Museum of Nightmare

“Memangnya ada pengaruhnya kalau dibegituin?” tanya Diva pada Zico yang sejak tadi mencoba menepuk-nepuk bagian sisi ponselnya, mencoba mencari sinyal internet dengan harapan agar aplikasi peta kami dapat berfungsi.

“Kadang-kadang ada pengaruhnya,” jawab Zico jengkel sambil matanya tetap berfokus pada ponselnya, tak sedikitpun melirik Diva.

“Iya, kalau masalahnya ada di receptor sinyal hapemu, Bambang!” Diva berseru dengan kesal, “lihat sekeliling kita. Padang rumput ilalang semua. Ini mah nggak ada sinyal! Mau ponselmu dijepretin kayak apa juga nggak akan ada bedanya!”

“Kamu punya ide yang lebih baik, nggak?” laki-laki berambut cepak dan dicat berwarna kemerahan itu akhirnya memalingkan wajahnya menatap Diva sambiil melotot.

“Jalan aja terus, mana tahu nggak lama lagi kita akan mulai dekat pemukiman. Yang semestinya ada sinyal,” ucap gadis berambut ikal dan panjang sepunggung itu sambil menepuk-nepuk bahu Genzo yang bertugas memegang kemudi. “Siap, bos!” sahut laki-laki berkacamata bulat dan berwajah oriental itu dengan nada suara dan ekspresi wajah agak sarkastik. Genzo kelihatan mulai letih dengan pertengkaran Zico dan Diva sejak beberapa kilometer yang lalu.

Ketika mobil kami kembali melaju, kupandangi pemandangan sekitar kami. Lahan-lahan terbukanya hanya berupa padang rumput ilalang. Di kejauhan nampak hutan-hutan kecil dan pegunungan. Tidak tampak tanda-tanda ada pemukiman dalam beberapa meter ke depan. Kami nampaknya tersesat di antah berantah.

Bagaimana kami sampai bisa berada disana?

Yah, awalnya kami bermaksud mengantar salah satu sahabat kami, Laudya kembali ke kampung halamannya. Ia baru saja mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal dunia karena sakit yang sudah cukup lama dideritanya. Ia dekat sekali dengan ayahnya itu.

Kami pikir, daripada ia pulang sendirian, menempuh perjalanan sekitar 10 jam dengan perasaan terluka karena kehilangan ayahnya, alangkah baiknya jika kami mengantarnya. Menemani dan berusaha menenangkannya selama perjalanan.

Dan perjalanan keberangkatan itu berjalan baik-baik saja.

Selesai upacara pemakaman, kami berempat pamit pulang, sementara Laudya tetap tinggal di kampung halamannya untuk beberapa hari ke depan. Jalur propinsi yang kami lewati dalam perjalanan pulang macetnya luar biasa. Nyaris tidak bergerak. Belum lagi cuaca yang panasnya minta ampun. Rasanya ingin marah-marah saja.

Setelah mengambil voting dan mengecek aplikasi peta, kami memutuskan untuk berbelok di jalur alternatif terdekat. Ini bukan pertama kalinya kami, dalam grup atau individual, menempuh jalur propinsi dan mengambil jalur alternatif. Kami optimis akan menemukan jalur keluarnya.

Kadang-kadang, memang, menjadi terlalu optimis itu tidak selalu bagus hasilnya.

Entah sudah berapa puluh kilometer jauhnya kami berkendara, kami sudah melewati dua desa kecil. Desa terakhir yang kami lewati sudah berjarak sekitar 12 kilometer di belakang. Tentu, di era internet seperti ini, kami lebih optimis. Karena aplikasi peta yang sangat bermanfaat ada dalam genggaman kami. Kami juga sudah menyiapkan cukup stok power bank.

Sayangnya kami lupa satu hal.

Aplikasi peta itu hanya akan bermanfaat jika terkoneksi dengan internet.

Kalau sekeliling kami antah berantah seperti ini, jangankan jaringan internet, jaringan telepon saja aku tidak yakin ada. Untungnya, pemandangan alam di daerah itu menurutku indah sekali. Yah, tidak memperbaiki keadaan, aku tahu. Tapi setidak-tidaknya masih ada hal yang tidak buruk-buruk amat.

“Eh, di depan itu seperti ada papan penunjuk arah!” seru Zico bersemangat sambil menunjuk ke sebuah titik di depan kami. Samar-samar, namun sekitar 30 meteran di depan kami nampak sesuatu seperti papan penunjuk jalan.

Genzo mempercepat laju kendaraan kami.

“Magelang. 125 Kilometer,” begitu bunyi tulisan di papan itu, diikuti bentuk panah yang berbelok ke kiri. Jalur di hadapan kami adalah sebuah simpang tiga, satu jalur berbelok ke kiri, satu lagi berbelok ke kanan.

“Kenapa arah kiri ada papan informasi jalurnya, tapi yang ke kanan nggak?” tanyaku pada teman-temanku, sambil menegakkan dudukku dan memegang sandaran kursi depan tempat Zico duduk.

“Biasanya sih karena yang ke kanan itu mengarah ke pedesaan lokal. Atau tidak kemana-mana. Yah, arah sana, biasanya, tidak ada pemukiman,” sahut Zico yang duduk di kursi di depanku.

“Biasanya?” tanyaku membeo.

“Kamu mau mencoba ke kanan, Sash? Belum tahu mengarah kemana dan sejauh apa? Atau ke kiri, yang sudah jelas papan penunjuknya menyebut kota tujuan dan jaraknya?” kata Zico lagi dengan nada sarkas.

“Yah, ke kiri sih…” jawabku terbata-bata.

Genzo pun membelokkan mobil kami ke arah kiri, dan mengikuti jalurnya. Beberapa ratus meter menempuh jalur kiri itu, langit mulai tampak mendung. Tak perlu waktu lama sampai hujan gerimis pun akhirnya berjatuhan, dan perlahan menjadi deras.

Semakin jauh kami berkendara, hujan bukan semakin reda, tapi malah semakin deras. Samar-samar kami melihat sesuatu seperti siluet sebuah bangunan di kejauhan di depan kami di sisi kiri jalan. Sementara di sisi kanan jalan berjajar pohon-pohon yang merupakan bagian dari sebuah hutan lebat. Membandingkan jarak dan ukurannya, nampaknya bangunan itu cukup besar. Belum lagi bentuknya yang, meski berupa siluet karena terhalang hujanpun, tampak modern dan artistik dengan atap datarnya.

“Restorankah? Semoga restoran. Aku lapar. Sumpah,” gumam Diva sambil mengelus-elus perutnya sendiri.

Namun, semakin kami mendekati bangunan itu, semakin bangunan itu terlihat aneh. Jelas bukan sebuah restoran. Bangunan itu terlalu besar dan megah untuk menjadi sebuah restoran. Bangunan itu beratap datar. Dari luarnya tampak seperti hanya memiliki dua lantai, tapi dari tampak depannya, kelihatannya tinggi masing-masing lantainya juga luar biasa. Paling tidak sepuluh meter.

Dari luar bentuk massa bangunan itu tampak seperti berzigzag. Bagian tepi bangunannya tidak tegak lurus, melainkan miring seperti tepian kawah, dengan bagian ujung atas bangunan itu mencuat bermeter-meter lebih jauh dari bagian dasarnya. Nyaris keseluruhan bagian kulit bangunan itu tertutup oleh sebuah lapisan berwarna hitam pekat. Hampir tidak terlihat adanya jendela pada bangunan itu, kecuali jendela-jendela kecil bernentuk jajar-genjang yang cukup panjang, berjajar secara acak di permukaannya.

Bangunan itu nampaknya sedang tidak beroperasi, karena ketika kami melewatinya, lampunya sama sekali tidak menyala. Namun kami dapat melihat bentuk-bentuk jendelanya karena hari belum terlalu gelap.

“Bangunan apa itu? Kelihatannya megah sekali,” gumam Genzo, “tapi aneh sekali bangunan semegah itu ada di tempat seperti ini.”

Ketika kami berempat tengah serius mengamati bangunan aneh yang mentereng itu, tiba-tiba mobil yang kami kendarai tersentak keras, lalu mesinnya mati.

“Terlalu serius mengamati bangunan itu sampai injakan di koplingmu lepas, Gen?” tanya Diva pada Genzo sambil berkelakar. Genzo yang tampak kebingungan, berusaha menyalakan mesin mobil kembali, namun tanpa hasil. Semua upaya yang dilakukan Genzo tidak berhasil membuat mesin mobil kembali menyala.

“Kenapa? Bensin habis?” tanyaku.

“Nggak,” sahut Genzo cepat, “masih ada setengah kok”.

“Kayaknya harus buka kap dan cek mesinnya deh ini. Tapi…,” gumam Genzo sambil menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya. Matanya menatap lurus ke depan, memandangi hujan yang tengah mengguyur dengan derasnya.

“Hujannya deras sekali, Gen. Cari masalah kamu kalau keluar dan membuka kap sekarang. Nanti saja deh, tunggu reda,” kataku mengkonfirmasi apa yang tengah ada dalam pikirannya.

Kulirik jam tanganku. 40 menit sudah berlalu, tapi tidak tampak tanda-tanda bahwa hujan akan mereda sedikitpun. Sementara itu, hari sudah semakin gelap. Sesaat kemudian, sesuatu yang tak kami sangka-sangka terjadi. Lampu di dalam bangunan di dekat kami tiba-tiba menyala.

Menakjubkannya, ketika lampu di dalam bangunan yang nyaris sepenuhnya masif dan berwarna hitam itu menyala, cahaya yang keluar dari sela-sela jendelanya yang kecil, namun panjang dan tersusun acak memberi kesan surgawi. Seakan-akan kami tengah terjebak di dalam sebuah goa, dan cahaya-cahaya itu adalah cahaya-cahaya yang masuk ke dalam dari sela-sela dinding goa.

Lucunya, kami sebetulnya tengah berada diluar. Gelap gulita. Tanpa ada penerangan lampu jalan sedikitpun. Satu-satunya penerangan berasal dari bangunan aneh itu.

“Mu… Seum…?” gumam Zico tiba-tiba.

“Apa Zic?” tanya Diva, tak mengerti dengan apa yang dikatakan teman kami itu.

“Itu,” sahut Zico sambil menunjuk sebuah dinding besar yang berdiri sendiri di tepi jalan. Bentuknya segiempat, mungkin ukurannya ada sekitar 5 x 3 meter. Lebarnya lima meter dan tingginya tiga meter. Di permukaannya tampak sebuah cahaya berkedip-kedip. Nampaknya dinding itu bertuliskan nama bangunan tersebut.

Nama bangunan itu terdiri dari dua baris. Entah dua atau tiga kata. Yang jelas kata yang paling atas sudah menyala terang. ‘Museum,’ begitu tulisannya. Tulisan itulah yang tadi nampaknya dibaca oleh Zico. Kata-kata yang berada di bawahnya belum terbaca oleh kami, karena cahaya lampunya masih berkedip-kedip.

Sesaat kemudian, kulihat Zico nampak seperti hendak menyampaikan sesuatu, namun ia kelihatan kurang yakin.

“Mesin mobil masih mati kan, ya?” tanyanya pelan.

“Ya.” jawab kami bertiga bersamaan.

“Hujan juga masih deras. Belum tahu kapan akan berhenti.”

“Ya.”

“Tapi lampu di dalam museum itu menyala.”

“Maksudmu?” timpal Genzo dengan cepat, “mau masuk ke sana?”

“Yah, kita punya payung di mobil kan,” Zico menjelaskan apa yang dipikirkannya, “bangunan museum itu cukup luas, seharusnya lebih enak menunggu hujan reda disana daripada di dalam mobil. Dan fakta bahwa lampunya menyala, berarti ada seseorang yang menyalakannya. Kemungkinan sekuriti yang bertugas menjaga. Kita bisa bertanya padanya arah dan jarak terdekat ke kota.”

“Kamu kalau pinter seperti itu sewaktu mengerjakan tugas dan ujian bagaimana?” tanya Genzo dengan ekspresi wajah sarkastik sambil tertawa. Zico memang yang paling pemalas, kalau tidak mau dibilang bodoh, diantara kami berlima.

“Setan alas!” makinya sambil melempar bungkus bekas makanan ke wajah Genzo.

Kamipun spontan tertawa bersamaan.

“Siapa tahu museumnya jual makanan juga. Aku lapar. Serius!” sahut Diva sambil berbalik badan dan berusaha mengambil payung yang diletakkan di bagian belakang mobil, tepat dibelakang kursi yang aku dan Diva duduki.

“Kamu cantik-cantik kerjaannya makan saja!” celetuk Zico keras.

“Biarin! Yang penting cantik! Hahaha!” sahut gadis itu sambil tergelak seraya berbalik badan kembali, dan meyerahkan tiga payung kepada kami sementara ia memegang satu payung sisanya.

“Oke. Aku harus mengunci mobil dulu. Kalian lari duluan ke museum itu. Aku akan mengunci mobil dan langsung menyusul,” kata Genzo.

Nyaris bersamaan, kami membuka pintu kami masing-masing, membuka payung yang kami pegang dan dengan cepat berlari ke arah museum. Ketika aku melewati tembok yang bertuliskan nama museumnya, lampu yang menghiasi kata-kata di baris kedua persis baru saja menyala. Baris itu berisi dua kata dalam bahasa Inggris: ‘of Nightmare.’

“Museum… of Nightmare?” batinku.

Aku tidak sempat memastikan kembali tulisannya, dan langsung bergegas menuju teras museum. Hujan sore itu deras sekali. Meski memakai payung, kalau kami tidak segera berteduh di teras museum itu, seluruh pakaian kami bisa basah semua.

“Kalian baca tulisan di bagian bawah nama museum tadi nggak?” tanyaku pada teman-temanku ketika Genzo sudah menyusul kami di teras museum yang atapnya sangat lebar itu.

Zico dan Diva menggelengkan kepala mereka.

Wajar, pikirku. Lampu di dua kata yang bawah baru menyala sesaat sebelum aku melewatinya. Sementara Zico dan Diva berlari di depanku. Mereka pasti tidak melihatnya. Kualihkan padanganku pada Genzo yang berlari di belakangku. Kupikir ia seharusnya melihatnya.

“Nggak, Sash. Aku juga nggak lihat. Aku nggak memperhatikan. Aku fokus berlari menyusul kalian,” jawab Genzo sambil menyeka air hujan yang menempel di tubuhnya.

“of Nightmare. Nama museumnya Museum of Nightmare,” kataku.

Ketiga temanku tersentak. Bagaimana tidak? Nama museumnya sangat tidak umum. Kalau tidak mau dibilang aneh. Belum lagi sudah pasti ada satu pertanyaan yang terlintas ketika membaca nama museum itu.

“Museum Mimpi Buruk?” tanya Diva, “apa yang didisplay?”

Baru saja aku hendak melanjutkan diskusi, perhatian kami teralihkan oleh sesuatu di jalan. Tak jauh dari posisi mobil kami berhenti, ternyata hanya beberapa meter di depan kami ada mobil lain. Sebuah mobil sedan. Tapi kami tidak memperhatikannya sebelumnya karena selain terhalang hujan yang sangat deras, mobil sedan itu juga berwarna gelap. Dari dalam mobil itu, turun tiga orang yang lalu juga berlari ke arah teras museum itu, dimana kami tengah berdiri.

Tidak seperti kami, ketiganya nampaknya tidak membawa payung, sehingga mereka menggunakan jaket atau alas lain untuk menutupi kepala mereka agar tidak terguyur hujan yang sedang deras-derasnya itu.

“Hai!” sapa mereka ketika akhirnya mereka tiba dihadapan kami, sambil memeras jaket mereka yang basah karena digunakan menutupi kepala ketika berlari tadi.

Usia ketiga orang itu nampaknya tak jauh berbeda dengan kami berempat. Mereka terdiri dari dua orang laki-laki dan satu orang perempuan. Yang satu adalah laki-laki bertubuh tinggi dan tegap seperti seorang olahragawan. Ia mengaku bernama Reza. Rambutnya yang basah karena hujan disisirnya ke belakang. Yang perempuan, untuk ukuran perempuan tubuhnya cukup tinggi dan besar. Rambutnya lurus berwarna kecoklatan dan panjang sepunggung. Namun ia mengikatnya di bagian belakang atas kepalanya, seperti ekor kuda. Namanya Ranny. Si perempuan dan laki-laki tadi, menurut pandanganku, kelihatan mirip satu sama lain. Sehingga kutebak keduanya adalah kakak-beradik. Laki-laki yang satu lagi bertubuh sama besarnya dengan laki-laki yang pertama, namun kepalanya plontos dan kulitnya berwarna gelap. Ia memperkenalkan dirinya bernama Yogha.

Basa-basi yang kami lakukan sesaat sambil mengeringkan badan dan pakaian yang terciprat air hujan mengkonfirmasi tebakanku. Reza dan Ranny memang sepasang kakak-beradik. Bahkan, menurut pengakuan mereka, mereka adalah saudara kembar. Laki-laki yang satu lagi, Yogha, adalah sepupu mereka. Jadi dapat dikatakan, ketiganya masih bersaudara.

Setelah kami merasa cukup kering, kami memutuskan untuk memasuki pintu depan museum itu. Berharap akan bertemu, setidaknya, sekuriti yang bertugas jaga disana.

Namun apa yang kami temukan dibalik pintu itu sungguh tak kami duga.

Dibalik pintu yang besar dan kuat itu, terpampang sebuah lobby yang cukup luas. Lampu ruangan itu agak redup. Dinding-dinding interiornya berwarna hitam dengan pola yang sama seperti dinding eksteriornya. Terdapat pola garis-garis acak disekeliling tembok yang dari baliknya berpendar cahaya yang tak terlalu terang.

“Hallooo?? Permisiiii…,” seru Zico dengan cukup keras. Di dalam ruangan itu kami tidak melihat seorang manusiapun. Tidak ada sekuriti. Tidak ada petugas penjaga tiket. Bahkan, kalau mau dikatakan, kami tidak melihat sesuatu yang nampak seperti meja pembelian tiket.

“Masuk museum ini gratis, apa bagaimana? Kok nggak ada bagian ticketing-nya,” tanya Yogha kebingunan sambil celingukan. Iapun nampaknya berusaha mencari keberadaan petugas jaga, atau sekuriti, atau setidaknya manusia lain, di ruangan itu.

“Sekuritinya juga nggak ada,” sahut Diva, “biasanya paling tidak ada satu orang berjaga di pintu masuk, kan?”

“Mungkin sedang berkeliling,” timpalku.

Kemudian pandangan kami semua sama-sama terfokus pada salah satu tulisan yang lampunya menyala kekuningan diantara ruangan berwarna hitam itu. Tulisan itu terpampang diatas salah satu pintu di depan kami. ‘Entrance,’ begitu tulisan berbahasa Inggris di bagian atasnya, diikuti terjemahan bahasa Indonesianya persis di bawahnya, ‘Pintu Masuk.’

Dibalik pintu itu, tampak oleh kami sebuah lorong yang panjang. Dindingnyapun berwarna gelap. Satu-satunya yang membantu arah kami adalah lampu berbentuk garis-garis dan terpasang secara acak di dalam dinding di kedua sisi. Beberapa meter berjalan menembus lorong itu, kami mulai melihat sesuatu menempel di kedua sisi dindingnya.

Atau, lebih tepatnya, sesuatu tampak seperti tengah berusaha keluar dari dalam kedua sisi dinding.

Dari kedua sisi dinding, kami melihat patung-patung berbentuk manusia, dipasang ke dinding dan dipahat dengan pose seakan-akan mereka tengah terperangkap di dalam dinding dan sedang berusaha untuk keluar dari sana. Sebagian dari patung-patung itu berpose dengan salah satu atau kedua telapak tangannya menempel ke dinding dimana patung itu terpasang, seperti tengah berusaha menarik diri mereka keluar dari dalam dinding. Ekspresi wajah patung-patung itupun penuh ketakutan dan kesakitan. Sebagian yang lain, berpose dengan salah satu atau kedua tangannya menjulur sejauh-jauhnya dari dinding. Visualnya hampir seakan patung manusia di sisi dinding yang satu tengah berusaha menjulurkan tangannya dan menggapai patung lain yang terpasang di dinding di seberangnya. Seakan tengah meminta pertolongan untuk membantu menarik dirinya keluar.

Dan untuk ditambahkan, patung-patung itu dicat dengan warna putih terang. Kontras sekali dengan dinding-dindingnya yang berwarna hitam dan hanya dihiasi lampu-lampu yang temaram. Keberadaan patung-patung itu, tidak bisa tidak, langsung menjadi fokus perhatian kami semua.

Meski patung-patung itu berwarna putih, tapi bagian biji mata semua patung itu berwarna hitam. Sebagaimana normalnya mata manusia.

“Museum Mimpi Buruk, huh?” gumam Genzo pelan, “patung-patung ini memang akan memberikan mimpi buruk bagi siapapun yang melihatnya.”

“WAH!!” aku mendengar suara jeritan kaget yang cukup keras di belakangku.

Kami semua berbalik nyaris bersamaan. Di sana, tak jauh di belakang kami, kami melihat Yogha, tengah menatap wajah salah satu patung dengan ekspresi kaget dan tidak percaya.

“Kenapa, Gha?” tanya Reza pada sepupunya itu.

Yogha tidak menjawab. Aku melihatnya memicingkan matanya, dan mendekatkan wajahnya kembali lebih dekat ke arah wajah patung di depannya. Ia nampak seakan tengah berusaha memastikan sesuatu.

“Gha?” panggil Reza lagi.

“Biji matanya bergerak,” gumam Yogha.

Kami semua terkesiap.

“Hah? Bagaimana?” tanya Zico.

“Aku tadi berjalan melewati patung ini sambil terus mengamati ekspresi wajahnya,” kata Yogha menjelaskan, “maksudku, ekspresi wajahnya benar-benar kelihatan seperti penuh teror. Tapi lalu, tiba-tiba biji mata patung ini bergerak mengikuti arahku berjalan.”

“Perasaanmu saja, kali,” sahut Zico, “lorong ini gelap, kau mungkin salah lihat.”

Posisiku berjalan kebetulan berada kedua dari belakang. Oleh karenanya, jika aku memandang ke arah depan, aku dapat melihat ekspresi semua orang yang berada di depanku, selain Yogha. Hampir semua orang kelihatan terkesiap dan agak sedikit takut mendengar apa yang barusan dikatakan oleh laki-laki bertubuh besar dan berkulit gelap itu.

Hampir semua orang.

Kecuali si Kembar.

Ekspresi di wajah kedua kakak-beradik itu tampak aneh bagiku. Entahlah. Aku tidak bisa menjelaskannya. Mereka tidak kelihatan seperti terkesiap, atau takut sedikitpun. Lebih dari itu, mereka kelihatan seperti tidak terkejut sama sekali. Nyaris seakan mereka sudah tidak asing dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sepupu mereka.

Sementara itu, Yogha yang nampaknya mulai yakin bahwa ia memang salah lihat, lalu iapun kembali berjalan menyusul kami. Namun pandangannya masih tetap terfokus pada wajah patung yang sejak tadi diamatinya. Baru beberapa langkah ia mendekati kami, Yogha tiba-tiba menjerit ketakutan. Matanya membelalak lebar, dan ia dengan cepat berlari kembali ke arah kami datang. Ia berhenti beberapa meter di belakang patung pertama yang kami lewati. Yogha tampak terengah-engah dan ketakutan.

“Yogha? Jangan bercanda, Gha…,” kata Genzo sambil perlahan berjalan melewatiku dan berusaha mendekati Yogha. Dengan rasa penasaran, aku mencoba untuk kembali memastikan ekspresi wajah si Kembar. Masih tidak berubah. Keduanya tidak tampak panik, kaget, ketakutan, atau apapun. Sebaliknya, mereka kelihatan seperti sudah mengetahui sebelumnya tentang apa yang ditakutkan oleh sepupu mereka. Seakan-akan mereka tahu betul bahwa apa yang dikatakan oleh Yogha adalah benar adanya.

“Aku nggak bercanda!” jeritnya histeris penuh ketakutan, “biji mata patung itu tadi beneran bergerak! Dia melirik ke arahku!”

Seketika kami semua menoleh ke arah patung-patung di dinding itu. Refleks, kami masing-masing mencoba mengamati ekspresi wajah, terutama mata, dari patung yang posisinya paling dekat dengan kami.

Dari sudut mataku, aku dapat melihat bahwa semua orang, termasuk kakak-beradik kembar itu, berjalan pelan ke arah dimana Yogha berdiri, sambil tetap memandangi mata patung-patung yang sejak tadi kami amati. Begitupun denganku. Aku berjalan pelan ke arah Yogha sambil tetap mengamati mata patung di hadapanku. Beberapa langkah aku melewati patung itu, aku melihat sesuatu yang mengerikan.

Biji mata patung itu yang berwaran hitam bergerak!

Biji matanya yang awalnya menatap lurus kedepan, kemudian dengan cepat melirik ke arah dimana aku berada setelah melewatinya.

“Astaga!” jerit kami nyaris bersamaan.

Jeritan ketakutan yang nyaris bersamaan itu membuatku yakin bahwa teman-temanku pun melihat apa yang barus aja aku lihat. Apa yang tadi Yogha lihat.

Biji mata patung itu bergerak!

Spontan, kami semua berlari menyusul ke arah dimana Yogha berdiri, dan selama beberapa saat memandangi patung-patung yang tertanam di dinding-dinding di hadapan kami.

“Ka-kalian juga lihat?” tanya Yogha terbata-bata.

“Y-ya. Nampaknya,” jawab Diva.

“Tapi ini kan Museum Mimpi Buruk,” tiba-tiba Zico berkomentar, “mungkin saja yang tadi itu efek robotik saja? Maksudku, untuk memberikan efek mimpi buruk.”

“Ini bukan taman hiburan! Ini museum!” sahut Genzo jengkel, “dan itu juga bukan wahana rumah hantu!”

“Siapa tahu patung-patung itu memang dimaksudkan sebagai wahana rumah hantu. Yah, atau semacamnya,” Zico berargumen.

“Aku nggak tahu, dan aku nggak peduli!” seru Yogha dengan kesal, “aku tidak suka tempat ini. Menurutku, kita sebaiknya kembali ke mobil, dan kembali melanjutkan perjalanan kita saja!”

“Mobil kita mogok, Gha,” jawab Reza kalem.

Reza yang sejak tadi diam aja tanpa ekspresi, akhirnya angkat bicara.

“Mobil kami juga mogok,” sahutku pelan.

“Dan diluar hujan deras, Gha. Sulit mengecek dan memperbaiki mesin dibawah hujan sederas itu. Bisa-bisa, mesin mobil malah tambah rusak,” Ranny menambahkan.

“Kita tunggu saja di teras sampai hujannya reda!” Yogha terdengar jengkel. Tanpa menunggu respon kami, ia dengan serta merta berbalik badan dan berjalan kembali ke arah pintu masuk utama dimana kami datang tadi. Kami semuapun mengikutinya.

“Agh! Sialan!” aku mendengar suara Yogha memaki-maki, disusul suara seperti sesuatu dihantam berkali-kali. Kami berlari menerobos lorong, menyusul Yogha yang sudah diambang pintu. Di ujung sana, aku melihat Yogha tengah memukuli kenop pintu, dan menendang-nendang daun pintunya yang tertutup rapat.

“Woi! Gha! Ngapain kamu?! Jangan ngerusak properti orang!” seru Zico dan Genzo sambil menghampiri Yogha dan berusaha menghentikannya.

“Pintunya terkunci!” hardik Yogha dengan kesal.

Genzo mencoba menekan kenop pintu dan menariknya. Tak ada hasil.

Pintu utama museum itu benar-benar terkunci.

“Benar-benar terkunci?” tanyaku memastikan.

“Yep!” jawab Genzo. Ia mulai kelihatan panik.

“Siapa yang mengunci?” tanya Yogha lagi, “sewaktu kita datang, ruangan ini kosong. Satusatunya jalur adalah menuju lorong gelap dengan patung-patung aneh itu. Dan kita sejak tadi ada disana dan tak melihat siapa-siapa.”

“Sekuritinya, mungkin?” sahut Zico, “ia mungkin dari luar. Mengira museum ini kosong tak ada tamu, ia lalu menguncinya dari luar.

Apa yang dikatakan Zico cukup masuk akal. Masalahnya, ruangan lobby itu tidak berjendela sama sekali. Tidak ada cara bagi kami untuk mengintip keluar. Jangankan untuk memastikan keberadaan sang sekuriti, untuk memastikan masih hujan atau tidak saja tidak bisa.

“Terus kita harus bagaimana ini?” tanya Yogha lagi.

“Kita punya dua pilihan,” Reza tiba-tiba bersuara, “pertama, menunggu disini, berharap ada seorang petugas, atau sekuriti yang datang. Tapi kita tidak tahu sampai kapan. Atau yang kedua. Kita telusuri museum ini. Mencari pintu keluar lain. Dalam perjalanannya, siapa tahu kita bertemu dengan sekuriti yang bertugas jaga.”

Dengan jari telunjuknya, laki-laki bertubuh tinggi besar itu menunjuk pintu yang sejak tadi berusaha dibuka oleh Yogha. Ia mengayunkan jarinya ke atas dan ke bawah.

“Pintu ini besar dan kokoh,” katanya lagi dengan kalem, “kecuali kita membawa perkakas, rasanya nyaris tidak mungkin kita mendobrak atau membongkar pintu ini.”

Kulirik Ranny, kembaran Reza. Gadis itupun kelihatan tenang-tenang saja. Dari sudut pandangku, tak sedikitpun nampak ketakutan ataupun kepanikan di wajahnya. Sebagaimana hal itu tak nampak di wajah Reza.

Aku semakin merasa ada yang aneh dengan si Kembar itu.

Sejak tadi, bahkan ketika sepupu mereka menjerit histeris ketakutan, keduanya sama sekali tidak bereaksi. Begitupun ketika Yogha mencoba membuka paksa pintu depan museum. Keduanya nyaris tidak bereaksi dan berkata apapun. Justru Zico dan Genzo yang banyak merespon reaksi-reaksi Yogha.

Kalaupun sejak tadi ada yang mereka katakan, semua kata-kata mereka hanya mengarah pada satu hal: untuk kita tetap menelusuri bagian dalam museum.

Tapi kenapa?

“Sash! Sasha!” lamunanku dibuyarkan oleh suara Genzo yang memanggilku.

“Eh! Maaf. Iya. Bagaimana?”

“Kami semua sudah vote untuk menelusuri museum dan mencari pintu keluar lain. Kamu bagaimana?”

“Aku pribadi nggak setuju. Tapi kalau pakai sistem vote dan kalian semua sudah sepakat untuk menelusuri museum ini, apapun pilihanku tak ada bedanya, kan?”

“Yah… Ya, sih,” sahut Genzo. “Yogha juga nggak setuju. Tapi yah, kita pakai sistem vote, jadi…,” kata-kata Genzo terhenti sejenak, “yah, kecuali kau dan Yogha mau menunggu disini sementara kami menelusuri museum. Tidak ada paksaan untuk ikut, kok.”

“Terus kalau sudah lama berselang, kalian sudah jauh di depan, dan tak kunjung ada petugas yang datang, kami lalu menyusul kalian cuma berdua? Atau lebih buruk lagi, aku sendirian, kalau Yogha masih tetap memilih untuk menunggu disini? Nggak deh. Terima kasih. Aku ikut kalian saja,” timpalku.

Tidak menunggu respon lain, si Kembar langsung berbalik badan dan kembali berjalan menuju lorong dimana patung-patung yang tertanam dan melirik-lirik tadi terpajang. Kami yang lain, termasuk Yogha, menyusul dibelakangnya.

Beberapa meter sebelum tiba di patung pertama, Reza dan Ranny berhenti.

“Oke,” kata Reza membuka ceramahnya, “kurasa tidak ada yang suka dengan patung-patung itu. Apalagi setelah kita melihat mereka melirik-lirik. Entah apapun itu. Jadi, dari sini kita berlari terus, jangan berhenti, jangan melirik-lirik. Terus berlari sampai ke ujung sana. Di ujung sana ada sebuah cahaya, yang seharusnya adalah ruangan lain yang lebih terang daripada ini.”

Ide bagus.

Kamipun mengambil ancang-ancang dan mulai berlari menyusuri lorong, melewati patung-patung aneh yang semuanya memiliki ekspresi ketakutan penuh teror. Aku berlari seperti yang dikatakan oleh Reza. Tidak berhenti, dan tidak melirik-lirik. Sampai akhirnya aku melewati sebuah pintu lain yang dibaliknya bersinar cahaya yang menyilaukan.

Karena lorong yang sebelumnya kami lalu berdinding hitam, dan hanya disinari cahaya temaram, ketika melewati pintu berikutnya yang terang benderang itu, mata kami semua langsung merasakan silau. Sesaat pandangan kami hanya putih saja. Butuh beberapa detik untuk mata kami menyesuaikan dengan cahaya di ruangan baru di sekitar kami, sebelum akhirnya kami dapat melihat dengan jelas, seperti apa persisnya ruangan itu.

Ruangan itu cukup luas. Mungkin ada sekitar 10 x 10 meter. Di dalam ruangan itu hanya berisi sekumpulan kotak-kotak kaca yang ditopang oleh kaki kayu yang bentuknya menyerupai podium. Kaki kayu yang menyerupai podium itu tingginya sekitar dada orang dewasa. Persis diatasnya adalah kotak-kotak kaca yang nampaknya menyimpan sesuatu di baliknya. Kotak-kotak kaca itu diletakkan pada jarak yang sama dari ujung dinding yang satu ke ujung dinding yang lain.

Kucoba menghampiri salah satu kotak kaca yang posisinya paling dekat denganku, dan mengintip ke dalamnya.

Spontan aku tersentak kaget melihat apa yang ada di balik kotak kaca itu.

Dibalik kotak kaca yang kulihat adalah replika sepotong wajah manusia. Atau kelihatan seperti wajah manusia. Wajah itu kelihatan asli sekali seperti wajah manusia, tapi bagian kepala utuhnya tidak kelihatan. Namun demikian, wajah-wajah itu bentuknya masih melengkung, sebagaimana wajah manusia yang masih menempel pada tengkorak. Maksudku, bukannya datar seperti jika wajah itu dikuliti dari tengkoraknya.

Kulekatkan wajahku dekat-dekat ke kotak kaca itu. Kucoba mengamati apakah wajah-wajah itu asli, ataukah memang benar hanya replika saja. Dari posisiku melihatnya, wajah itu kelihatan asli sekali. Bahkan, ketika kuamati lebih dekat, aku seperti melihat masih ada bekas darah yang belum bersih diseka menempel di bagian bawah dagunya.

“Seperti apa wajah yang dipajang disana?” tanyaku pada Genzo yang tengah mengamati kotak kaca yang berjarak sekitar dua meter di sebelah kananku. Genzo tampak mengamati dengan ekspresi kebingunan yang tersirat rasa ngeri di dalamnya. “Yang ini kelihatan seperti wajah wanita berusia empat-puluhan,” tambahku.

“Wajah?” tanya Genzo tampak kebingungan dengan pertanyaanku.

“Iya, dibalik kotak kaca ini ada wajah manusia.”

“Eh? Masa?”

“Lah, disana nggak?”

“Disini isinya potongan tangan manusia.”

“HEH?!” seruku kaget. Akupun berlari menghampiri Genzo, dan mengamati kota kaca di hadapannya. Apa yang ada dibaliknya memang nampak seperti replika potongan tangan manusia. Bahkan, di tangan itu terpasang sebuah cincin pernikahan di jari manisnya.

“Untuk apa museum ini memajang replika wajah dan tangan manusia?” pikirku.

“Sash,” panggil Genzo sambil berbisik pelan agak dekat ke telingaku.

“Hm?”

“Si Kembar itu,” katanya, “kok rasanya aku seperti pernah lihat mereka, ya.”

“Eh? Dimana?”

“Nggak tahu. Aku nggak ingat. Yang jelas, rasa-rasanya belum lama.”

“Belum lama itu dimana? Kita kan dari kampung halamannya Laudya. Dan dari sana kita nggak mampir kemana-mana,” kataku, “yah, selain mampir makan dan bertanya arah jalan pada warga lokal.”

“Entahlah,” sahut Genzo, masih sambil berbisik pelan, “mungkin di salah satu tempat makan. Atau di daerah dimana kita bertanya arah jalan pada warga lokal. Aku tidak bisa mengingatnya. Tapi entah kenapa aku yakin betul kalau aku pernah melihat mereka berdua sebelumnya!”

“Yah, mungkin saja,” jawabku santai, “faktanya, mereka sama-sama tersesat di daerah ini. Sama seperti kita. Bukan hal yang aneh kalau ternyata kita sempat melihat mereka di rumah makan, atau bertanya jalan juga pada warga lokal kan?”

Genzo diam saja. Ia tidak menepis bahwa kata-kataku salah. Ia bahkan mungkin yakin bahwa yang kukatakan ada benarnya. Tapi dari ekspresi yang kulihat di wajahnya, jelas kelihatan bahwa masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikirannya. Sesuatu yang nampaknya tengah berusaha diingat-ingatnya.

“WHOA! ASTAGA!” perhatian kami seketika teralihkan oleh suara jeritan Diva.

Kualihkan pandanganku kembali ke depan, dimana kulihat Diva nampak terhuyung-huyung ke belakang, sebelum akhirnya jatuh terduduk di lantai. Aku, Genzo dan Zico seketika berlari mendekatinya. Ekspresi wajah Diva tampak seperti ia baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.

“Kenapa, Div?” tanyaku.

Diva tidak berkata-kata. Matanya masih membelalak lebar dan mulutnya menganga. Tetapi jari telunjuknya menunjuk sebuah podium kotak kaca di depannya. Kami bertiga secara refleks mendekati kotak kaca yang ditunjuknya, dan mengintip ke dalamnya. Di dalam kotak kaca itu tersimpan sebuah wajah, seperti yang kulihat di kotak kaca lain sebelumnya. Wajah itu kelihatan berbeda dengan wajah yang kulihat sebelumnya. Bukan hanya bahwa wajah itu seperti wajah orang yang berbeda, tapi juga bahwa wajah di depan kami memiliki sesuatu yang tidak dimiliki wajah yang kulihat sebelumnya.

Bola mata.

Wajah yang sebelumnya kulihat, tidak terpasang bola mata di wajahnya. Yang ada di depan kami saat itu, memiliki kedua bola mata.

Oke, wajah yang dipajang di dalam kotak kaca itu memang mengerikan, tapi kalau hanya karena hal itu, Diva seharusnya sudah menjerit sejak tadi. Tapi ia baru saja menjerit, seakan-akan ada sesuatu yang tiba-tiba muncul. Atau terjadi.

Ketika kami tengah mengamati wajah yang dipajang itu, tepat pada saat itulah sesuatu yang mengerikan itu kembali terjadi.

Kedua bola mata di wajah itu tiba-tiba melirik-lirik.

Bukan hanya melirik. Kedua bola mata itu bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan dengan ritme cepat. Bibir di wajah itupun ikut bergerak-gerak.

“WHOA! ASTAGA!” jerit kami bertiga bersamaan.

Reza, Ranny, dan Yogha yang awalnya tidak terlalu peduli, seketika kemudian berlari menghampiri kami dan turut mengamati.

“Huek!! Aku mau muntah! Ini bukan mengerikan lagi. Ini menjijikkan!” gumam Yogha sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.

“Mekanikal, kah?” tanya Zico.

“Bisa jadi. Tapi,” sahut Ranny datar, “kalau semua ini mekanikal, seharusnya tempat ini namanya ‘Wahana Taman Hiburan Rumah Hantu’. Bukan ‘Museum.'”

“Bukan cuma ini yang bergerak-gerak,” Reza menimpali. “Beberapa pajangan yang kulihat disana juga bergerak-gerak,” lanjutnya sambil menunjuk sebuah kotak kaca, beberapa blok di arah diagonal dari posisi kami. Kami semua berjalan ke arah kotak kaca yang ditunjuk Reza. Toh, bagaimanapun untuk mencari jalan keluar, kami harus terus maju juga.

Ditengah perjalanan menuju kotak yang dimaksud, aku melirik ke salah satu kotak kaca lain yang kulewati. Kotak itu berisi sebuah jantung. Dan di dalam kotak kaca itu, jantung itu nampak berdenyut-denyut. Semakin jantung itu berdenyut, semakin bantalan kapas yang mengalasinya memerah. Nyaris seakan-akan bersamaan dengan denyutan itu, jantung yang tanpa tubuh itu memompa darah.

Dan karena tidak memiliki tubuh, darah berwarna merah itu bocor kemana-mana!

Memang benar apa yang dikatakan Yogha. Ini menjijikkan!

Ketika kami akhirnya tiba di depan kotak kaca yang ditunjuk oleh Reza, kami langsung melihat sebuah tangan, sebatas pergelangan tangan keujung jari. Tangan itu diletakkan dengan posisi berdiri di atas alas berlapis kapas. Persis seperti yang sebelumnya kulihat bersama Genzo di kotak kaca yang lain. Hanya saja, dari bentuk kuku dan jarinya, kelihatan seperti diambil dari orang yang berbeda.

Dan seperti yang Reza katakan, jari-jari dari tangan yang terpajang di kotak kaca di depan kami itu bergerak-gerak seakan-akan tengah berusaha menggapai sesuatu.

“Mekanikal deh. Yakin,” celetuk Zico.

“Terus dimana letak museumnya kalau begitu?” protes Diva bersungut. “Museum kan seharusnya memajang objek-objek yang bersejarah, atau diabadikan dari kehidupan nyata. Kalau mekanikal sih…,” kata-katanya tiba-tiba terhenti. Matanya memicing tajam. Ia seperti tengah mengamati sesuatu pada tangan yang dipajang di kotak kaca di depan kami.

“Div?” panggi Genzo, setelah melihat ekspresi di wajah teman kami itu.

“Tangan ini ada cincinnya,” gumam Diva sambil menunjuk kotak kaca itu lagi.

Pada tangan di dalam kotak kaca itu memang terpasang sebuah cincing bermata giok. “Ya, terus? Namanya juga dekorasi,” sahut Zico dengan nada sarkastik.

“Cincinnya mirip cincin milik pamanku. Adik laki-laki ibuku,” jawab Diva dengan kening berkerut tajam. “Cincin giok seperti itu banyak yang jual dimana-mana deh,” timpal Genzo datar sambil memberi isyarat untuk melanjutkan perjalanan.

“Tapi pamanku seorang desainer,” sahut Diva lagi, “persis seminggu sebelum beliau hilang, beliau baru mengambil sebuah cincin yang merupakan sampel untuk proyek dagangan terbarunya. Cincin giok dengan sebuah logo mereknya terukir di atas batu gioknya. Karena masih sampel pertama, cincin giok berbentuk seperti itu, dengan logo seperti itu baru ada satu-satunya.”

Kami semua mencoba mengamati batu giok ditengah cincin itu lagi. Memang tampak sebuah logo berupa goresan sederhana berbentuk bulan dan matahari ditengahnya.

“Sebentar,” Yogha akhirnya menyahuti obrolan kami, “seminggu sebelum beliau apa tadi katamu?”

“Hilang,” jawab Diva pelan sambil memandangi kami semua satu persatu.

“Kapan?”

“Enam bulan yang lalu.”

“Sampai sekarang beliau masih belum ditemukan?”

“Belum.”

Ranny, yang ketika Diva bercerita tentang hilangnya pamannya tiba-tiba berlutut di sisi lain podium kayu yang menopang kotak kaca di depan kami, kemudian bangkit berdiri.

“Nama pamanmu bukan Arya Suryadharma kan?” tanya gadis berambut panjang itu.

Diva tampak terkejut setengah mati.

“Lho, itu memang nama pamanku!” serunya, “kamu tahu nama itu darimana?”

Gadis bertubuh tinggi besar itu tidak menjawab. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, dan dengan matanya, ia melirik, menunjuk sesuatu di depan posisi ia berdiri. Sesuatu dibawah kotak kaca. Sesuatu yang, sepertinya menempel di podium kayu yang menopang kotak kaca itu.

Dengan cepat, Diva berputar posisi dan sudah berdiri disamping Ranny. Teman kami lalu berlutut di sisi podium, dan kamipun mengikutinya. Tepat di sisi samping podium kayu yang menopang kotak kaca itu terpasang sebuah emblem berwarna keemasan dengan sebuah nama terukir diatasnya.

Arya Suryadharma

“Ke-kenapa na-nama pamanku terpahat disini…?” Diva merinding ketakutan sambil matanya membelalak lebar, menatap kami semua satu persatu secara bergantian.

Sesaat setelahnya, pandangan Diva beralih dari emblem nama itu, ke kotak kaca berisi potongan tangan di dalamnya, lalu kembali lagi ke emblem nama. Aku tahu apa yang tengah dipikirkannya. Gadis itu tengah berusaha meyakinkan dirinya bahwa nama maupun potongan tangan di hadapannya bukanlah milik pamannya yang hilang enam bulan lalu.

Tanpa berkata-kata, Genzo tiba-tiba berbalik, dan mencoba menelusuri emblem-emblem yang berpahatkan nama-nama yang terpasang di sisi masing-masing podium. Berusaha mencari tahu bilamana ada nama yang dikenalnya. Kamipun refleks melakukan hal yang sama, menelusuri podium-podium yang tiak dilewati oleh Genzo.

“Kalian…,” tiba-tiba terdengar suara Yogha berbicara, “kalian ingat tentang seorang wanita, berusia 28 tahun, yang sempat terkenal di televisi nasional karena memenangkan acara kontes masak-memasak? Lalu namanya sempat naik lebih tinggi karena beberapa minggu setelahnya ia dinyatakan hilang, dan tak diketahui jejaknya sampai sekarang.”

Kami semua memandangi Yogha. Tak ada yang berkata apapun.

“Siapa nama wanita itu?” lanjutnya lagi.

“Karina Ibarra?” sahut Reza dengan datar dan tanpa ekspresi.

“Eh? Benar itu namanya?” seketika wajah Yogha menjadi pucat.

Sambil menyapukan padangannya kepada kami semua, jari telunjuk tangan kanannya menunjuk podium dengan kotak kaca di depannya. Kami langsung berlari menghampiri kotak kaca itu. Di dalamnya, bertengger potongan sebuah tangan kiri, dari ujung jari, sampai setinggi kira-kira sejengkal di atas pergelangan tangan. Kami lantas semua mengalihkan pandangan kami ke emblem berpahatkan nama yang terpasang di sisi kiri podium kayunya, dan membaca nama yang terpahat disana.

Karina Ibarra

“Karina Ibarra mungkin bukan nama yang sangat umum,” gumam Zico pelan sambil memandangi kami semua satu persatu, “tapi bukan berarti satu-satunya di negara ini kan? Maksudku… Mungkin saja… Namanya saja yang sama…”

“Apa nama acara masak-memasaknya itu?” tanya Ranny pada kami semua.

“Golden Chefs,” jawabku cepat.

“Logonya berbentuk huruf G dan C, dengan huruf C nya dibalik menghadap ke kiri, dan ada sebentuk mahkota diatasnya? Karina kidal kan? Dan rasanya ia sempat memasang tato berupa logo itu dibagian telapak tangan kirinya, beberapa hari sebelum ia diberitakan hilang.”

Kami semua spontan mengalihkan pandangan kami ke kotak kaca di hadapan kami. Tidak seperti potongan tangan di kotak kaca yang kami lihat sebelumnya yang diposisikan berdiri, potongan tangan di hadapan kami itu diposisikan merebah dan menelungkup. Karenanya kami hanya dapat melihat punggung tangannya, dan bukan telapaknya.

Yogha berusaha mengangkat kotak kaca itu dari podium kayunya, tapi sia-sia. Kotak kaca itu terkunci ke podium. Ia lalu mencoba menghantam kotak kacanya dengan menggunakan sikunya, bermaksud memecahkannya, tapi sia-sia. Namun, menyadari bahwa podium kayunya tidak dipaten ke lantai dan dapat digeser, Yogha lantas mendorong podium itu sehingga jatuh ke lantai. Kotak kaca diatasnya terbanting ke lantai dan pecah. Potongan tangan di dalanmya terguling keluar.

Tidak membuang-buang waktu, Yogha dengan cepat menghampiri potongan tangan yang jatuh telungkup itu dan membaliknya dengan menggunakan kakinya.

Kami akhinya melihat bagian telapak dari potongan tangan itu.

Tergambar di atas telapak tangan itu, sebuah logo berbentuk huruf G dan C, dengan huruf C nya dibalik menghadap ke kiri, dengan sebentuk mahkota diatas kedua huruf itu.

Logo Golden Chefs.

Seketika tubuhku merinding.

“Kalian masih yakin ini orang yang berbeda?” tanya Yogha.

“Aku sih tidak peduli! Ayo jalan lagi!” sahut Genzo dengan tegas, langsung berbalik dan melanjutkan perjalanan. “Lebih cepat kita keluar dari sini, lebih baik!”

Dengan tangkas dan tanpa banyak bicara, kami semua berjalan melewati kotak-kotak kaca yang berbaris di hadapan kami. Fokus kami hanya satu. Sebuah pintu kayu yang tampak beberapa meter di depan kami. Kalau pintu itu tidak membawa kami keluar, setidaknya masih akan membawa kami selangkah lebih dekat ke pintu keluar!

Genzo menekan kenop pintu yang berbentuk bulat itu, dan memutarnya ke arah kanan dengan perlahan. Terbersit sedikit kekhawatiran bahwa pintu itu terkunci. Namun nampaknya kami masih cukup beruntung. Pintu itu tidak terkunci!

Temanku itu membukanya lebar-lebar dan kami semuapun bergantian melewati pintu itu satu persatu.

Ruangan yang kemudian terpampang di hadapan kami berisi lorong yang penuh diapit oleh tembok-tembok tinggi yang tersusun scara acak, lurus maupun diagonal, menyerupai labirin. Meski nampak berliku-liku menyerupai labirin, lorong itu, sejauh yang kami lewati, tidak memiliki persimpangan. Kupikir aku cukup yakin bahwa lorong itu hanya berliku-liku saja, namun tetap berujung di satu tujuan. Kami tidak akan tersesat.

Atau… Benarkah demikian?

Sementara itu, tembok-tembok di kedua sisi lorongnya tersusun dari batu-batu kali berwarna gelap. Karenanya, tentu membuat suasanya ruangan itu menjadi suram. Yang menerangi ruangan itu hanya sebauh lampu spotlight yang ditembakkan ke arah tembok. Di satu tembok lurus hanya ada satu lampu spotlight. Jika lorongnya pendek, ruangan itu akan terasa cukup terang. Namun ketika lorongnya panjang, ruangan itu akan terasa lebih gelap.

Di beberapa tikungan awal, di kedua sisi hanya tampak tembok batu kali yang tinggi dan gelap saja. Tapi setelah beberapa tikungan terlewati, mulai ada sesuatu yang secara konsisten terpajang di sisi-sisi temboknya. Setiap beberapa tikungan sekali setelahnya, ada sebuah cermin berukuran raksasa setinggi ruangan itu, terpajang di salah satu sisi tembok.

“Cermin apa ini? Aneh sekali…,” gumamku ketika memandangi cermin besar itu.

Apa yang dipantulkan oleh cermin itu pada dasarnya adalah apa yang sewajarnya dipantulkannya. Pantulan bayangan diri kami, dengan latar tembok batu kali di seberangnya. Di belakang kami

Yang tampak tidak wajar adalah jarak pantulan bayangannya.

Meski kami berdiri tepat di depan cermin, dan bahkan telapak tanganku menempel ke permukaan cerminnya, tapi pantuln bayanganku tidak seperti berada persis dibalik cermin. Normalnya, ketika aku menempelkan telapak tangan kananku ke cermin, pantulan bayanganku akan menempelkan telapak tangan kirinya ke cermin, menempel ke telapak tanganku. Namun cermin itu tidak demikian adanya.

Meskipun posenya sama-sama tengah mengarahkan telapak tangan ke arah cermin, namun pantulan bayanganku seakan berdiri beberapa meter di belakang cermin. Beberapa meter! Bukan hanya satu atau dua, tapi pantulan bayanganku berdiri ada kira-kira sejauh lima meter di belakang cermin.

Jarak pantulannya jauh sekali.

“Efek apa yang bisa menyebabkan hal itu?” batinku.

Teman-temankupun seperti berusaha mencari tahu ada apa dengan cermin-cermin itu. Kami mencoba bergerak dan berpose. Pantulan bayangan kami melakukan persis yang kami lakukan, hanya saja posisinya berkebalikan.

“Ruangan pertama memajang patung-patung. Aku tidak tahu patung-patung apa itu. Lalu ruangan kedua memajang potongan tubuh dari orang-orang yang kita ketahui dilaporkan hilang sejak lama. Aku masih memahaminya. Ruangan-ruangan itu memajang objek-objek,” Zico berceloteh sambil kami melanjutkan perjalanan kami.

“Tapi ruangan ini…,” lanjutnya dengan nada bingung, “memajang cermin?”

“Memajang kalian,” sahut Reza pelan dan datar, tanpa menoleh sedikitpun.

“Hah?” sahutku, Zico, dan Diva kebingungan dengan maksud pernyataan Reza. Genzo tidak merespon apapun, namun wajahnya kelihatan tengah mengamati Reza dan saudara kembarnya, Ranny. Sesuatu tentang mereka masih mengganggu pikirannya.

“Ruangan ini memajang kalian,” ulangnya sambil menoleh kembali ke belakang, karena saat itu ia yang berjalan paling depan. Namun ketika ia menoleh itu, aku melihat Reza seperti samar-samar menyeringai. Aku semakin merasa ada yang tidak beres dengannya.

“Masuk akal,” sahut Zico, “tapi, maksudmu ‘memajang kita’? Kamu juga termasuk.”

“Nggak,” sahut Reza dengan ketus dan misterius. “Cermin-cermin itu hanya akan memajang kalian saja. Aku tidak ikut-ikut,” tambahnya sambil kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan.

“Hanya ‘akan’?” batinku, “‘akan’??”

“Apa maksudmu ‘akan’?” aku akhirnya memberanikan diri mengomentarinya dengan ketus juga, “cermin-cermin itu SEDANG memajang kita semua.”

“Yah, terserah kaulah, cantik!” sahut Reza lagi dengan nada ketus dan mengesalkan.

Sesaat kemudian, aku melihat si Kembar itu secara nyaris bersamaan mengangkat tangan mereka dan menyentuh sesuatu yang bergantung di leher mereka berdua. Sebuah kalung. Aku ingat bahwa keduanya mengenakan kalung dengan desain yang sama. Bentuknya agak random. Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Satu-satunya yang kuingat, bandul kalung mereka mengingatkanku pada simbol dreamcatcher.

Menit-menit perjalanan kami selanjutnya kami lalui dengan keheningan. Nyaris tidak ada berbicara sepatah katapun. Kalaupun ada yang saling berbicara, pembicaraan itu hanya antara satu orang pada satu orang lain. Bukan sebuah percakapan grup.

Tak lama kemudian, aku melihat Yogha, yang sebelumnya kuingat betul berjalan paling belakang bersama Diva, berlari melewatiku. Ia menyusul si kembar yang tengah berjalan paling depan.

Jantungku seketika berdegup kencang ketika tiba-tiba ada yang menggamit lenganku. Ketika aku menoleh ke belakang, ternyata Diva yang menggamit lenganku. Dan bahkan, ia seperti agak menahanku untuk berjalan lebih pelan. Nyaris seakan ia berusaha agar teman-teman yang lain agak sedikit lebih jauh dari kami.

“Sash,” panggilanya sambil berbisik cukup dekat ke telingaku.

“Apa sih tarik-tarik dan bisik-bisik? Biasa saja, kali!” protesku.

Kalimat pertanyaan Diva berikutnya membuat darahku seketika membeku.

“Ada yang aneh dengan si Kembar itu,” katanya. Aku telah menyadari bahwa ada yang aneh dengan si kembar itu. Di ruangan berisi kotak-kota kaca dengan potongan tubuh manusia tadipun Genzo menyiratkan bahwa ia mencurigai hal yang sama.

Dan sekarang, Divapun mempertanyakan hal itu.

“Aneh bagaimana maksudmu?” tanyaku sambil menurunkan kecepatan langkah kakiku mengikuti kecepatan langkah Diva.

“Si Kembar itu…,” kata-kata Diva tertahan, ia seperti hendak menyampaikan sesuatu, lalu berhenti dan mencoba menyusun kembali kata-kata yang akan diucapkannya.

“Kamu tahu kan dari tadi aku jalan di belakang sama Yogha?”

“Iya.”

“Aku sempat berbincang dengannya. Kau tahu aku suka berbicara. Yah, sebagai orang yang tidak saling kenal, aku membuka percakapan dengan materi yang sudah kuketahui, untuk kuulik lebih jauh. Soal hubungan persaudaraannya dengan si Kembar. Setahu kita, si Yogha adalah sepupu dari si Kembar itu kan.”

“Kata-kata terakhirmu aneh sekali,” sahutku sambil memandangi sahabatku itu lekat-lekat dengan kening berkerut, “dia memang sepupu si Kembar.”

“Siapa yang bilang kalau mereka sepupu?” tanya Diva dengan berbisik.

Aku tersentak. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang sekali.

Kalau kuingat-ingat ketika kami berkenalan dengan ketiga orang itu di teras museum, Reza lah yang memperkenalkan diri pada kami dan menjelaskan tentang hal itu. Bahwa Ranny adalah saudari kembarnya dan Yogha, yang pada saat itu tengah berada cukup jauh dari kami, tengah memeras pakaiannya yang agak basah dengan ditemani oleh Ranny, adalah sepupunya.

“Reza yang bilang,” jawabku.

“Iya, Reza yang bilang kalau mereka sepupu, kan? Bukan Yogha, kan?”

“Sebentar, sebentar,” sergahku, “masa kamu mau bilang kalau…”

“Seperti yang barusan kubilang,” kata Diva mulai menjelaskan, “ketika aku berjalan di belakang dengan Yogha, aku sempat berbincang dengannya. Dan topik pembukanya adalah hubungan persaudaraannya dengan si Kembar. Maksudku, si Kembar itu gelagatnya aneh sekali sejak tadi kan. Jadi kutanya, ‘sepupumu yang kembar itu memang gelagatnya sering aneh begitu ya?'”

Diva menghela nafas panjang, sebelum ia kembali melanjutkan.

“Jawaban Yogha kemudian, membuatku tercekat,” katanya, masih dengan berbisik, “‘mereka bukan sepupuku.’

Jantungku langsung berdegup lebih kencang dibandingkan sebelumnya. Rasanya nyaris seakan jantungku akan melompat keluar dari mulutku.

“Yogha tentu bertanya, siapa yang mengatakan bahwa mereka saudara sepupu? Ketika kujelaskan bahwa Reza yang mengatakannya, Yogha tampak makin kaget dan bingung,” Diva melanjutkan penjelasannya.

“Ia lalu bercerita padaku apa yang sebenarnya terjadi, menurut versinya. Yogha berkendara sendirian menggunakan mobilnya selepas menjenguk neneknya yang sakit. Lalu, di desa dekat sini, mobil Yogha mogok. Disanalah ia bertemu dengan Reza dan Ranny. Keduanya menghampirinya dan mengajaknya berbincang. Mereka mengaku menuju ke arah yang sama, dan menawarinya tumpangan sampai terminal bis terdekat. Merasa bahwa ia butuh segera pulang dan satu-satunya bengkel mobil di desa itu, menurutnya, tutup sampai seminggu kedepan, Yogha menerima tawaran si Kembar. Selanjutnya kau tahu, setibanya di depan museum ini, mobil si Kembarpun mogok. Entah mogok sungguhan atau diakal-akali.”

“Wow! Wow!” gumamku, “jadi, bukan hanya Reza berbohong bahwa ternyata mereka bukan sepupu, merekapun sebetulnya tidak mengenal satu sama lain sampai bertemu di desa dekat sini beberapa jam yang lalu?”

“Yep!” jawab Diva cepat.

“Tapi untuk apa mereka berbohong?”

“Nggak tahu, Sash! Kalau kuamati gelagat aneh mereka, bagiku, mereka kelihatan seperti pernah memasuki museum ini sebelumnya. Dan kalau memang hal itu benar, berarti ada kemungkinan, mereka sengaja mengajak Yogha hanya untuk membawanya masuk ke museum ini!”

“Wah, itu lebih aneh lagi!” sahutku, “untuk apa?”

“Nggak tahu juga! Tapi memang tadi Yogha sempat mau menghampiri Reza dan mempertanyakan alasannya menagaku-aku sebagai sepupunya. Tapi kutahan. Maksudku, aku mengamati bahwa si Kembar itu tampak seperti pernah memasuki museum ini, dan adanya kemungkinan bahwa mereka sengaja membawa Yogha kesini. Kalau kita salah langkah dan menyerangnya tanpa memahami situasi, aku khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa kita lebih cepat daripada yang seharusnya!”

“Lebih cepat dari yang seharusnya? Maksudmu kau yakin bahwa sesuatu yang buruk memang akan terjadi pada kita?” sahutku, masih dengan suara berbisik namun dengan nada suara meninggi.

“Kalau mau bicara kasarnya, sesuatu yang buruk itu SUDAH terjadi, Sash!”

Kalau kupikir-pikir, sahabatku yang penampilannya kelihatan seperti ugal-ugalan tapi sebetulnya cerdas itu ada benarnya juga.

“Walaupun kalau mau jujur, aku agak menyesalinya,” lanjutnya, “mungkin lebih baik tadi seharusnya kubiarkan saja Yogha mengkonfrontasi si Kembar. Toh jumlah kita jauh lebih banyak. Karena tak lama setelah itu, masalah lain terjadi.”

“Masalah lain, Div?” sahutku tak habis pikir, “masih ada lagi? Ya Tuhan!”

“Masih. Dan ini nampaknya lebih buruk,” jawabnya, ” beberapa saat yang lalu, Yogha tiba-tiba berlari melewatimu kan?”

“Hmm… Iya.”

“Beberapa saat sebelum ia berlari melewatimu, dia sempat menghilang.”

“Hah? Menghilang bagaimana?”

“Yogha sempat berjalan di belakangku. Lalu ketika aku menoleh ke belakang, dia tidak lagi ada disana. Yah, lorong ini berliku-liku, jadi kupikir ia hana sekedar tertinggal di tikungan lorong yang sebelumnya. Walapun, tetap aneh juga, setelah aku menahannya dari mengkonfrontasi Reza, ia berjalan tak jauh di belakangku. Kakinya lebih panjang dari kakiku, dan jalannya juga cukup cepat. Jadi tak mungkin ia tertinggal sejauh itu. Cukup lama ia menghilang, dan berkali-kali aku menoleh ke belakang, aku tidak melihatnya juga. Dan menyusulnya ke belakang ditempat seperti ini bukan pilihan yang bijak.”

“Ketika aku melihatnya lagi,” lanjut Diva, adalah ketika ia berlari melewatiku, tanpa berkata apapun. Lalu ia melewatimu, Zico, dan Genzo. Ia berjalan tepat di belakang si Kembar sampai beberapa saat yang lalu.”

“Dia akhirnya menyusul itu kabar baik kan?” tanyaku.

“Kabar baik,” jawab Diva, “kalau saja gestur dan semua yang menempel ditubuhnya tidak terbalik!”

“Terbalik??”

Diva tidak menjawab, ia hanya menunjuk Yogha dengan jarinya. Jelas terlihat bahwa logo Serigala berukuran besar yang tergambar di punggung kaosnya kini posisinya terbalik!

Aku yakin betul. Karena ia sempat berjalan persis di depanku, dan aku juga seorang mahasiswi desain, bahwa logo Serigala di punggung kaosnya, yang didesain tampak samping itu tadinya moncongnya menghadap ke arah kanan. Ketika aku melihatnya lagi setelah itu, moncong Serigalanya menghadap ke arah kiri.

“Selain kaosnya,” Diva menambahkan, “Sebelumnya Yogha memiliki luka goresan panjang di sepanjang tangan kirinya. Luka goresan itu sekarang berada di tangan kanannya.”

“Be-Berarti…??” mataku membelalak lebar, jantungku berdegup makin kencang.

“Aku nggak tahu! Dan aku nggak mau berspekulasi!” jawab Diva.

Ketika aku memandangi dan mengamati Yogha dari belakang, yang sekarang sudah berjalan di depan Reza dan Ranny, aku mengamati ekspresi si Kembar itu. Keduanya sempat kulihat saling berpandangan dengan ekspresi wajah yang aneh. Tersirat rasa panik, dan takut, tapi juga tersirat sebuah kesiapan. Seakan mereka sudah mengetahui bahwa sesuatu memang akan terjadi. Dan untuk kedua kalinya, aku melihat si Kembar itu mengangkat tangan mereka dan menyentuh bandul kalung mereka.

Di lorong berikutnya, aku dan Diva yang masih berjalan paling belakang kembali melewati satu cermin raksasa yang terpasang di sisi kiri tembok lorong itu. Aku tidak terlalu mengamatinya karena perhatianku terfokus pada Yogha dan si Kembar di depan kami.

Ketika aku sudah melewati cermin raksasa itu, aku kembali tersentak kaget ketika Diva tiba-tiba kembali menggamit lenganku dan menarikku dengan kasar. Diva tengah berdiri memandangi cermin raksasa yang seharusnya sudah kami lewati.

“Aduh! Kenapa sih? Pelan-pelan, dong!” protesku.

Pada saat itulah kulihat ekspresi kengerian di wajah sahabatku itu.

Ia melirik ke arahku, lalu, dengan biji matanya, ia memberi isyarat padaku untuk melihat ke arah cermin. Apa yang kulihat dibalik cermin itu membuatku tercekat. Bukan hanya bahwa aku tak melihat pantulan bayanganku dan Diva disana. Lebih dari itu, kami melihat sesuatu yang seharusnya tak terpantul disana.

Yogha.

Hanya aku dan Diva yang saat itu tengah berdiri di depan cermin. Cermin itu tidak memantulkan bayangan kami. Tetapi cermin itu menampakkan sosok Yogha, yang seharusnya sedang berjalan di lorong mendahului kami bersama teman-temn yang lain. Yogha di dalam cermin itu berdiri sekitar lima meter di belakang cermin, namun dari gesturnya, ia tampak seperti tengah berusaha menggedor-gedor kaca dengan ekspresi wajah penuh teror.

Dari gerak bibirnya yang kubaca, ia mengatakan, dan mengulang-ulang satu kata.

“Tolong!”

Aku dan Diva tidak tahu harus berbuat apa. Kami hanya gelagapan karena panik dan ketakutan. Namun sesaat kemudian, kami melihat sosok Yogha di balik cermin menoleh ke arah kiri. Ia terlihat terkejut. Seakan-akan ia tengah melihat sesuatu yang menakutkan tengah mengejarnya, sebelum akhirnya kami melihatnya berlari ketakutan ke sisi kanan cermin, keluar dari batas pandangan kami. Kami tidak melihatnya lagi.

Tanpa berkata sepatahpun, Diva menarik tenganku dan berlari menyusul teman-teman yang lain. Kami memutuskan untuk berbisik menyampaikan pada Zico dan Genzo, apa yang baru kami alami dan temukan. Kami tidak ingin si Kembar dan juga Yogha yang lain, atau apapunlah itu, mendengarnya.

“Oh! Itu dia!” seru Genzo dengan agak berbisik, “aku sekarang ingat dimana aku melihat di Kembar itu sebelumnya!”

“Dimana?”

“Di desa yang dekat sini,” jawab Genzo. “Sebelum kita tiba disini, kita sempat berhenti sejenak di sebuah desa kan?” jelasnya, “nggak turun dari mobil sih. Cuma bertanya arah jalan. Yang bertanya kan Sasha yang duduk di sisi kiri kan. Nah, sambil mendengarkan pembicaraan Sasha dan salah satu warga itu, mataku berkeliaran ke sisi kanan jalan. Aku melihat si Kembar itu disana. Kenapa aku sempat cukup mengingatnya? Dari jarak kita dengan mereka, aku tak bisa mendengar apa-apa, posisi mereka di seberang jalan. Tapi aku memperhatikan ekspresi dan gestur mereka ketika berkomunikasi satu sama lain. Mereka kelihatan seperti tengah berusaha merencanakan sesuatu pada seseorang. Kau tahu, seperti ketika seorang preman tengah mengincar mangsa.”

“Aku sempat mencari-cari sekeliling, dan melihat orang lain di seberang sana. Seseorang yang nampaknya tengah kesal karena mobilnya mogok. Tapi aku tidak bisa melihat orang yang satu lagi dengan jelas karena posisinya agak membelakangiku.”

“Apakah tu Yogha?” tanyaku.

“Entahlah. Aku tidak melihat dengan jelas. Tapi nampaknya demikian.”

Sesaat kemudian, kepalaku refleks menoleh kembali ke arah depan, seperti secara instingtif menyadari ada seseorang yang tengah mengamatiku. Dan benar saja, Reza dan Ranny tengah menoleh ke belakang ke arah kami. Sesaat setelah aku menoleh ke depan dan menyadarinya, mereka langsung berpaling kembali sambil memegangi bandul kalung mereka yang menyerupai simbol deamcatcher itu.

Anehnya, saat itu ekspresi keduanya terlihat sangat tidak enak. Tapi perasaanku mengatakan bahwa ketidakenakan itu bukan ditujukan pada kami, namun justru pada sesuatu yang sudah, atau akan berada di depan mereka.

Lorong panjang menyerupai labirin yang gelap itupun akhirnya berakhir, diujungnya terlihat cahaya terang yang menyilaukan. Pandanganku memutih seluruhnya, nyaris tak dapat melihat apa-apa karena mataku masih menyesuaikan transisi dari kondisi gelap gulita ke kondisi terang benderang.

“Patung??” gumamku ketika mataku mulai dapat melihat sekelilingku.

Di depan kami terbentang sebauh ruangan luas. Jauh lebih luas dibandingkan ruangan berisi kotak-kotak kaca yang memajang potongan tubuh sebelumnya. Ruangan di depan kami itu penuh berisi patung-patung yang kaki-kakinya terpahat menyatu dengan podiumnya. Bentuk patungnya agak surealis. Nyaris seluruh bagian patungnya rapat, namun di beberapa bagian tubuhnya bentuknya berulir-ulir seperti kulit jeruk yang dikupas secara spiral. Dan posisi dimana bentuknya berulir itu berbeda pada setiap patung, ada yang di kaki kiri, ada yang di tangan kanan, ada yang di leher, perut, atau dada.

Bahan dasar patung-patung itupun, sejauh yang kuamati nampaknya bervariasi.

Ada patung yang tebruat dari kayu, ada yang terbuat dari keramik, dan ada yang terbuat dari logam.

Aku, Genzo, Diva, dan Zico berjalan mengikuti arah langkah si Kembar. Reza dan Ranny berjalan menyusuri jalur yang berisi jajaran patung-patung yang berdiri secara acak di ruangan itu. Namun tampaknya, mereka tidak memilih jalur itu juga secara acak. Sebelum memutuskan apakah akan lurus, atau ke kiri, ataupun ke kanan di persimpangan antara patung-patung, keduanya kelihatan seperti mengamati sesuatu terlebih dahulu. Entah apa yang mereka amati.

“Gha? Mau kemana, hey?” seru Zico pada Yogha yang tiba-tiba berjalan mengambil arah yang sama sekali berlawanan denagn arah yang diambil oleh si Kembar. Yogha tidak menggubris, ia terus berjalan membelakangi kami. Bahkan menolehpun tidak.

“Yogha! Oi!” seru Zico sambil berbalik dan berniat menyusul Yogha.

Entah bagaimana, Reza yang awalnya berjalan paling depan, sudah berada di dekat Zico yang saat itu berada paling belakang di dalam barisan karena berniat menyusul Yogha.

“Biarkan saja!” kata Reza sambil menggamit lengan Zico dan sedikit menariknya, sebagai isyarat untuk kembali melanjutkan perjalanan.

“Biarkan saja? Itu sepupumu kan?” gerutu Zico dengan kesal.

“Sudah, biarkan saja. Kita tidak punya waktu,” sahut Reza cepat.

Tepat saat itu juga aku mendengar suara Ranny menjerit histeris sangat keras. Aku yang sebelumnya menoleh ke belakang, mengamati Reza dan Zico, langsung mengalihkan pandanganku kembali ke depan. Aku melihat sesuatu yang menakutkaku.

Di depan sana, aku melihat lengan Ranny tiba-tiba telah dicengkeram oleh salah satu patung yang terbuat dari keramik. Ranny berusaha memberikan perlawanan dan menarik tangannya ke arah berlawanan, namun sia-sia. Patung keramik itu sangat kuat, dan ia berusaha menarik tubuh Ranny lebih dekat ke arah tubuh keramiknya. Genzo dan Diva yang berada di belakang Ranny, turut membantu gadis itu menarik tubuhnya menjauh dari patung keramik yang mencengkeramnya. Meski Genzo berusaha memukul-mukul dan menendang-nendang pautung keramik itu, tetap tak ada hasil. Sia-sia.

“SIALAAANN!!” kudengar Reza menggeram kesal sambil berlari melewatiku.

Dari belakang, aku dapat melihatnya menyingkap bagian belakang kaosnya, dan mengambil sesuatu yang diikatnya dipinggangnya. Sesuatu yang menyerupai tongkat berukuran kecil.

Sambil berlari mendekati saudari kembarnya, Reza menarik tongkat kecil itu dari bagian belakakang celananya, menggenggamnya di kedua ujungnya dan menariknya ke arah berlawanan secara bersamaan. Akibatnya tongkat kecil yang tebruat dari logam itu menjadi berukuran tiga kali lebih panjang dibanding sebelumnya.

Dengan cepat, Reza mengayunkan tongkat besi itu ke arah lengan patung yang terbuat dari keramik itu. Lengan keramik yang berulir itupun patah. Dengan segera, cengkeraman patung itupun terlepas dari lengan Ranny.

“LARI! IKUTI KAMI! CEPAT!” seru Reza lantang sambil menggamit lengan saudari kembarnya, membawanya lari, sambil melirik ke arah kami. Kami tidak tahu apa yang sebetulnya baru saja terjadi, kami hanya berlari, dan berlari ke arah dimana si Kembar itu menuju.

Sementara kami berlari, patung-patung yang kami lewati mulai bergerak satu-persatu, masing-masing berusaha meraih dan mencengkeram kami.

“Sialan! Kita dibodohi! Seharusnya aku tahu itu! Sial! Sial!” Reza memaki-maki sambil terduduk ketika kami akhirnya tiba di ssebuah sudut ruangan yang tidak terdapat satupun patung di dekatnya. Patung terdekat dari posisi kami berjarak tiga meter di belakang. Aku menoleh ke belakang dengan ketakutan, berpikir bahwa patung-patung itu akan mengejar kami. Tapi tidak. Tangan-tangan mereka masih bergerak menggapai-gapai, namun mereka tidak turun dari podiumnya.

“Jangan khawatir,” kata Reza menenangkanku, “patung-patung itu tidak bisa turun dari podiumnya dan mengejar kita kesini.”

“Masalahnya,” sahut Ranny dengan kesal sambil, bersamaan dengan Reza, menarik bandul kalungnya hingga putus dan melemparnya jauh-jauh, “untuk menuju pintu keluar berikutnya, kita masih harus berlari melewati mereka lagi.”

“Oke!” seru Genzo akhirnya, “kalian ini sebenarnya siapa sih?!”

“Dari kata-kata kalian barusan, nampaknya kalian jelas pernah berada di tempat ini sebelumnya,” kataku menambahkan.

Si Kembar itu saling bertatapan satu sama lain.

“Kami pernah memasuki museum ini sebelumnya,” jawab Reza, “satu kali.”

“Kalian ada hubungannya dengan museum aneh ini?” tanya Diva.

“Tidak ada,” jawab Reza singkat, ia masih tampak sangat kesal karena sesuatu hal, yang kami belum mengerti apa sebabnya.

“Tidak ada,” sahut Ranny menambahkan sambil terengah-engah, “selain bahwa kendaraan kami juga sempat mogok di depan museum ini sebelumnya. Kami masuk ke dalam sini untuk numpang berteduh, seperti juga yang kalian lakukan. Tapi lalu kami kehilangan orang tua kami di dalam sini. Jadi kami harus kembali. Kami tidak bisa meninggalkan mereka.”

“Hah? Kehilangan bagaimana? Orang tua kalian tersesat di dalam sini?” tanyaku.

“Orang tua kami diambil oleh kekuatan magis aneh di museum ini. Yah, seperti yang terjadi pada Yogha. Hanya saja bedanya, tidak ada pantulan yang melompat keluar,” kata Reza menjelaskan.

“Za, kalau menurutku ya,” Ranny tiba-tiba menengahi kata-kata saudara kembarnya, “kita jelas sudah dibohongi oleh warga desa sialan tadi itu. Dan untuk keluar dari sini, kita membutuhkan bantuan sebanyak mungkin. Kali sebelumnya kita lolos adalah sebuah keberuntungan. Dan mereka tidak akan membantu kita kalau kita tidak menceritakan yang sebenarnya.”

“Cerdas!” gumam Genzo sambil mendengus.

Reza memandangi kami satu persatu, sebelumnya akhirnya mulai bercerita.

“Kami terdampar di museum ini persis sehari sebelumnya. Bersama orang tua kami. Kendaraan kami mogok, dan orang tuaku mulai kelelahan duduk di dalam mobil. Kami memutuskan untuk masuk ke dalam museum. Numpang berteduh, mungkin berbaring, siapa tahu ada makanan juga. Tapi seperti yang kalian lihat sendiri, museum ini kosong. Tidak ada manusia lain. Segera setelah kami memasuki pintu depan, pintu itu mengunci dengan sendirinya. Kami tidak punya pilihan lain selain berjalan menembus bangunan museum, mencoba mencari pintu keluar lain. Sejujurnya, kami masih berharap bertemu dengan penjaga museum. Tapi tidak. Tidak ada siapapun.

“Melewati lorong gelap berisi patung-patung yang menempel di tembok, kami tidak berpapasan dengan hal-hal aneh. Entah itu untung atau sial namanya. Pun ketika melewati ruangan berisi kotak-kotak kaca dengan potongan tubuh manusia di dalamnya.

“Sesuatu yang aneh mulai terjadi ketika kami melewati lorong labirin yang gelap dengan cermin berukuran raksasa itu. Pantulan bayangan ayahku dicermin tiba-tiba menjulurkan tangannya keluar dari cermin dan menarik ayahku masuk ke dalam. Panik, kami berlari membawa ibu kami, sampai ke ruangan patung surealistik ini. Sekali lagi, seperti yang terjadi pada Ranny, salah satu patung mencengkeram lengan ibu kami dan menariknya ke arah tubuhnya. Patung yang menarik ibu kami terbuat dari logam. Apapun yang kami coba lakukan untuk berusaha melepaskannya, sia-sia saja. Sampai akhirnya tubuh ibu kami diserap habis oleh patung logam itu.

“Disitu kami menyadari sesuatu. Segera setelah patung itu selesai menyerap ibu kami, salah satu uliran di bagian kakinya tiba-tiba memadat. Hanya menyisakan satu bentuk uliran di lengan kanannya. Dengan cepat kami mengamati bahwa patung-patung itu terbuat dari material yang berbeda-beda, dan memiliki jumlah uliran yang berbeda-beda di bagian tubuh mereka. Mungkinkah patung-patung yang tidak memiliki, atau hanya memiliki satu uliran berpeluang lebih kecil untuk mencengkeram dan menyerap orang?

“Kami berdua adalah atlet. Butuh perjuangan dan ketelitian dalam memilih jalur, tapi kami akhirnya dapat berlari melewati patung-patung itu dengan selamat, menghindari lengan-lengan mereka yang berusaha mencengkeram kami dan mencapai pintu keluar di ujung sana.”

“Kalian meninggalkan orang tua kalian begitu saja disini?” seruku.

“Hei! Jangan bicara sembarangan!” seru Ranny dengan kesal, “memangnya apa yang kalian pikir bisa kalian lakukan untuk menyelamatkan orang tua kalian jika kalian berada dalam posisi kami?”

“Selain itu,” kata Reza menambahkan, “Kalau kami terjebak di dalam sini, siapa yang akan menolong orang tua kami? Tidak ada. Kami harus bisa keluar dari sini, mencari cara menyelamatkan mereka, dan baru kembali lagi.”

“Yah, masuk akal sih,” gumam Zico pelan.

“Segera setelah kami keluar dari sini dan kembali ke mobil, mobil kami sudah dapat kembali menyala,” kata Reza melanjutkan ceritanya, “tentu hal pertama yang terpikir oleh kami adalah mencari desa terdekat, dan bertanya pada warganya, apakah mereka tahu perihal museum ini? Apakah mereka mengetahui cara menyelamatkan orang tua kami? Melanjutkan perjalanan, kami tidak tahu apakah ada desa di depan sana. Jadi kami pikir, lebih bijaksana untuk berputar haluan, kembali ke desa yang sempat kami lewati. Sudah jelas ada orang disana kan.”

“Warga desa sana berkata pada kami bahwa semua desa sekitar sini mengetahui tentang museum ini,” sambung Ranny, menyadari saudara kembarnya mulai kehabisan nafas, “sederhana saja, daerah sini sarat pegunungan dan hutan-hutan. Kekuatan magisnya kuat sekali. Karena itu orang-orang kaya di desa-desa, dengan bantuan para pakar ilmu magis dan supranatural sekitar sini membangun museum yang megah dan menarik ini.

“Tujuan dibangunnya museum magis ini adalah mengumpulkan sebanyak mungkin sosok-sosok magis di daerah ini ke dalam museum, agar tidak mengganggu desa-desa disekitarnya. Dan untuk mempertahankan mahluk-mahluk itu tetap di dalam, mereka memancing para pelancong yang lewat. Setiap kali ada kendaraan lewat, kendaraan itu pasti tiba-tiba mogok, dan cuacapun langsung hujan dengan derasnya tanpa henti. Memaksa para pengendara untuk turun dari kendaraan mereka dan memasuki museum untuk numpang berteduh, atau bertanya arah jalan.

“Kami kesal dan marah. Maksudku, orang tua kami telah jadi korbannya. Tapi kurasa, kami tidak bisa protes juga kan? Di negeri ini, hal-hal klenik macam ini masih banyak terjadi. Dan tidak jarang, menumbalkan beberapa orang asing masih menjadi solusi untuk menyelamatkan lebih banyak warga desa.

“Ketika kami bertanya apakah ada cara untuk kami dapat menyelamatkan orang tua warga desa hanya berkata bahwa kami dapat mengambil satu jiwa keluar dari museum, dengan membawa masuk dan memerangkap 13 jiwa lain. Kami harus mengorbankan 26 orang untuk dapat menyelamatkan kedua orang tua kami.

“Kalian pasti akan tetap menyalahkan dan memaki-maki kami, tapi aku yakin, jika kalian berada di posisi yang sama dengan kami, kalianpun akan melakukan apa yang kami lakukan!”

Aku, Genzo, Diva, dan Zico saling berpandangan. Ekspesi kami pasti menyiratkan bahwa suka atau tidak, kami setuju dengan pernyataan terakhir yang diucapkan Ranny.

“Lalu, Yogha?” tanya Zico.

“Kami bertemu dengannya di desa itu hari ini. Mobilnya mogok. Meski kami tidak suka, kami harus menjadikannya salah satu dari 26 korban untuk menggantikan orang tua kami,” jawab Reza.

“Ketika kalian melihat mobil kami mogok di depan museum, kalian pasti cukup senang karena bisa mendapatkan ekstra empat orang di hari yang sama,” ucap Diva dengan nada sarkastik.

“Yah, harus kuakui…,” sahut Reza.

“Eh, tapi… Bandul itu?” tanyaku sambil menunjuk ke arah bandul yang mereka lempar tadi.

“Itu bandul pemberian warga desa tadi,” jawab Ranny, “mereka bilang, bila kami mengenakan bandul itu, mahluk-mahluk magis di museum ini tak akan mengganggu kami. Faktanya, kalian lihat sendiri salah satu patung itu mencengkeram lenganku juga.”

“Kelihatannya mereka memberikan bandul itu sebagai alat untuk lebih meyakinkan kami untuk kembali masuk ke dalam museum. Kalian tahu, agar kami juga jadi korban, dan sebagai gantinya, menyelamatkan mereka dan desa-desa lain dari gangguan mahluk-mahluk magis itu,” Reza menambahkan.

“Berarti kalian mengambil jalur tadi dengan memilih jenis bahan dasar patung dan jumlah uliran di tubuh patungnya kah?” tanyaku.

“Yep” jawab si Kembar bersamaan.

“Eh, tapi sekarang Yogha bagaimana?” tanya Zico.

“Yogha yang tadi bersama kita di ruangan ini, adalah pantulan bayangan yang melompat keluar. Jadi tidak perlu dikhawatirkan. Kecuali jika kita berpapasan lagi dengannya,” jawab Reza, “kalian bisa bilang aku jahat. Terserah. Tapi saat ini, aku tidak terlalu peduli dengan Yogha yang asli. Toh dia sudah ada di balik cermin, tak ada yang bisa kita lakukan juga.”

“Kalian tahu jalan keluar dari sini?” tanya Genzo.

“Yep!”

“Masih ada ruangan lain setelah ini?”

“Ada satu. Tapi serupa ruangan dengan kotak kaca yang memajang potongan lengan manusia. Tidak berbahaya. Yah, setidaknya tidak berbahaya ketika kami melewati ruangan itu sebelumnya.”

Sesaat kemudian, kami mulai berdiri dan bersiap-siap untuk berlari melewati jejeran patung-patung magis tadi lagi. Kali ini, mencoba mencapai pintu keluar. Setelah memberikan aba-aba, si Kembar berlari di depan kami, sambil mengamati jalur-jalur yang aman, dan menyusurinya. Kami berempat berlari mengikuti di belakang mereka, sambil tetap waspada jika ada patung-patung yang berusaha mencengkeram kami. Hanya dalam waktu singkat, kami mencapai pintu yang membatasi dengan ruangan selanjutnya. Ruang terakhir, menurut di Kembar, sebelum akhirnya kami bisa keluar dari museum sialan ini.

Ruangan terakhir itu berisi tabung-tabung raksasa yang di dalamnya berisi cairan kusam dan aneh berwarna kehijauan dan berpendar-pendar. Di dalam cairan itu seperti terdapat sebuah sosok. Posturnya seperti manusia, tapi tidak jelas, hanya berupa siluet, karena terhalang cairan kusam yang aneh itu.

Tak banyak bicara, kami terus berlari mengikuti si Kembar, sampai akhirnya kami mencapai pintu berikutnya. Pintu terakhir. Ketika pintu itu terbuka, kami kembali melihat langit biru yang cerah dan rumput-rumput hijau.

“Lho? Sudah pagi? Jam berapa ini?” seruku panik.

Aku yakin betul, ketika kami memasuki museum magis itu, hari baru saja menginjak malam, dan rasa-rasanya kami hanya berada di dalam sana selama beberapa jam saja. Aku cukup yakin, seharusnya bahkan belum sampai lewat tengah malam!

“Sudah terlalu banyak hal yang aneh terjadi padaku hari ini. Aku tidak peduli sekarang jam berapa dan sudah berapa lama kita di dalam sana. Yang penting hanya satu: kita sudah berhasil keluar!” jawab Zico dengan nada agak ketus sambil melanjutkan langkahnya kembali menuju lokasi dimana kendaraan kami terparkir.

Zico benar. Teror yang kami alami di dalam membuat kami tidak seharusnya membuang lebih banyak waktu. Kami harus secepatnya menjauh dari museum aneh itu, sebelum sesuatu yang lebih mengerikan bisa saja terjadi. Kami berempat kembali ke mobil kami, yang ternyata mesinnya sudah dapat kembali menyala. Setelah kami berempat masuk kembali ke mobil, Genzo menginjak pedal gas, dan melanjutkan perjalanan. Kami melewati mobil si Kembar di depan kami, yang nampaknya juga sudah menyala.

“Kalian akan pulang, atau masih akan tetap disini mencoba menyelamatkan orang tua kalian?” tanya Genzo dari jendela kemudi ketika mobil kami melewati mobil si Kembar.

“Kami akan pulang dulu,” jawab Ranny yang duduk di kursi penumpang di sisi sebelah kiri mobilnya. “Kami harus mencari cara yang benar untuk dapat menyelamatkan orang tua kami, baru kembali lagi kesini.”

“Aku rasa begitu lebih baik,” sahutku dari dalam mobil, “semoga kalian bisa segera mendapatkan caranya ya.”

“Kalian juga,” kata Ranny, “jangan kembali lagi kesini.”

Kamipun pamit, dan Genzo kembali menginjak pedal gasnya. Kami melanjutkan perjalanan pulang kami.

Entah apa yang merasukiku, aku tiba-tiba terpikir untuk kembali menoleh ke belakang, melihat kembali mobil si Kembar lewat jendela belakang mobil.

Disitulah aku melihat sesuatu yang, menurutku, tidak wajar.

Ketika kami pamit, si Kembar sudah duduk di dalam mobil, dalam kondisi mesin mobil menyala. Seakan merekapun sudah siap untuk kembali melanjutkan perjalanan. Tapi ketika aku menoleh ke belakang itu, aku melihat keduanya sudah keluar lagi dari dalam mobil. Keduanya nampak berdiri berdampingan di tepi jalan, di sisi kiri mobil, memandangi ke arah mobil kami yang semakin jauh meninggalkan mereka.

Di sisi kanan mobil adalah hutan-hutan yang lebat. Lalu, sesaat setelah aku melihat si Kembar berdiri di tepi jalan sambil memandangi kami, aku melihat ada tiga sosok lain melangkah keluar dari dalam hutan, dan lalu berdiri di samping si Kembar itu.

Aku tidak dapat melihat dengan jelas seperti apa tiga sosok lain yang baru saja melangkah keluar dari dalam hutan itu, karena jarak mobil kami dengan mereka sudah terlampau jauh. Sebelum Genzo membelokkan mobil di tikungan berikutnya di depan kami, aku masih sempat melihat si Kembar itu, bersama tiga sosok lain tadi, justru malah melangkah masuk ke dalam hutan, di sisi kanan jalan.

“Kenapa, Sash?” tanya Diva kepadaku, yang masih menoleh ke belakang.

“Nggak,” jawabku pelan, “nggak apa-apa.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: