Deeper into the Night

“Yuk, semuanya. Saya duluan!” kataku pada Dewa dan Pak Rendy yang bertugas jaga di shift terakhir, jam 11 malam sampai jam 7 pagi.

Kami bertiga bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu mall yang cukup besar di Semarang. Aku dan rekanku Endry baru saja menyelesaikan shift kami pada pukul 11 malam. Endry yang sudah memiliki istri dan anak, langsung pulang selepas selesai shift. Sementara aku masih berbincang-bincang dahulu dengan Dewa dan Pak Rendy selama sekitar satu jam, sebelum akhirnya pamit.

“Arya tinggal di daerah mana?” tanya Pak Rendy.

“Di Kemuning, Pak,” jawabku singkat.

“Kamu baru empat bulan kan ya di Semarang?”

“Iya, Pak.”

“Kalau ke Kemuning jam segini, jangan lewat Kamboja ya.”

“Kenapa memang?”

“Horor, Ya. Jangan tanya horornya bagaimana!” Dewa menyahut sambil tertawa.

“Waduh,” jawabku sambil tergelak, “yah, lagian jadi lebih berputar jauh juga kalau ke kosku lewat Kamboja sih.”

“Hati-hati di jalan, Ya!” kata Pak Rendy setelah aku mengenakan jaket dan helmku dan duduk di atas motorku, bersiap untuk meluncur. Mengenakan helm full-face, salamku mungkin tak akan terdengar oleh mereka, sehingga aku menarik gas motorku sambil hanya melambaikan tanganku saja.

Perjalanan dari tempat kerjaku ke kosku, di jam seperti ini, dapat ditempuh dalam waktu satu jam saja. Jika siang hari dan sedang ramai, biasanya sekitar satu setengah sampai dua jam.

Kenapa aku memilih kosan yang letaknya sejauh itu dari tempat kerja?

Ya, karena murah! Dengan sisa budget yang ada, aku masih dapat menggunakannya untuk banyak sekali keperluan-keperluan lain.

Ketika motorku mendekati perempatan Kamboja, seharusnya aku hanya perlu tinggal memacu motorku lurus saja, dan akan tiba di area Kemuning, namun sesuatu yang tak kusangka-sangka terjadi. Jalanan lurus itu tengah ditutup dikarenakan sedang ada pekerjaan jalan. Kelihatannya seperti pemasangan pipa, atau semacamnya. Semua kendaraan yang melintas langsung diarahkan ke jalur lain. Dari arah kedatanganku, belokan ke kiri menuju Kamboja, dan ke kanan menuju Lavender.

Meski sudah tengah malam, masih ada beberapa kendaraan yang lewat, dan semua yang datang dari arah Lavender, pasti berbelok ke arah Mawar, jalan darimana aku datang. Dan semua yang datang dari arah Mawar, pasti berbelok ke Lavender. Tidak ada satupun kendaraan yang melintas ke arah Kamboja.

Aku langsung teringat peringatan dari Dewa dan Pak rendy, untuk tidak melewati Kamboja di jam segini.

Masalahnya, kalau aku berbelok ke Lavender, jalannya jadi berputar jauh sekali. Total waktu tempuh bisa nyaris dua jam. Gila. Sementara itu, aku pernah melewati Kamboja pada siang hari sebelumnya ketika menuju tempat kerjaku, dan perbedaan waktu tempuhnya tidak lebih dari setengah jam saja. Saat ini sudah jam 12 malam. Memilih jalan yang berputar dua kali lebih jauh jelas bukan pilihan yang menyenangkan. Aku sudah terlalu letih dan perlu berbaring di kasur!

Tapi itu berarti pilihan yang tersisa hanyalah berbelok ke arah Kamboja.

Namun, bagaimana dengan peringatan Dewa dan Pak Rendy?

Kutepis pikiran itu. Aku pernah melewati Kamboja sebelumnya, aku tahu betul jalurnya. Aku cukup menarik gas motorku secepat mungkin dan jangan berhenti sampai tiba di Kemuning! Itu saja!

Dengan mantap, walaupun sejujurnya agak takut juga, kubelokkan motorku ke arah kemuning, dan kutancapkan gas motorku.

Daerah Kamboja ini merupakan bekas kawasan kompleks industri. Banyak toko-toko, hotel, dan perumahan, namun nyaris semuanya terbengkalai, tidak berpenghuni. Hal itu, konon, disebabkan karena gagalnya proyek pembangunan kompleks industri itu beberapa tahun yang silam. Semenjak itu, daerah itu seperti tidak terurus. Dibiarkan seperti itu begitu saja. Ada beberapa warung-warung yang berdiri di sepanjang jalan pada siang hari, namun kebanyakan yang mengisi daerah itu adalah anak-anak jalanan, preman-preman, anggota geng motor, atau para tunawisma.

Memang, pada siang haripun, Kamboja hitungannya bukan kawasan yang aman untuk dilewati. Siang hari ancamannya adalah para preman dan geng motor, lalu pada malam hari ada makhluk halus.

Dengan pikiran itu, kupikir di jam tengah malam, Kamboja seharusnya sudah akan sepi seperti kuburan. Tapi ternyata aku salah. Beberapa meter aku masuk ke daerah itu, aku masih dapat melihat beberapa warung kaki lima menyala terang, cukup ramai dengan beberapa pelanggannya yang sedang duduk-duduk dan makan-makan.

Tidak hanya itu, aku melihat beberapa anak muda nongkrong-nongkrong di pinggir jalan. Sebagian kuduga adalah anggota geng motor juga.

Kalau memang daerah Kamboja ini sehoror yang dikatakan Dewa dan Pak Rendy, seharusnya derah ini sepi di jam segini. Kalaupun ada orang, seharusnya hanya orang-orang yang melintas dengan kendaraan saja, sepertiku, dan bukan yang sedang nongkrong-nongkrong. Apalagi membuka warung tenda dan kaki lima. Keberadaan warung kaki lima dan anak-anak muda yang nongkrong-nongkrong ini membuatku berpikir bahwa Kamboja tidak sehoror yang Dewa dan Pak Rendy katakan.

Mungkin akan jadi horor untuk mereka yang kalau lihat penampakan hantu sedikit langsung jantungan. Apapun itu, toh, aku tidak berencana untuk mampir juga disana. Karenanya aku tetap menarik gas motorku dalam-dalam.

Dalam perjalananku itu, sesuatu sempat menarik perhatianku.

Aku melihat seseorang yang nampak seperti seorang gadis muda, tengah berjalan dengan terpincang-pincang ke arah yang sama dengan arah perjalananku.

Kulihat pakaian gadis itu, yang berwarna putih, tampak compang-camping dan seperti ada noda darah. Sekilas aku dapat melihat wajah gadis itu seperti meringis menahan sakit. Aku khawatir gadis itu baru saja menjadi korban pemerkosaan, atau setidaknya penyerangan, oleh preman atau anggota geng motor yang nongkrong di daerah itu.

Situasi ini agak dilematis. Kalau aku tidak berhenti dan membantu gadis itu, bisa saja ia akan berpapasan dengan preman lain di depan sana. Dan di jam tengah malam, di daerah seperti itu, resiko ia akan mengalami hal buruk lagi jauh lebih besar. Karenanya kuputuskan untuk berhenti dan membantunya, menawarinya untuk mengantarnya pulang.

Toh aku sudah memastikan bahwa kaki gadis itu menapak ke tanah.

Yang artinya dia bukan hantu.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyaku sambil menghentikan motorku di sampingnya. Gadis itu tampak terkejut dan panik. Ia hampir saja mencoba berlari dariku dengan kakinya yang terluka, tapi aku mencoba meyakinkannya bahwa aku bermaksud menolongnya dengan menunjukkan seragam petugas keamananku dari balik jaketku.

Gadis itu tidak menjawab apapun pertanyaanku. Apakah ia baik-baik saja? Atau apa yang telah terjadi padanya?

Satu-satunya pertanyaanku yang dijawabnya adalah tentang dimana ia tinggal, karena aku akan membantu mengantarnya pulang. Gadis itu, dengan singkat dan agak terbata-bata, berkata bahwa rumahnya ada di salah satu komplek perumahan di daerah Kamboja, tak jauh dari posisi kami berada saat itu.

Awalnya kupikir perumahan di kawasan Kamboja itu semuanya tebengkalai dan tak berpenghuni. Namun tampaknya masih ada beberapa yang ditinggali.

Kuminta gadis itu naik ke jok belakang motorku.

Gadis itu awalnya menolak, ia kelihatan skeptis. Aku tidak menyalahkannya. Tapi aku berusaha meyakinkannya sekali lagi bahwa aku akan mengantarnya sampai rumah dengan aman. Ia akhirnya naik juga ke jok belakang motorku.

“Ke arah mana rumah kamu?” tanyaku.

“Gerbang di depan itu belok kiri, Kak,” katanya.

“Yang ada anak-anak motor pada nongkrong itu?” tanyaku memastikan. Hanya beberapa meter di depan kami, memang kulihat segerombolan anak-anak muda, laki-laki semua, dengan motor-motor di sekitar mereka, tengah nongkrong-nongkrong di ujung tikungan. Ketika motorku mendekati mereka, sebagian dari mereka yang posisi duduk dan berdirinya mengarah ke arah kedatanganku memandangiku. Awalnya pandangan mereka biasa saja, selayaknya kita melihat sebuah kendaraan melintas ketika kita tengah berada di tempat tongkrongan.

Namun, segera setelah motorku berbelok di tikungan dan melewati gerbang kompleks perumahan, salah satu dari mereka seperti kelihatan terkejut, lalu berdiri dan mengejarku. Ia berlari mengejarku sambil melambai-lambaikan tangannya dan seperti berkata sesuatu. Tapi aku tak dapat mendengar apa yang dikatakannya karena tertutup suara motorku dan jarak yang semakin jauh memisahkan kami.

Aku tentu saja mengabaikannya.

Maksudku, menghampiri segerombolan anak-anak muda yang kelihatan seperti anggota geng motor, tengah duduk-duduk dan minum-minum, yang kemungkinannya alkohol, ditengah malam? Lebih besar resikonya.

Mereka mungkin juga bukan orang jahat, tapi bagaimana kalau ternyata iya?

“Masih jauh rumahnya?” tanyaku lagi setelah memasuki kompleks perumahan itu sejauh kira-kira 200 meteran.

“100 meteran lagi, Kak. Di sebelah kiri,” jawabnya dengan lemas.

Kuamati jalanan di sepanjang kompleks perumahan itu. Rumah-rumah disana kelihatan masih sangat jarang. Jarak antar rumah yang satu ke rumah lainnya rata-rata sekitar 10–20 meter. Dan sejauh yang kulihat, semua rumah-rumah itu gelap. Tak nampak ada pencahayaan lampu rumah sama sekali. Lampu-lampu jalanpun sangat jarang, dan dapat dikatakan cukup redup.

“Depan itu, Kak,” kata gadis itu seraya menunjuk sebuah rumah di ujung kompleks. Di ujung jalan itu nampak sebuah gerbang lain, namun tertutup rapat dan kelihatannya terkunci. Di sisi kiri jalan, tepat disamping gerbang, berdiri sebuah rumah bertingkat dua. Rumah itupun gelap gulita, tak ada cahaya lampu sama sekali dari dalamnya.

Beberapa meter sebelum mendekati rumah itu, aku melihat seperti ada dua orang anak muda, berusia sekitar 20-an awal, tengah duduk-duduk diatas motor mereka sambil merokok. Mereka duduk-duduk di sisi kanan jalan, di seberang rumah gadis yang kubonceng itu. Di belakang mereka berdiri rumput-rumput ilalang yang cukup tinggi, dan pohon-pohon liar.

“Benar ini rumah kamu?” tanyaku dengan agak tidak yakin setelah gadis itu turun dari motorku setibanya kami di depan gerbang rumahnya. Tidak ada rumah lain di sekitarnya. Jarak rumah itu ke rumah tetangga terdekatnya ada sekitar 50 meteran di belakang kami. Sejauh mata memandang dari rumah itu ke rumah terdekat yang nampak hanya rumput-rumput ilalang yang cukup tinggi, dan pohon-pohon liar.

“Iya, ini rumah aku. Terima kasih ya, Kak,” jawabnya.

“Eh, iya. Sama-sama. Kok gelap?”

“Papa dan Mama aku sudah tidur jam segini, jadi lampu dimatikan.”

“Tapi kok lampu terasnya juga mati?” tanyaku lagi. Yah, mematikan lampu-lampu rumah ketika tidur malam adalah hal yang wajar, tapi biasanya lampu teras dan lampu taman tetap menyala. Apalagi aku melihat jelas ada lampu teras dan lampu taman terpasang di rumah itu.

“Nggak tahu, Kak. Lampunya putus, mungkin.”

Aneh juga semua lampu teras dan tamannya putus bersamaan, dan orang tuanya tak berusaha mengganti bahkan salah satunya sebelum beranjak tidur.

Tapi, ah, bukan urusanku.

Ketika aku berusaha menyalakan kembali sepeda motorku, ia tak mau menyala. Semua upaya telah kulakukan. Hal-hal yang kira-kira dapat menyebabkannya pun sudah aku periksa. Tapi tidak menemukan apa yang membuatnya tak mau menyala.

“Nggak bisa, Kak?” tanya gadis itu.

“Nggak bisa. Aku sudah terlalu lelah untuk utak-atik juga,” gumamku.

“Apa Kakak mau menginap dulu saja? Ada kamar kosong, kok.”

“Ah, nggak usah deh. Terima kasih,” jawabku, “boleh aku titip motor di rumah kamu malam ini? Besok aku ambil. Aku mau jalan kaki saja ke depan, terus nanti naik taksi. Gila juga kalau mesti mendorong sepeda motor sampai ke depan sejauh itu.”

“Oh, iya. Boleh, Kak,” jawabnya.

Setelah memasukkan motorku ke dalam pagar rumah gadis itu, akupun langsung pamit. Perjalanan menuju ujung gerbang depan bakalan lama. Mungkin ada sekitar 800 meter. Aku menghela nafas panjang.

Dalam perjalananku dengan berjalan kaki kembali ke gerbang depan, aku kembali melewati dua orang anak muda yang tengah merokok tadi. Posisi mereka ada di seberang rumah gadis tadi, yang berarti ketika aku kembali melewati mereka, posisi mereka ada di sebelah kiriku. Ketika aku melewati mereka, aku sedikit melirik ke arah kedua pemuda itu sambil sedkit menganggukkan kepalaku. Sebuah gestur umum sebagai ganti kata ‘permisi’ ketika melewati orang-orang yang merupakan penghuni di daerah asing yang tengah kulewati. Mereka tidak merespon.

“Bang,” salah satu dari mereka, yang masih merokok dan mengenakan kemeja flanel kotak-kotak merah dan celana jins selutut memanggilku.

“Ya?” sahutku, berusaha sopan.

“Abang ngapain kesana tadi?” tanyanya.

“Oh, saya mengantar pulang seorang gadis yang tadi saya lihat terluka. Saya nggak kenal juga, cuma karena kasihan lihat dia terluka, jadi saya tawari mengantarnya pulang,” jawabku. Aku bertanya-tanya, apa maksud mereka mengajukan pertanyaan itu. Maksudku, tidakkah jelas ketika aku melewati mereka, aku tengah memboncengkan seorang gadis dan lalu berhenti di depan rumahnya.

Kedua pemuda itu saling berpandangan dengan penuh keheranan.

“Gadis mana?” tanya pemuda yang satu lagi, yang mengenakan kaos kuning dan celana jins panjang.

“Hah? Gadis mana bagaimana maksudmu?” tanyaku heran.

“Abang mengantar dia kemana, memang?” tanya pemuda berkemeja flanel lagi.

“Kemana? Ya, ke rumahnya lah. Di ujung situ,” kataku. Ujung jariku menunjuk ke belakang tanpa kepalaku turut menoleh ke belakang.

Kedua pemuda itu kembali saling berpandangan dengan heran.

“Di ujung situ nggak ada rumah, Bang,” kata pemuda berkaos kuning.

“Nggak ada bagaimana? Lha, itu apa?!” jawabku dengan kesal sambil membalikkan badanku ke arah rumah gadis tadi dan menunjuknya dengan telunjukku.

Bayangkan betapa ngerinya aku ketika aku berbalik ke arah sana, dan aku tak melihat ada rumah apapun di ujung sana! Yang ada hanya rumput-rumput ilalang yang cukup tinggi, dan pohon-pohon liar. Bahkan, sekilaspun saat itu aku dapat melihat sepeda motorku terparkir di antara rumput-rumput ilalang. Tidak ada rumah. Tidak ada pagar. Tidak ada tanda-tanda bangunan apapun.

Seketika bulu kudukku merinding, tubuhkan gemetaran.

“Waktu Abang lewat tadi juga saya nggak lihat Abang bonceng siapa-siapa,” kata pemuda berkaos kuning itu lagi, “Abang tadi naik motor sendirian.”

Aku semakin merinding.

Aku nyaris saja melupakan peringatan Dewa dan Pak Rendy.

“E-eh… Iya. Terima kasih, ya. Saya pamit dulu,” kataku pada kedua pemuda itu dengan agak gemetaran karena ngeri. Aku langsung berbalik dan dengan setengah berlari kembali melanjutkan perjalananku melewati jalanan kompleks yang remang-remang itu.

Beberapa langkah aku meninggalkan kedua pemuda tadi, tiba-tiba aku mendengar suara aneh. Seperti suara tawa cekikikan dari arah belakangku. Suara cekikikan itu terdengar dengan nada yang khas. Nada suara cekikikan itu mengesankanku pada seseorang yang tengah merasa senang setelah berhasil mengerjai orang lain.

Aku tahu aku seharusnya tak melakukannya, tapi refleks aku menengok ke belakang.

Disana, nampak olehku dua sosok, tengah berdiri di tengah jalan. Sosok yang satu mengenakan kemeja flanel kotak-kota berwarna merah, dan sosok yang lain mengenakan kaos kuning. Kedua sosok itu jelas mengingatkanku pada dua pemuda yang baru saja berbincang denganku dan baru saja kutinggalkan. Tapi ada sesuatu yang janggal dengan mereka berdua. Awalnya aku tak melihatnya dengan jelas, karena mereka berdiri di keremangan jalan. Tapi lalu mereka berjalan beberapa langkah lebih dekat, sehingga mereka berdiri sangat dekat dengan lampu jalan yang agak redup.

Disana, aku lalu dapat melihat mereka dengan jelas. Ciri-cirinya sama persis dengan kedua pemuda tadi. Namun ada satu hal yang membedakannya.

Kedua sosok itu tak memiliki kepala!

Seketika aku menjerit ketakutan, langsung dengan cepat berbalik dan berlari secepat yang kubisa ke arah gerbang depan. Samar-samar aku seperti mendengar suara derap kaki di belakangku.

Mungkinkah sosok tanpa kepala itu turut berlari mengejarku?

Aku tak peduli.

Aku bahkan tak mencoba untuk menoleh ke belakang.

Yang kulakukan hanya terus berlari secepat dan sejauh yang kubisa!

Entah sudah seberapa jauh aku berlari, nafasku rasanya sudah habis. Aku berhenti sesaat sambil mencoba mengatur nafasku kembali. Yang jelas aku sudah tak lagi mendengar suara derap kaki di belakangku. Tentu, aku harus memastikannya. Aku menoleh ke belakang. Jika dua sosok tanpa kepala itu masih ada disana, betapapun aku kehabisan nafasku, aku harus kembali berlari.

Tapi tidak. Kedua sosok tanpa kepala itu sudah tak ada lagi disana.

Kelihatannya aku mulai bisa berjalan agak lebih perlahan sambil kembali mengambil nafas. Tak jauh di depan, aku seperti melihat ada sebuah tenda. Bentuknya serupa tenda-tenda warung angkringan.

Dalam perjalananku melewatinya, aku dapat melihat ke dalam dari sisi samping warung angkringan itu. Aku melihat ada beberapa orang pelanggan tengah duduk-duduk dan makan-makan di sana. Selain, tentu saja, dua orang pegawai warung yang meladeni para pelanggan tersebut.

“Angkringan Jogja,” begitu tulisan di sisi depan tendanya.

Aku menoleh sekali lagi ke belakang. Sekadar memastikan.

Yep. Kedua sosok itu benar-benar sudah tak lagi ada disana. Aku tak peduli kenapa. Mereka sudah tak mengejarku, apapun alasannya, itu lebih penting bagiku. Akupun lalu masuk ke dalam tenda warung angkringan itu dan memesan segelas es teh manis.

“Kenapa, Mas? Kelihatannya seperti habis dikejar-kejar hantu,” tanya salah satu pegawai warung.

“Yah, bisa dibilang begitu,” jawabku sambil menyeka keringatku.

Dua Orang pelanggan lain yang duduk tak jauh disampingku nampaknya tak terlalu mempedulikanku. Mereka tetap melanjutkan kegiatan makan dan minum mereka tanpa menoleh sedikitpun. Sambil menyerahkan segelas es teh manis pesananku, si pegawai bertanya lagi, “habis lihat apa memang, Mas?”

Kuceritakan padanya apa yang baru saja kualami. Ia bertanya balik, seperti apa wajah dan penampilan kedua sosok pemuda yang kulihat tadi itu.

“Wah, mereka preman sini,” sahutnya, “beberapa minggu lalu mereka dikejar-kejar oleh geng lawannya sampai kesini. Lalu, dalam perkelahian yang mereka lakukan, mereka akhirnya dibacok oleh lawannya.”

“Dibacok di bagian mana?” tanyaku, mencoba memastikan apa yang kupikirkan.

“Di kepala,” jawabnya.

Selesai menenggak es teh manisku, aku langsung membayar dan pamit. Aku tidak ingin berlama-lama di dalam sana. Baru beberapa langkah aku berjalan ke luar dari tenda warung, aku mendengar salah seorang pelanggan di dalam warung bertanya ke pada si pegawai.

“Tumben ada manusia lewat sini jam segini.”

Aku langsung terhenyak. Darahku serasa membeku seketika. Apa katanya tadi ‘tumben ada manusia?’ Memangnya mereka bukan manusia? Hah? Aku belajar dari pengalaman beberapa saat yang lalu. Jangan menoleh ke belakang. Jalan terus ke depan. Jangan menoleh ke belakang.

Tapi lalu aku mendengar sebuah suara memanggilku dengan lirih. Suara dari dalam tenda. Suara si pegawai warung.

“Hei, manusia!”

‘Nggak,’ batinku, ‘jangan menoleh ke belakang! Jalan terus!’

“Dia pura-pura nggak dengar,” kata salah satu suara sambil terkekeh-kekeh, yang langsung disahuti oleh si pegawai warung.

“Biarkan saja,” katanya, “sebentar lagi dia bakal tahu apa yang baru saja dia telan.”

Seketika itu juga, aku merasakan perutku bergejolak, rasanya seperti ada yang meronta-ronta di dalam perutku. Rasanya aku seperti ingin muntah. Dan benar saja, sesaat kemudian aku memuntahkan isi perutku. Anehnya, aku merasakan seperti ada sesuatu yang besar dan agak kenyal keluar dari mulutku.

‘Aneh’, pikirku ‘tadi aku hanya makan nasi goreng saja. Dan yang kuminum barusan juga hanya segelas es teh manis. Air. Lalu apa tadi yang keluar dari mulutku?’

Perlahan aku melirik ke arah bawah, ke tanah, ke arah dimana apapun yang tadi kumuntahkan berada. Apa yang kulihat sungguh tak bisa kupercaya. Apa yang ada disana adalah sesuatu yang sama sekali tak pernah masuk ke dalam mulutku.

Sebuah bola mata manusia.

Terkejut setengah mati, aku menjerit ketakutan dan berusaha lari, tapi perutku yang masih melilit membuat kakiku terhuyung-huyung, lalu tersandung dan jatuh terduduk.

“Lapaaarrr…” aku mendengar beberapa suara melolongkat kata itu secara nyaris bersamaan sehingga terdengar seperti suara yang berbayang. Refleks, aku mengangkat kepalaku dan tak sengaja menoleh ke arah posisi warung angkringan tadi.

Di depan warung itu, aku melihat empat sosok berdiri saling berjejeran.

Penampilan mereka dari ujung kaki sampai leher nampak biasa saja. Apa yang tidak biasa adalah bagian leher ke atas.

Tidak seperti sosok setan yang sebelumnya, keempat sosok di depanku masih memiliki kepala. Hanya saja kedua mata mereka masing-masing seperti melompat keluar dari rongga mata mereka dan menggantung di pipi mereka. Namun satu dari empat sosok itu hanya memiliki satu bola mata yang menggantung di wajahnya. Dan nampaknya aku tahu kenapa. Seketika perutku kembali terasa mual. Rasanya ingin muntah, tapi tubuhku serasa membeku. Aku bahkan tak bisa bergerak karena ketakutan!

Keempat sosok itu juga tidak memiliki rahang bawah, dan lidahnya menjulur panjang sekali, sampai nyaris menyentuh tanah. Dalam kondisi wajah seperti itu, mereka seharusnya tidak bisa berbicara. Namun aku mendengar suara-suara seperti berasal dari mereka.

“Kami lapar…,” kata yang satu sambil melangkah mendekat ke arahku.

“Sudah lama tidak ada manusia lewat sini,” yang satu lagi menimpali.

Kata-kata yang diucapkan oleh mereka secara nyaris bersamaan sesaat kemudian langsung membuat bulu kudukku merinding, dan tenggorokanku tercekat.

“Kamu kelihatannya enak…”

Jantungku berdegup kencang. Dengan segala kekuatan yang ada, aku bangkit dan kembali berlari secepat yang kubisa menuju ke gerbang depan. Aku kembali dapat mendengar derap langkah mengikuti di belakangku. Kali ini, aku sangat yakin mereka mengejarku meski tanpa menoleh ke belakang. Mahkluk-makhluk seram itu menggumamkan sesuatu sambil mengejarku. Sesuatu yang mau tidak mau memaksaku berlari lebih kencang, atau mati!

“Lapaaaaarrrr…”

“Laaaapppaaaaaaarrr…”

Aku terus berlari, dan berlari secepat yang kubisa. Setelah beberapa lama berlari, aku mulai mendengar suara makhluk-makhluk seram itu seperti sayup-sayup tertinggal di belakang. Apakah mereka berhasil berlari meninggalkan mereka? Sejujurnya, aku tak terlalu yakin. maksudku, mereka bukan manusia. Seharusnya kecepatan lari mereka dapat mengejarku dengan mudah. Tapi kutepis pikiran yang tak ada gunanya itu. Apapun alasannya, kalau aku bisa kabur dari mereka, berarti hal yang bagus!

Beberapa menit berlari tanpa henti, aku mulai melihat ujung gerbang yang sejak tadi kuharap-harapkan. Ketika aku mulai dekat dengan ujung gerbang, aku menyadari pemuda-pemuda yang tadi kulihat nongkrong di pojokan jalan menyadari bahwa aku datang berlari ke arah mereka. Dua orang dari mereka berlari menghampiriku, tapi mengingat pengalaman yang sudah-sudah, aku langsung skeptis dan mengambil sikap defensif.

“Wow, wow. Tenang, Bang. Santai,” kata yang satu, “kami hanya ingin membantu.”

“Membantu apa?” tanyaku dengan penuh curiga sambil terengah-engah.

Kedua pemuda itu saling berpandangan satu sama lain, lalu salah satunya seperti memberi isyarat pada temannya untuk menyampaikan sesuatu padaku.

“Saya tadi lihat waktu Abang berbelok masuk kesana,” katanya, “saya tadi panggil-panggil Abang. Maksud saya agar Abang jangan masuk kesana. Area perumahan ini angker, Bang. Isinya setan semua!”

“Diluar sini nggak?” tanyaku.

“Nggak. Makanya kami nongkrong disini. Sepanjang jalan ini banyak warung-warung kecil dan anak-anak nongkrong juga, kan,” jawabnya.

“Ayo, Bang. Duduk dulu disana. Minum dulu,” kata temannya menambahkan.

Kupikir, apa yang mereka katakan ada benarnya. Kalau di sepanjang jalan ini banyak setannya juga, seharunya nggak akan ada warung-warung kecil yang buka jam segini. Lalu kupikir, mungkin yang dimaksud oleh Dewa dan Pak Rendy adalah bangunan-bangunan dan perumahan-perumahan kosongnya lah yang penuh setan.

Akupun ikut duduk dengan pemuda-pemuda itu dan menenggak segelas minuman yang mereka suguhkan padaku. Ada kira-kira enam orang pemuda berusia sekitar 20-an sedang nongkrong-nongkrong disana.

“Kasihan banget si Abang, digangguin sama setan banyak banget pasti di dalam sana,” kata salah satunya lagi. “Bangunan-banguna dan perumahan disini semuanya kosong, Bang. Udah sepuluh tahunan. Yah, nggak heran kalau isinya setan semua,” ia menambahkan.

“Tapi, kalian semua manusia, kan?” kataku berkelakar, mencoba mencairkan suasana, sambil menyeruput minumanku lagi.

“Kelihatannya bagaimana, memang?” sahut mereka sambil tertawa.

“Yah, kelihatannya sih manusia,” jawabku lagi sambil juga tertawa.

Namun nampaknya kelakarku seratus persen salah. Seharusnya aku tidak mengajukan pertanyaan seperti itu. Atau justru sebaliknya? Lebih cepat aku berkata seperti itu, barangkali lebih cepat aku menyadari untuk segera beranjak dari sana. Karena sesaat kemudian, mereka menjawab, dengan pelan.

“Tadi sih memang kelihatan seperti manusia,” jawab mereka.

‘Tadi?’ batinku. Jantungku langsung berdegup kencang. Rasanya seakan jantungku akan melompat keluar dari mulutku.

“Sekarang sudah nggak, kok,” mereka menambahkan.

Ketika itu, pandanganku masih menunduk menatap gelas minumanku. Aku tidak melihat mereka. Aku hanya berharap merekapun tengah berkelakar denganku. Pelan-pelan kuangkat kepalaku, sehingga menatap ke depan.

Apa yang berada di depanku adalah sesuatu yang tidak kalah mengerikan dengan apa yang sejak tadi berpapasan denganku. Seharusnya aku belajar dari pengalaman dengan lebih baik. Semua setan yang berpapasan denganku sejak tadi, awalnya juga nampak seperti manusia.

Kali itu, hanya berjarak satu meter di depanku, duduk sesosok makhluk, wajahnya penuh berisi mulut yang membuka lebar, dari kening sampai dagu. Tidak ada mata, tidak ada hidung. Di dalam mulut itu nampak gigi-gigi yang besar dan tajam. Di tengah kerongkongannya tampak sebuah bola mata yang tengah asyik melirik ke kanan dan ke kiri.

Seketika aku menjerit ketakutan, dan jatuh terjungkal ke belakang. Sambil merayap mundur, aku melihat keenam sosok itu berdiri, dan pelan-pelan berjalan ke arahku. Semuanya memiliki karakteristik yang sama. Wajah mereka penuh berisi mulut yang membuka lebar, dari kening sampai dagu. Tidak ada mata, tidak ada hidung. Di dalam mulut itu nampak gigi-gigi yang besar dan tajam. Di tengah kerongkongannya tampak sebuah bola mata yang tengah asyik melirik ke kanan dan ke kiri.

Tenggorokanku tercekat, jantungku berdegup kencang sekali, nafasku mulai sesak.

“Tidak perlu khawatir,” kata salah satu dari mereka, “kami tidak makan manusia. Yang makan manusia ada di dalam sana.” Sambil berkata begitu, sosok itu menunjuk ke arah dalam perumahan tadi dengan telunjuknya. Aku masih berusaha merayap mundur, karena mau berdiripun, lututku terasa lemas.

Kemudian sosok yang lain, yang berdiri di belakang sosok yang tadi berbicara, lalu melangkah ke depan. Dengan agak membungkuk ke arahku, ia berkata dengan agak berbisik.

“Mau kami antar ke dalam?”

Entah tiba-tiba aku mendapat tenaga darimana, seketika itu juga aku bangkit berdiri dengan cepat, berbalik badan dan kembali berlari secepat dan sekuat yang kubisa. Dengan lutut lemas dan kelelahan, berkali-kali aku jatuh tersungkur ketika berlari, namun aku tak peduli. Aku langsung berusaha kembali bangkit, dan kembali berlari, sampai akhirnya aku tiba di ujung Jalan Kamboja.

Ujung jalan itu adalah sebuah pertigaan. Di depanku adalah sebuah jalan raya yang lebar, biasa dilalui angkutan-angkutan kota. Di seberang jalan berdiri sebuah mall yang cukup megah, namun semua lampu-lampunya mati karena sudah melewati jam operasinya.

Tepi jalan itu relatif ramai, dan lampu-lampu jalanpun sudah sangat banyak dan terang-benderang.

Sekilas aku kembali menoleh ke belakang. Mereka sudah tidak mengejarku lagi.

Aku bersandar ke sebuah tiang lampu jalan sambil terengah-engah, berusaha mengatur nafasku kembali. Pada saat itu, melintaslah sebuah taksi dari dalam Jalan Kamboja ke arah luar. “Taksi, Dik?” tanya supirnya, yang seorang bapak-bapak, sambil berhenti di depanku. Aku mungkin bukan orang pintar, tapi ya, nggak tolol juga. Dari pengalaman bertubi-tubi barusan, aku menyadari, apapun yang berada di, dan berasal dari dalam Jalan Kamboja, besar kemungkinannya bukan manusia.

Taksi itupun besar kemungkinannya demikian.

Mungkin juga aku salah.

Tapi aku tidak mau mengambil resiko.

“Nggak, terima kasih,” jawabku sambil berbelok ke arah kanan, dan menyusuri trotoar yang dalam 500 meter akan membawaku ke Jalan Kemuning.

Setelah semua yang kualami, berkali-kali berlari melewati batas kekuatanku, tubuhku benar-benar sudah sangat kelelahan. Beruntung, setelah berjalan sejauh kira-kira 300 meter dari titik keluar Kamboja tadi, aku melihat beberapa warung kaki lima berkumpul. Ada penjual nasi goreng, penjual mi, termasuk penjual minuman ringan.

Setelah membeli minuman dan menenggak setengahnya, aku bermaksud menelepon Argo, teman sekosku. Aku terpaksa minta tolong padanya untuk menjemputku disana. Aku sudah merasa tak sanggup lagi berjalan. Masalahnya, jarak kosanku dari sana masih cukup jauh, sekitar 800 meter.

“Go? Hei. Sorry. Udah tidur ya?” tanyaku.

“Nggak. Lagi main game,” jawabnya, “kenapa?”

Kuceritakan padanya apa yang baru saja kualami dan meminta tolong padanya untuk menjemputku.

“Ealah, Arya, Arya,” katanya, mulai menceramahiku, “temen kerjamu kan sudah memperingatkan, jangan lewat Kamboja. Aku juga pernah bilang, jangan lewat Kamboja. Daerah situ angkernya nggak ketulungan. Isinya setan-setan berbagai varian. Kalau kamu mau lihat jenis-jenis setan yang nggak pernah kamu lihat dimanapun di tempat lain, nah, masuk saja ke Kamboja! Ada semua! Sebut saja!”

“Yah, soalnya aku masih lihat warung-warung kecil juga berjualan di pinggi jalan disana, Go. Kalau seangker itu, harusnya nggak ada yang jualan, kan?”

“Nggak terpikirkah olehmu kalau yang jualan di warung-warung sepanjang Kamboja itu, berikut para pelanggannya, bukan manusia?”

“Nggak,” jawabku dengan penuh kekesalan pada diriku sendiri.

“Ya sudah, sih. Aku sudah belajar dari pengalaman,” protesku, “jadi mau ngejemput, nggak, nih?”

“Ya, sudah. Aku siap-siap dulu. Posisimu dimana?”

Kujelaskan pada Argo dimana posisiku, dan bahwa aku akan menunggunya di area dekat warung kaki lima dimana aku baru saja membeli minuman.

“Eh, jangan disitu nunggunya,” kata Argo dengan cepat, “sekitar 100 meteran di depan ada Kafe 24 Jam. Tunggu disana saja.”

“Aduh, 100 meter jauh, Go! Kakiku sudah nggak kuat jalan!” protesku.

“Lagian, disini juga ramai. Ada banyak warung kaki lima. Dan posisinya sudah 300 meteran dari ujung Jalan Kamboja. Berarti perkumpulan setan-setan laknat itu sudah nggak ada,” kataku menambahkan.

“Kamu pikir setan di Semarang cuma ada di Kamboja?”

“Hah? Eh? Bagaimana?”

Entah kenapa tiba-tiba aku terkesiap. Perasaanku tidak enak.

“Kalau kamu nunggu disana, aku nggak mau jemput!” katanya dengan keras, ia tiba-tiba jadi galak, “dengan sisa tenagamu, lari ke Kafe 24 Jam, yang jaraknya 100 meter dari sana! Cepat!”

Kemudian, dari dalam gelas minumanku yang kupegang di tanganku yang lain, yang seharusnya masih berisi setengah minuman aku merasakan sesuatu. Seperti ada sesuatu yang bergerak-gerak di dalam gelas, dan menyundul-nyundul plastik penutup gelasnya.

Lalu aku mendengar suara percakapan dari arah warung kaki lima di belakangku.

“Tumben ada manusia lewat sini jam segini,” kata yang satu, yang langsung ditimpali oleh yang lainnya.

“Kelihatannya enak.”

4 thoughts on “Deeper into the Night

Add yours

    1. bukan mbak. ini fiksi. hahaha. tapi memang saya konsep kayak supranatural encounter yang sering terjadi di indonesia. jadi emg sengaja ditulis dengan cara yang biar kerasa kayak kisah nyata 😀

      thanks, btw 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: