kalau dia sendiri kehabisan stok kopinya.”

“Kalau berteman saja tidak perlu, kan?” kataku dengan bergurau.

“Sama saja!” sergah ibuku, “aturan itu berlaku untuk hubungan apapun. Persahabatan sekalipun membutuhkan kebahagiaan sebagai pondasinya. Kalau kamu pernah melihat hubungan pertemanan yang toxic dan saling menggerogoti, itulah sebabnya. Mereka tidak bahagia dengan diri mereka sendiri, makanya menggerogoti orang lain.”

“Jadi Mama nggak mau?” tanyaku sambil menyodorkan tanganku.

“Nggak. Dan sejujurnya, kalau bisa, Mama ingin kamu mencari uang dengan cara lain saja. Bukan dengan berjualan kebahagiaan pada orang lain.”

Aku menghela nafasku.

“Kamu mau tahu bagaimana caramu bisa membuat Mama bahagia?” tanya ibuku.

“Bagaimana, Ma?”

“Dengan cara tidak duduk menghalangi televisi ketika Mama-mu sedang menonton telenovela favoritnya!”

Dengan cepat kepalaku menoleh kebelakang, ke arah televisi yang ternyata memang sedang menayangkan acara telenovela favorit ibuku.

Alamak.

“Oh, maaf, Mama,” kataku sambil menggeser posisi dudukku kesamping.

“Makan dulu sana,” kata ibuku sambil perhatiannya tetap terfokus ke arah televisi, “Mama masak ikan goreng dan sambal bawang favoritmu, tuh.”

Aku rasa percuma tetap mencoba berdebat dengan wanita tua seperti ibuku. Sambil tersenyum ke arahnya, akupun bangkit dari dudukku, menuju dapur untuk menghabiskan makanan yang sudah disiapkan oleh ibuku.

Hari-hari setelahnya berjalan sebagaimana biasanya. Banyak pelanggan-pelanggan lamaku yang menghubungiku untuk membeli kebahagiaan, belum lagi pelanggan-pelanggan baru yang mengetahui tenatng aku dari pelanggan lamaku. Hari-hari itu aku menemui banyak tipe pelanggan. Ada karyawan kantoran, pengusaha, ibu rumah tangga, sampai ke anak sekolahan. Sebagian dari mereka kupikir semestinya sudah cukup bahagia dengan hidup mereka, tapi ternyata mereka masih membeli kebahagiaan dariku dalam jumlah yang tiak sedikit.

Lama-lama, harus kuakui, aku mulai merasa seperti penjual narkotik.

Yang lebih mengejutkanku, untuk pertamakalinya semenjak aku menginjak usia 20 tahun, aku kedatangan pelanggan yang masih berusia SD. Mungkin sekitar 8 atau 9 tahun. Seorang gadis kecil beambut panjang sepunggung. Ia membeli kebahagiaan dariku sejumlah 120.000 Rupiah. Angka yang sangat fantastis untuk ukuran anak SD.

Sejujurnya, aku merasa miris. Seorang gadis kecil, berusia tak sampai 10 tahun, sampai mengeluarkan sebesar 120.000 Rupiah hanya untuk membeli kebahagiaan. Tak bisa kubayangkan ketidakbahagiaan seperti apa yang tengah dirasakannya. Fakta bahwa gadis sekecil itu memiliki uang sebanyak itu berarti semestinya orang tuanya kaya raya. Apa yang membuatnya sampai merasa se-tidak bahagia itu? Ia seharusnya bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan.

Eh, kecuali…

Kecuali jika gadis kecil itu menginginkan perhatian dari kedua orang tuanya, yang mungkin selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.

Aku hanya bisa berasumsi, tentunya. Aku berprinsip untuk tidak mencari tahu alasan kenapa para pelangganku membeli kebahagiaan dariku. Aku tidak ingin mengetahui apa yang membuat mereka merasa tidak bahagia, semata-mata karena aku tidak ingin ikut terseret ke dalam perasaan tidak bahagia itu.

Lalu, pada suatu siang sebuah telepon masuk ke ponselku. Telepon itu berasal dari Arina, tetangga yang tinggal di rusun yang sama dengan kami, yang kupekerjakan untuk membantu membereskan rumah dan mencuci pakaian. Aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan itu dengan baik, dan ibuku sudah terlalu tua untuk melakukannya sendiri. Gadis itu biasanya datang siang hari, selepas jam maka siang.

Hari itu ia meneleponku karena ketika ia memasuki rumah kami siang itu, ia mendapati ibuku terjatuh tak sadarkan diri di dapur.

Seketika aku panik.

Arina telah menyampaikan bahwa ia segera memanggil ambulans dan ibuku sudah dibawa ke Rumah Sakit untuk diperiksa kondisinya. Aku langsung meluncur ke Rumah Sakit yang dimaksud. Ibuku sedang berada diruang perawatan, dan akupun tidak diperkenankan untuk masuk. Dokter masih mengobservasi kondisi beliau.

Ketika aku duduk di ruang tunggu dengan wajah kubenamkan ke kedua tanganku itulah untuk pertama kalinya aku merasakan hal yang tak pernah kurasakan sebelumnya.

Kosong. Hampa. Takut. Panik. Kacau.

Tidak bahagia.

Ibuku, satu-satunya sumber kebahagiaan dalam hidupku, tengah dalam kondisi kritis.

Lama aku duduk di ruang tunggu Rumah Sakit itu, menanti kabar dari Dokter tentang bagaimana kondisi ibuku. Dokter sama sekali tak mengizinkanku untuk ikut masuk ke dalam ruangan. Barangkali karena stres karena menunggu kabar dan juga kelelahan, aku jatuh tertidur di kursi ruang tunggu Rumah Sakit itu. Aku terjaga pada pagi harinya, beberapa jam kemudian ketika salah seorang perawat membangunkanku. Ada sesuatu yang ingin Dokter sampaikan, katanya. Rasa kantuk yang awalnya masih menyengat tiba-tiba menghilang. Segera aku berlari ke arah sang Dokter yang menunggu di ruangannya.

Cukup banyak yang Dokter itu katakan. Aku nyaris tak dapat mengingat semuanya. Kepalaku sedang sangat tidak fokus. Namun yang aku ingat, Dokter mengatakan bahwa sejauh ini, kondisi ibuku dapat dikatakan stabil. Walaupun demikian, Dokter masih harus memantau keadaannya dalam dua atau tiga hari ke depan.

Rumah Sakit tempat ibuku dirawat itu bukan sebuah Rumah Sakit besar. Dokter sangat tidak merekomendasikanku untuk tidak menunggu di Rumah Sakit, mengingat kondisi ibuku, menurutnya, tidak kritis. Sementara di Rumah Sakit itu banyak sekali kerabat dari pasien-pasien lain yang kondisinya jauh lebih kritis menunggu disana. Kondisi yang terlalu penuh sesak tidak bagus bagi semua pihak.

Sang Dokter meyakinkanku, bahwa kondisi ibuku tidak dalam situasi berbahaya. Beliau berjanji akan segera mengabarkan padaku jika kondisi ibuku sudah sehat kembali dan aku dapat membawa ibuku pulang.

Dalam kondisi tertekan, karena tak tahu bagaimana tepatnya kondisi ibuku, aku sedang sangat merasa tidak ingin pulang. Satu-satunya tempat yang terpikir olehku ingin kukunjungi adalah kafe milik Yasmin.

“Kenapa kau? Kau tampak seperti baru keluar dari neraka,” celetuk Yasmin ketika ia melihatku berdiri di ambang pintu kafenya.

“Aku justru merasa seperti baru masuk ke neraka,” sahutku.

“Wow!” seru Yasmin, ia tampak heran, matanya membelalak lebar.

“Sepanjang aku mengenalmu, tidak pernah aku melihat, dan mendengarmu seperti itu,” kata wanita cantik pemilik kafe itu, “ada apa?”

Kuceritakan padanya semua yang terjadi. Apa yang terjadi pada ibuku, bagaimana kondisi beliau saat ini, termasuk apa yang saat ini tengah kurasakan. Perasaan yang tak pernah kurasakan sepanjang hidupku. Kosong. Hampa. Takut. Panik. Kacau. Tidak bahagia. Kebahagiaan yang, dengan sombongnya, kubanggakan padanya sebagai tiada habisnya, kini tiba-tiba hilang begitu saja. Semuanya. Tanpa sisa.

“Jadi sekarang kau tak bisa lagi mentransfer kebahagiaan pada orang lain?” tanya Yasmin.

“Sejujurnya,” jawabku, “aku belum mencobanya.”

Aku menghentikan kata-kataku, dan memandangi Yasmin lekat-lekat.

“Apa?” tanyanya, “kau mau mencobanya padaku?”

“Tidak ada salahnya kan? Maksudku, toh, apapun hasilnya, Teh Yasmin tidak rugi apapun.”

“Oke. Yeah. Tapi saat ini aku sedang merasa bahagia-bahagia saja. Aku khawatir usahamu untuk memastikan apa yang kau pastikan bisa berakhir sia-sia, kalau bukan tidak optimal.”

Aku menghela nafas panjang.

“Mungkin Dita bisa membantumu,” kata Yasmin kemudian sambil menunjuk ke belakangku. Kutolehkan kepalaku, dan kulihat si pelayan kafe yang tempo hari mengantarkan kopi kepadaku tengah merapikan meja-meja. Pelayan kafe yang judes dan berwajah datar itu.

“Bagaimana dia bisa membantuku?” tanyaku tak mengerti.

“Dia sedang tidak bahagia.”

Kutolehkan kembali kepalaku ke belakang. Kuamati si pelayan yang bernama Dita itu. Wajahnya tetap kelihatan judes dan datar, seperti biasanya.

“Maksud Teteh, sewaktu aku kesini sebelumnya, ia sedang bahagia?”

“Yep.”

“Dan sekarang ia sedang tidak bahagia?”

“Yep.”

Kupandangi si pelayan bernama Dita itu lagi. “Aku tidak bisa melihat perbedaannya,” celetukku sambil menyeruput teh manis hangat di mejaku.

“Sialan,” aku mendengar si pelayan menggerutu, sambil ia masih tetap terus bekerja merapikan meja-meja di kafe itu dengan ekspresi wajah datarnya yang khas itu.

“Memangnya sekarang dia sedang tidak bahagia karena apa?” tanyaku lagi.

“Kemarin dia baru diputuskan oleh pacarnya,” jawab Yasmin datar.

“Sialan,” aku mendengar si pelayan itu kembali menggerutu.

“Jadi,” kataku pada pelayan bernama Dita itu, “kau mau membantuku memastikan sesuatu?”

“Apa aku boleh menolak?” sahutnya.

“Boleh saja,” jawab Yasmin, “tapi kalau kemampuan Arun masih berfungsi dengan baik, ia bisa melenyapkan perasaan galau, gundah gulanamu.”

Dita tampak berpikir sejenak, lalu nampaknya ia memutuskan untuk menyetujuinya. Sesaat kemudian ia melangkah mendekatiku sambil menjulurkan tangan kanannya. Aku melepaskan sarung tanganku yang masih kukenakan, dan kugenggam tangan si pelayan itu. Beberapa detik berlalu, aku tidak merasakan aliran perpindahan. Ekspresi wajah Dita si pelayanpun tidak berubah. Oke, yang terakhir itu mungkin agak sulit. Dan bukan salahku. Setting-an wajahnya mungkin memang sudah seperti itu sejak lama.

“Jadi,” kata Dita, “seharusnya aku merasakan seperti ada aliran sesuatu memasuki tubuhku melalui tanganmu, dan perasaanku berubah ke arah positif, ya kan?”

“Ya,” jawabku, “kau merasakannya?”

“Nggak,” jawab di pelayan singkat.

Seketika aku menggeram dengan kesal sambil menarik tanganku dari Dita dan lalu menangkupkan kedua telapak tanganku ke wajahku. Apa yang dikatakan Yasmin tempo hari ternyata benar adanya. Aku tak bisa mentransfer kebahagiaan, tidak sedikitpun, jika aku sendiri kehabisan stoknya.

Dengan perasaan kesal, kuletakkan selembar uang yang merupakan pembayaran atas secangkir teh manis hangat yang kupesan di meja, lalu aku berlalu keluar dari kafe, tanpa berkata apapun.

Aku tidak tahu lagi harus kemana, namun tampaknya kakiku membawaku ke sebuah danau buatan di tengah kota, yang disekitarnya berdiri taman-taman yang hijau dan indah. Aku menyandarkan tanganku ke pagar pembatas danau itu sambil sesekali melempar-lempar batu-batu kecil ke danaunya.

“Aduh!!” aku tiba-tiba mendengar seruan kesakitan dari seorang gadis, diikuti suara barang-barang yang jatuh berserakan. Refleks, kutolehkan kepalaku ke belakang. Disana, kulihat seorang gadis, kelihatannya berusia beberapa tahun lebih muda dariku, tengah mengaduh kesakitan, dengan sebuah kotak kardus terguling diatas pangkuannya. Isi dari kotak kardus yang terbuka itu nampak berserakan disekitarnya. Bermaksud menolongnya, aku dengan cepat berlari mendekat.

“Terima kasih, Kak,” kata gadis itu dengan ceria setelah aku membantunya berdiri kembali dan memasukkan barang-barang dari kotak kardus tadi kembali ke dalamnya. Barang-barang dalam kotak kardus itu, sejauh yang kulihat, berisi mainan anak-anak dalam jumlah yang cukup banyak.

“Mau kemana bawa mainan sebanyak ini? Jualan?” tanyaku penasaran.

“Bukan, Kak. Ini semua mau disumbangkan. Ini dari donatur,” jawabnya sambil menunjuk ke arah mobil yang parkir tak jauh di dekat kami.

Kuamati bagian belakang mobil itu, bagasinya terbuka. Di dalamnya bertumpukan beberapa buah kotak kardus yang isinya mainan anak-anak, pakaian anak-anak, dan buku bacaan anak-anak.

“Sebanyak itu? Kemana?” tanyaku lagi dengan penuh penasaran.

“Iya, Kak. Ke Panti Asuhan di Jalan Kumbang,” jawabnya.

“Kamu menaik-turunkan barang sebanyak itu sendirian?”

“Seharusnya sama Ayahku, Kak. Tapi beliau sedang kurang sehat hari ini. Sementara itu, jadwal pengantaran barang-barang donasi ini sudah harus hari ini. Barang-barang ini sudah ditunggu oleh rekan aku yang sedang bersama tim manajemen Panti Asuhan.”

Gadis itu menatapku lekat-lekat, seakan ada sesuatu yang aneh di wajahku.

“Kakak mau ikut?” tanyanya kemudian.

“Eh?” sahutku, terkejut dengan ajakannya yang tak kusangka-sangka. “Ngapain juga aku ikut?” tanyaku balik.

“Kakak kelihatannya seperti sedang butuh hiburan.”

“Memangnya mengantar barang-barang donasi ke Panti Asuhan bisa jadi hiburan?”

Gadis itu tergelak. “Yah, mungkin memang nggak buat semua orang sih,” jawabnya menjelaskan, “tapi buat sebagian orang, seperti aku, ayahku, tim kami, dan para donatur, iya. Ya, bisa kok.”

“Bagaimana ceritanya?” tanyaku lagi, masih tidak yakin.

“Sudah, ikut aja!” ajaknya bersikeras sambil tersenyum ramah dan bersahabat. Aku sedang merasa tidak ingin pulang, dan berada sendirian di tepi danaupun bukan pilihan yang akan membuat situasiku jadi lebih baik. Aku belum pernah terlibat dalam kegiatan donasi seperti ini, apalagi mengunjungi Panti Asuhan. Jadi kupikir, kenapa tidak kucoba saja?

Sesaat kemudian, aku sudah duduk di kursi penumpang di mobil gadis itu, berkendara menuju Panti Asuhan yang dimaksud olehnya.

“Nama aku Krysta. Kakak?” ia memperkenalkan diri. “Arun,” jawabku singkat.

“Jadi,” katanya lagi, membuka percakapan, “Kakak sedang ada masalah apa?”

“Kata siapa aku sedang ada masalah?”

“Kakak coba ngaca deh,” jawabnya sambil terkekeh.

“Kelihatan banget ya, memangnya?”

“Iya, Kak.”

Perjalanan dari sana menuju Jalan Kumbang kira-kira setengah jam. Waktu yang lebih dari sekedar cukup untuk bercerita sedikit tentang apa yang kualami. Kuceritakan padanya apa yang baru saja dialami oleh ibuku, dan apa yang tengah kurasakan sebagai akibatnya.

Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang suka berkoar-koar soal kemampuan yang kumiliki, kecuali pada mereka yang kurasa sudah akrab, atau mereka yang kira-kira akan menjadi pelanggan potensial. Tapi hari itu, aku bercerita pada gadis yang baru kukenal beberapa menit yang lalu itu, tentang kemampuanku mentransfer kebahagiaan pada orang lain. Aku tidak berharap ia percaya. Bahkan, semua orang yang kuceritakan tentang kemampuanku itu menganggapku hanya berkelakar saja, sampai aku membuktikannya sendiri kepada mereka.

“Kenapa Kakak jualan?” tanyanya merespon ceritaku.

“Kenapa? Ya karena ada yang mau beli.”

“Ya, tapi kemampuan seperti itu langka. Dan kebahagiaan adalah hal yang dibutuhkan semua orang. Kakak bisa membuat seseorang yang tadinya mau bunuh diri, jadi membatalkan rencana bunuh dirinya lho.”

“Yah, itu mungkin untung buat mereka. Nggak buat aku. Kehidupanku pas-pasan. Aku juga butuh mengisi perut,” jawabku membela diri. Tapi lalu aku menghentikan kata-kataku. Sesuatu tiba-tiba melintas di kepalaku.

“Sebentar,” kataku, “kamu percaya?”

Gadis itu tertawa terbahak-bahak.

“Sejujurnya, Kak,” jawabnya, “nggak. Maksudku, nggak sepenuhnya. Entahlah. Tapi meski di usia segini, aku sudah melakukan cukup banyak hal. Ikut banyak kegiatan. Bertemu macam-macam orang. Seperti kegiatan mengantar donasi ini misalnya. Dari pengalaman-pengalaman itu aku belajar bahwa, banyak hal di dunia ini yang awalnya kupikir tidak ada, atau tidak mungkin terjadi, karena tidak masuk logikaku, tapi ternyata benar-benar ada. Dan benar-benar terjadi. Dari situ aku belajar untuk berusaha tidak langsung bersikap skeptis terhadap apa yang kulihat dan kudengar. Seaneh apapun itu.”

“Seaneh mentransfer kebahagiaan lewat sentuhan sekalipun?”

“Ya, Kak. Seaneh telepati dan teleportasi sekalipun,” gadis itu kembali tergelak.

“Sepertinya banyak sekali hal-hal aneh yang sudah kamu lihat,” celetukku. Gadis itu hanya merespon dengan tertawa terbahak-bahak.

“Lalu, kamu sendiri,” tanyaku lagi, “ngapain ribet-ribet mengurusi hal seperti ini? Angkut-angkut barang yang nggak sedikit. Mengantarnya ke Panti Asuhan, menyerahkannya pada orang-orang yang kamu bahkan mungkin sama sekali tidak kenal. Apa untungnya hal ini buatmu? Jangan bilang kalau kamu cuma mau berburu pahala saja.”

Gadis cantik bernama Krysta yang rambutnya berwarna agak kemerahan itu kembali tergelak. “Aku dan ayah ibuku bukan orang yang agamis, religius, spiritualis, apapunlah itu sebutannya. Bukan itu alasan kami melakukan ini,” katanya menjelaskan, “alasan kami, aku, melakukan keribetan ini, kalau mau pakai istilah Kakak, mungkin lebih karena untuk mengisi kembali stok kebahagiaan di dalam hatiku.”

“Hah? Bagaimana?” tanyaku kebingungan, keningku berkerut.

“Ini sulit dijelaskan sih, Kak. Dan seperti yang kubilang tadi, apa yang berlaku untukku, belum tentu juga berlaku untuk orang lain, kan. Tapi kita sudah sampai di Panti Asuhan. Kakak bantuin aku memberikan kotak-kotak itu pada anak-anak, ya?”

“Bukannya diserahkan ke staf manajemen Panti Asuhan?”

“Sebagian besarnya memang akan diserahterimakan lewat staf manajemen, tapi ada satu kotak yang isinya akan dibagi-bagi langsung kepada anak-anak asuh yang usianya masih dibawah lima tahun.”

“Untuk apa?”

“Dari sisi anak-anak, menurut kami, dan disetujui oleh staf manajemen, mereka juga perlu berinteraksi dengan para donatur, atau kami yang mewakili. Bagaimana mengatakannya ya. Ibaratnya mungkin begini. Ketika ada teman Kakak mau memberikan oleh-oleh pada Kakak, jika dia memberikannya langsung dengan jika dia titipkan lewat orang lain, rasanya sama nggak?”

Aku berpikir sejenak. “Nggak sih,” jawabku.

“Kakak, kalau boleh pilih, lebih suka teman Kakak itu memberikannya langsung atau lewat orang lain?”

“Memberikannya langsung, lah.”

“Ya, kan? Artinya, menerima sesuatu dari orang lain, meski barang yang sama, tapi diberikan langsung dan dititipkan, rasanya berbeda,” jelasnya.

Oke. Masuk akal.

Sambil berdiskusi, kami turun dari mobilnya yang sudah parkir di halaman Panti Asuhan. Ketika aku dan Krysta menghampiri bagasi mobil dan bersiap mengambil salah satu kotak kardus, aku melihat anak-anak kecil berusia tak lebih dari lima tahun berlarian dari pintu depan Panti dan menghampiri kami.

“Kakak pegang yang ini, dan duduk di situ ya. Aku bawa yang ini,” kata Krysta seraya menunjuk satu kotak berisi mainan, dan satu kotak berisi buku. Kami duduk diatas lantai di samping mobil, saling berdampingan. Aku memegang kotak berisi mainan dan Krysta memegang kotak berisi buku. Ketika anak-anak itu tiba ditempat kami duduk, lalu melihat mainan-mainan dan buku-buku yang kami bawa. Anak yang satu saling bersahutan dengan yang lain, berdiskusi tentang mainan dan buku yang mana yang masing-masing mereka ingin ambil. Suara tawa dan perbincangan mereka terdengar begitu ceria dan penuh semangat. Kontras sekali rasanya jika membayangkan bahwa mereka tinggal di sebuah Panti Asuhan, yang artinya mereka sudah tidak punya orang tua.

Ketika itulah sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya tiba-tiba merasuki tubuhku. Melihat senyum dan tawa anak-anak yang kelihatan polos dan bahagia itu, sebuah perasaan senang tiba-tiba seperti ikut mekar di dalam hatiku.

“Terima kasih, Kakak,” kata anak-anak itu saling bersahutan sambil membawa mainan dan buku yang mereka pilih kembali ke dalam Panti.

“Aku mau yang ini, ya. Terima kasih, Kakak,” kata seorang gadis kecil sambil menepuk-nepuk pipiku dengan polosnya, lalu berbalik dan kembali berlari ke arah salah satu staf Panti yang tengah menunggunya diambang pintu.

Ditengah perjalanannya, gadis kecil tadi tiba-tiba berhenti, menoleh ke belakang dan memandangiku sesaat sebelum kembali melanjutkan berlari ke arah Panti.

“Setidaknya,” kata Krysta, “melakukan ini membuatku lebih bersyukur. Maksudku, kehidupanku mungkin pas-pasan, tapi di umur segini, kedua orang tuaku masih lengkap. Aku masih bisa kuliah dan makan apa yang aku ingin makan. Sementara mereka…”

“Di umur sekecil itu, sudah tidak punya orang tua. tapi masih bisa kelihatan bahagia,” sahutku, “sementara itu aku, ibuku baru sakit saja, padahal menurut Dokter, beliau akan membaik, rasanya seperti sudah kehilangan segalanya.”

Sesaat kemudian, kulihat gadis kecil yang tadi menepuk-nepuk pipiku kembali berlari menghampiri kami. Kali itu, ia nampak seperti membawa sebuah kue kecil di tangannya yang mungil.

“Ini, untuk Kakak,” katanya sambil menyodorkan kue itu padaku. “Untuk aku? Kenapa?” tanyaku.

“Kakak kelihatannya sedang sedih,” jawab gadis kecil itu polos, “jadi aku minta kue sama Bu Rara. Kalau aku sedang sedih, Bu Rara kasih aku kue ini.”

“Kalau aku makan ini, aku jadi nggak sedih lagi?”

“Iya,” jawab gadis kecil itu sambil mengangguk dengan menggemaskan.

“Oh, iya. Terima kasih, ya,” kataku sambil mengambil kue itu dari tangan mungil gadis kecil itu dan mengusap-usap kepalanya.

“Iya!” jawabnya sambil kembali berlari ke arah Panti, menghampiri seorang wanita berusia sekitar 30-an yang kuasumsikan adalah Bu Rara yang dimaksud oleh gadis kecil itu.

“Kuenya sungguhan bisa bikin bahagia, nggak?” tanya Krysta ketika ia melihatku menggigit dan mengunyag kue yang diberikan oleh gadis kecil itu tadi. “Kuenya sih nggak,” jawabku, “tapi aku harus jujur, sikap gadis kecil itu justru yang membuatku merasa sedikit lebih bahagia dibanding ketika sebelum aku datang kesini.”

“Gadis sekecil itu,” kata Krysta, “sudah tidak punya orang tua, dan tinggal di Panti Asuhan. Tapi dia masih peduli dengan orang lain, ya. Dia lihat orang lain sedih, dia bawakan kue yang dia pikir bisa menghilangkan kesedihan orang lain. Kalau Kakak bagaimana?”

Aku seketika tergelak. “Iya, iya. Kuakui. Aku bisa mentransfer kebahagiaan pada orang lain hanya lewat sentuhan, tapi aku malah jualan. Nggak usah nyindir gitu juga, kali,” kataku sambil mengetuk-ngetukkan kue yang tengah kumakan ke hidung Krysta.

Krysta tertawa terbahak-bahak.

Setelah mengantarkan kotak-kotak lainnya ke ruangan manajemen Panti, kamipun pamit kepada Bu Rara, dan rekan Krysta yang membantu disana. Selama perjalanan kembali ke rumahnya yang tak jauh dari danau, kami banyak berbincang tentang kegiatan dan pengalamannya membantu donasi. Ia tidak memiliki banyak uang untuk didonasikan, itu sebabnya Krysta dan ayahnya memilih untuk berdonasi lewat tenaga. Membantu mengambil donasi dari para donatur, dan mengantarkannya kepada mereka yang membutuhkan.

Setibanya kembali di rumah Krysta, aku mengantarnya sampai ke depan rumahnya, sekedar untuk berpamitan dengan orang tuanya. Ketika aku berjabatan tangan dengan Krysta untuk pamit, disaat yang sama aku merasakan sebuah aliran energi yang terasa hangat, mengalir dari tanganku ke tangan Krysta.

Aku melihat Krysta nampak tiba-tiba kaget dan tertegun sesaat. Aku tahu iapun merasakan aliran energi itu memasuki tubuhnya lewat jabatan tangan kami.

“Harus kuakui,” kata Krysta sambil tertawa, “ketika Kakak bercerita soal kemampuan Kakak, aku agak sedikit skeptis. Sedikit. Tapi sekarang aku percaya sepenuhnya.”

“Aku tidak menyalahkanmu,” sahutku.

“Sekarang kemampuan Kakak sudah kembali, apa yang akan Kakak lakukan?”

“Aku belum tahu. Tapi, sebagai apresiasi atas gadis kecil yang memberiku kue yang manisnya seperti diberi gula setoples itu, aku setidaknya akan berhenti jualan.”

“Aku lebih senang mendengarnya!” sahut Krysta bersemangat.

Akupun berbalik dan bergegas meninggalkan Krysta, berencana untuk menuju Rumah Sakit, mengecek kondisi ibuku.

“Kak Arun,” panggil Krysta tiba-tiba. Aku kembali menoleh.

“Kapan-kapan Kakak mau ikut mengantar lagi?”

Senyuman lebar seketika merekah di bibirku.

“Pasti, Ta! Pasti!” jawabku yakin sambil kembali melanjutkan perjalananku. Saat itu juga, ponselku berdering. Telepon dari Rumah Sakit, yang mengabarkan bahwa ibuku sudah pulih sepenuhnya dan dapat segera pulang. Karenanya, aku diminta ke Rumah Sakit untuk mengurus administrasi dan melunasi pembayaran.

Kau tahu, ketika pelajaran dan pengalaman berharga datang, disusul dengan sebuah kabar baik, kurasa itu saatnya bagi kita untuk juga lebih bersyukur atas apa yang kita miliki. Bersyukur, bukan hanya lewat doa, dan harapan, namun juga seharusnya lewat sikap. Krysta, dan gadis kecil di Panti Asuhan itu mengajarkanku bahwa tidak harus terlebih dahulu memiliki segalanya untuk dapat merasa bahagia.

Kebahagiaan ternyata juga bisa didapat dengan cara membuat orang lain bahagia.

Kebahagiaan dapat datang dengan caranya sendiri, cara yang mungkin tak kita duga, ketika kita sudah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Ketika perjalananku tiba disebuah persimpangan, aku dihadapkan pada pilihan. Sebuah jalanan yang kosong dan lebih singkat menuju Rumah Sakit. Atau jalan lain yang sedikit lebih memutar dan jauh lebih ramai.

Aku memilih jalan yang lebih ramai.

Aku berlari melewati kerumunan orang-orang yang memenuhi jalan itu. Kerumunan yang penuh sesak, namun kerumunan itu justru memudahkanku untuk dapat secara acak menyentuh orang-orang yang kulewati.

Dua detik. Tiga detik. Lima detik.

Berbagi kebahagiaan, dengan caraku.

3 thoughts on “Happiness is on Sale

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: